Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Makanan Kaleng Menggembung, Jangan Langsung Dimakan! Ini Alasannya
ilustrasi makanan kaleng (magnific.com/magnific)
  • Kaleng makanan yang menggembung dapat menandakan terbentuknya gas akibat mikroorganisme atau reaksi kimia, sehingga perubahan bentuk kemasan perlu diwaspadai.
  • Isi makanan dalam kaleng menggembung belum tentu menunjukkan perubahan warna, aroma, atau rasa; karena itu, jangan membuka, menekan, mencium, maupun mencicipinya.
  • Sebelum membeli dan menyimpan, periksa kondisi fisik kaleng seperti menggembung, bocor, berkarat parah, atau penyok berat; pilih kemasan utuh dan buang produk rusak dengan tepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau lihat makanan kaleng dengan bagian atas atau bawah yang menggembung, mungkin kamu langsung bertanya-tanya, “Ini masih aman dimakan atau sebaiknya dibuang, ya?” Sekilas memang terlihat seperti masalah kemasan biasa, apalagi kalau isi di dalamnya belum dibuka dan tanggal kedaluwarsanya masih lama. Namun, kaleng yang menggembung bisa menjadi tanda adanya perubahan atau kerusakan pada isi makanan yang perlu diperhatikan, lho.

Kaleng yang sudah menggembung sebaiknya gak dianggap sebagai perubahan kemasan biasa, karena kondisi ini bisa menandakan adanya masalah pada makanan di dalamnya. Yang bikin tricky, makanan yang sudah terkontaminasi belum tentu terlihat, tercium, atau terasa berbeda, lho. Nah, sebelum buru-buru membuka atau mencicipinya, yuk cari tahu kenapa makanan kaleng bisa menggembung dan apa yang sebaiknya dilakukan.

1. Kaleng menggembung bisa jadi tanda makanan bermasalah

ilustrasi membuka makanan kaleng (magnific.com/magnific)

Pernahkah kamu melihat kaleng makanan yang bagian atas atau bawahnya menggelembung? Kondisi ini dapat terjadi ketika gas terbentuk di dalam kaleng, misalnya akibat aktivitas gas atau reaksi kimia tertentu. Karena kaleng seharusnya tersimpan dalam keadaan tertutup rapat, perubahan bentuk seperti ini harus diperhatikan dengan serius, lho.

Masalahnya, kita tidak selalu dapat mengetahui apa yang terjadi di dalam kaleng hanya dengan melihat luarannya. Kalau pembengkakan disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme, makanan di dalam kaleng mungkin sudah mengalami perubahan dan bisa terkontaminasi. Oleh karena itu, alih-alih langsung membukanya, lebih baik anggap kaleng yang membengkak sebagai peringatan untuk lebih berhati-hati.

2. Penyebab kaleng menggembung gak selalu sama

ilustrasi menyimpan makanan kaleng (pixabay.com/heberhard)

Kaleng dapat menggembung akibat gas yang terbentuk di dalam kemasan, dan salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi gas. Hal ini bisa terjadi ketika proses pengolahan atau penyimpanan makanan gak berjalan dengan baik. Kerusakan pada kemasan juga bisa memicu perubahan pada makanan di dalamnya.

Selain itu, reaksi kimia antara makanan dan permukaan dalam kaleng juga dapat menghasilkan gas sehingga kemasan tampak menggelembung. Jadi, gak semua kaleng yang membesar secara otomatis disebabkan oleh satu jenis kontaminasi tertentu. Meski terdapat banyak kemungkinan penyebab, perubahan bentuk kaleng harus tetap dianggap sebagai tanda yang tak boleh diabaikan.

3. Makanan di dalamnya belum tentu terlihat rusak

ilustrasi sarden kaleng (magnific.com/magnific)

Saat menemui kaleng yang menggembung, muncul keinginan untuk membukanya dan memeriksa apakah makanan di dalamnya tampak baik-baik saja. Namun, penampilan makanan yang terlihat normal saja gak cukup untuk menjamin keamanannya. Beberapa mikroba berbahaya gak selalu menyebabkan perubahan mencolok dalam warna, aroma, atau rasa makanan.

Inilah alasan mengapa mencicipi sedikit untuk "memastikan" justru bukan tindakan yang tepat. Selain itu, mencium bau makanan juga tidak bisa dijadikan satu-satunya cara untuk mengevaluasi apakah produk itu aman untuk dimakan. Kalau kemasannya sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan, lebih baik untuk tidak mengambil risiko hanya karena isi di dalamnya tampak baik.

4. Kaleng menggembung sebaiknya gak dibuka sembarangan

ilustrasi tuna kaleng yang masih terendam minyak atau air (freepik.com/azerbaijan_stockers)

Apabila menemukan kaleng makanan yang menggembung, rusak, bocor, atau mengeluarkan cairan saat dibuka, sebaiknya jangan langsung mengonsumsinya. Perubahan bentuk kemasan menunjukkan adanya masalah yang harus diwaspadai, sehingga lebih aman untuk tidak memakannya. Jangan pernah mencoba untuk mencicipi meskipun hanya untuk memastikan rasanya masih enak.

Selain itu, hindari membuka atau menekan kaleng yang membengkak hanya untuk melihat isi di dalamnya. Kalau kemasan terlihat tidak baik, tindakan yang lebih bijaksana adalah mengikuti petunjuk pembuangan yang tepat dan memastikan makanan tersebut gak dikonsumsi oleh orang lain. Memang terasa sayang untuk dibuang, tetapi keselamatan lebih tetap lebih penting, kan?

5. Cek kondisi kaleng sebelum membeli dan menyimpannya

ilustrasi jenis-jenis tuna kaleng (pixabay.com/Joenomias)

Kebiasaan mengecek kemasan sebelum membeli sebenarnya sederhana, tetapi sering dilewatkan karena perhatian kita lebih tertuju pada merek atau tanggal kedaluwarsa. Perhatikan apakah kaleng terlihat menggembung, bocor, berkarat parah, penyok berat, atau mengalami kerusakan lain pada bagian kemasannya. Kalau sudah terlihat gak normal sejak di rak, sebaiknya pilih produk lain yang kemasannya masih dalam kondisi baik.

Setelah dibeli, simpan makanan kaleng sesuai petunjuk di kemasan dan letakkan di tempat yang gak mudah membuat kaleng rusak. Jadi, jangan cuma mengandalkan tanggal kedaluwarsa, karena kondisi fisik kaleng juga perlu dilihat, lho. Nah, kalau kemasannya mulai menggembung, bocor, atau terlihat gak wajar, sebaiknya jangan dipaksakan untuk dikonsumsi.

Makanan kaleng yang menggembung memang gak selalu terlihat mencurigakan dari isinya, tetapi kondisi kemasannya tetap perlu jadi perhatian. Daripada mengambil risiko dengan membuka atau mencicipinya, lebih baik pilih makanan kaleng yang kemasannya masih utuh dan dalam kondisi baik, lho. Nah, mulai sekarang, jangan cuma cek tanggal kedaluwarsa, tetapi lihat juga kondisi kalengnya sebelum dikonsumsi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article