Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Membedakan Gejala Nyata dan Health Anxiety, Jangan Salah Kaprah

5 Cara Membedakan Gejala Nyata dan Health Anxiety, Jangan Salah Kaprah
Ilustrasi cemas (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
  • Health anxiety adalah kondisi ketika seseorang terlalu khawatir terhadap kesehatannya meski tanpa bukti medis, dan gejalanya sering terasa nyata seperti penyakit fisik.

  • Ada beberapa cara membedakan health anxiety dari gejala penyakit nyata, seperti memperhatikan waktu munculnya gejala, lokasi rasa sakit, serta apakah gejala hilang saat perhatian teralihkan.

  • Kebiasaan mencari kepastian berulang dan hasil pemeriksaan yang selalu normal bisa menandakan kecemasan kesehatan; penting untuk konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah gak sih kamu merasakan sedikit nyeri di dada, lalu langsung panik karena mengira itu tanda penyakit jantung? Atau mungkin kamu sering googling gejala-gejala ringan yang kamu rasakan, dan ujung-ujungnya malah semakin cemas karena hasil pencarian mengarah ke penyakit serius? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami health anxiety atau kecemasan berlebih terhadap kesehatan.

Health anxiety adalah kondisi di mana seseorang terlalu khawatir tentang kesehatannya, bahkan ketika tidak ada bukti medis yang mendukung kekhawatiran tersebut. Masalahnya, gejala fisik yang muncul akibat kecemasan ini sering kali terasa sangat nyata, sehingga sulit dibedakan dari gejala penyakit sesungguhnya. Nah, agar kamu tidak salah kaprah dan bisa lebih tenang dalam menyikapi kondisi tubuh, yuk simak beberapa cara membedakan keduanya berikut ini!

1. Perhatikan apakah gejala muncul saat kamu sedang cemas atau stres

Ilustrasi stres
Ilustrasi stres (freepik.com/freepik)

Salah satu ciri khas gejala yang dipicu oleh health anxiety adalah kemunculannya yang sangat berkaitan dengan kondisi emosional. Coba deh perhatikan, apakah gejala seperti jantung berdebar, sesak napas, atau pusing itu muncul saat kamu sedang overthinking tentang kesehatan? Kalau ternyata gejala tersebut hadir bersamaan dengan pikiran-pikiran cemas, besar kemungkinan itu adalah respons tubuh terhadap kecemasan, bukan tanda penyakit fisik.

Sebaliknya, gejala penyakit yang nyata biasanya muncul secara konsisten, tidak peduli apakah kamu sedang tenang atau cemas. Misalnya, demam akan tetap terasa meski kamu sedang dalam suasana hati yang baik. Jadi, mulai sekarang, coba catat kapan gejala itu muncul dan apa yang sedang kamu pikirkan saat itu.

2. Cek apakah gejala berpindah-pindah lokasi atau tetap di satu tempat

Ilustrasi kecemasan
Ilustrasi kecemasan (pexels.com/LML 6768)

Ini adalah tanda yang cukup mudah diamati. Gejala yang muncul akibat health anxiety cenderung berpindah-pindah lokasi. Hari ini kamu mungkin merasa nyeri di dada, besok tiba-tiba berganti jadi sakit kepala, lalu lusa berubah lagi menjadi nyeri perut. Pola seperti ini sangat umum terjadi pada orang yang mengalami kecemasan kesehatan.

Sementara itu, gejala penyakit yang benar-benar bersifat fisik biasanya menetap di satu area tertentu dan berkembang secara bertahap. Kalau kamu mengalami nyeri yang konsisten di lokasi yang sama selama beberapa hari, baru deh pertimbangkan untuk memeriksakan diri ke dokter.

3. Amati apakah gejala mereda saat perhatianmu teralihkan

ilustrasi cemas kerja
ilustrasi cemas kerja (pexels.com/energepic.com)

Pernah gak kamu merasa gejala yang tadinya sangat mengganggu tiba-tiba hilang saat kamu asyik melakukan aktivitas menyenangkan? Nah, ini adalah salah satu indikator kuat bahwa gejala tersebut berasal dari kecemasan. Ketika pikiran teralihkan, tubuh menjadi lebih rileks dan gejala pun ikut berkurang atau bahkan menghilang sama sekali.

Berbeda dengan gejala penyakit fisik yang nyata, rasa sakit atau ketidaknyamanan akan tetap ada meskipun kamu sedang sibuk atau terhibur. Jadi, coba deh lakukan aktivitas yang kamu sukai saat gejala muncul. Kalau ternyata gejala itu menghilang, kemungkinan besar itu hanyalah manifestasi dari kecemasan.

4. Waspadai kebiasaan terus-menerus mencari kepastian atau memeriksakan diri

ilustrasi merasa cemas
ilustrasi merasa cemas (pexels.com/Liza Summer)

Orang dengan health anxiety biasanya memiliki kebiasaan yang disebut reassurance-seeking behavior. Mereka akan terus-menerus mencari kepastian, entah itu dengan bertanya kepada orang lain, googling gejala berulang kali, atau bolak-balik ke dokter meskipun hasil pemeriksaan selalu menunjukkan kondisi normal. Sayangnya, kepastian yang didapat hanya memberikan ketenangan sesaat sebelum kecemasan muncul kembali.

Kalau kamu merasa sudah berkali-kali memeriksakan diri dan hasilnya selalu baik-baik saja, tapi tetap merasa ada yang salah dengan tubuhmu, ini bisa jadi tanda bahwa yang perlu ditangani adalah kecemasannya, bukan gejala fisiknya.

5. Evaluasi apakah gejala disertai tanda-tanda fisik yang terukur

Ilustrasi perempuan cemas
Ilustrasi perempuan cemas (freepik.com/freepik)

Cara terakhir yang cukup objektif adalah dengan melihat apakah gejala yang kamu rasakan disertai tanda-tanda fisik yang bisa diukur. Misalnya, kalau kamu merasa demam, coba cek dengan termometer. Kalau kamu merasa jantung berdebar sangat kencang, coba hitung detak jantungmu. Gejala yang berasal dari penyakit nyata biasanya akan menunjukkan angka atau tanda yang abnormal.

Sebaliknya, gejala akibat health anxiety sering kali tidak disertai bukti fisik yang terukur. Kamu mungkin merasa sangat tidak enak badan, tapi saat diperiksa, semua hasilnya normal. Kalau situasi ini sering terjadi, ada baiknya kamu mulai mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Membedakan antara gejala nyata dan health anxiety memang bukan perkara mudah. Namun, dengan memahami pola-pola di atas, kamu bisa lebih bijak dalam menyikapi sensasi yang muncul di tubuhmu. Yang terpenting, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional, baik itu dokter untuk memastikan kondisi fisik maupun tenaga kesehatan mental untuk mengatasi kecemasannya. Ingat, kesehatan fisik dan mental sama pentingnya, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Health

See More