ilustrasi wanita kelelahan saat olahraga (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Hentikan lari dan cari pertolongan medis segera jika detak jantung cepat disertai:
Nyeri, tekanan, atau rasa terhimpit di dada.
Sesak napas yang tidak sebanding dengan intensitas.
Pusing berat atau hampir pingsan.
Pingsan.
Kebingungan.
Keringat dingin.
Nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang.
Pertolongan medis darurat sangat disarankan jika detak jantung tiba-tiba sangat tinggi atau rendah dan disertai nyeri dada, sesak napas, pusing, atau pingsan.
Pelari yang memiliki riwayat penyakit jantung, gangguan irama jantung, penyakit paru, diabetes, penyakit ginjal, atau keluhan saat berolahraga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum meningkatkan latihan ke intensitas berat.
Cara tercepat menurunkan detak jantung saat lari adalah memperlambat pace atau berjalan sampai napas kembali terkendali.
Dalam jangka panjang, detak jantung pada pace tertentu dapat menurun ketika kebugaran aerobik meningkat. Prosesnya butuh latihan ringan yang konsisten, peningkatan beban secara bertahap, hidrasi yang cukup, dan penyesuaian terhadap cuaca.
Angka detak jantung di smartwatch tetap perlu dibaca bersama respons tubuh. Detak jantung tinggi tanpa gejala belum tentu berbahaya, tetapi perubahan yang tidak biasa—terutama bila disertai nyeri dada, pusing, pingsan, atau sesak—tidak boleh dianggap normal.
Referensi
American Heart Association, “Target Heart Rates Chart,” diakses Juli 2026.
American College of Sports Medicine, “Aerobic Exercise Intensity,” diakses Juli 2026.
Ariany Marques Vieira et al., “Application and Measurement Properties of the Talk Test in Cardiopulmonary Patients: A Systematic Review,” Reviews in Cardiovascular Medicine 23, no. 7 (2022): 225, https://doi.org/10.31083/j.rcm2307225.
Andrea J. Fradkin, Tsharni R. Zazryn, dan James M. Smoliga, “Effects of Warming-Up on Physical Performance: A Systematic Review with Meta-analysis,” Journal of Strength and Conditioning Research 24, no. 1 (2010): 140–148, https://doi.org/10.1519/JSC.0b013e3181c643a0.
James B. Carter, Eric W. Banister, dan Andrew P. Blaber, “Effect of Endurance Exercise on Autonomic Control of Heart Rate,” Sports Medicine 33, no. 1 (2003): 33–46, https://doi.org/10.2165/00007256-200333010-00003.
Jonathan E. Wingo, Matthew S. Ganio, dan Kirk J. Cureton, “Cardiovascular Drift during Heat Stress: Implications for Exercise Prescription,” Exercise and Sport Sciences Reviews 40, no. 2 (2012): 88–94, https://doi.org/10.1097/JES.0b013e31824c43af.
American College of Sports Medicine, “Exercising in Hot and Cold Environments,” diakses Juli 2026.
Brendon P. McDermott et al., “National Athletic Trainers’ Association Position Statement: Fluid Replacement for the Physically Active,” Journal of Athletic Training 52, no. 9 (2017): 877–895, https://doi.org/10.4085/1062-6050-52.9.02.
Peter Düking et al., “Wrist-Worn Wearables for Monitoring Heart Rate and Energy Expenditure While Sitting or Performing Light-to-Vigorous Physical Activity: Validation Study,” JMIR mHealth and uHealth 8, no. 5 (2020): e16716, https://doi.org/10.2196/16716.
American Heart Association, “All About Heart Rate,” diakses Juli 2026.
American Heart Association, “Heart Attack, Stroke and Cardiac Arrest Symptoms,” diakses Juli 2026.