Ada pelari yang masih bisa ngobrol santai saat lari di cuaca terik. Ada juga yang baru beberapa kilometer sudah merasa kepala berat, wajah memerah, jantung seperti meledak, dan tubuh terasa seperti oven berjalan. Sekilas ini mungkin dikira karena tidak kuat panas, tetapi yang terjadi di dalam tubuh tidak sesederhana itu.
Saat berlari, tubuh memproduksi panas dalam jumlah besar. Otot tidak hanya menghasilkan tenaga untuk bergerak, tetapi juga menghasilkan panas sebagai “limbah” metabolisme. Makin cepat dan lama kamu berlari, makin tinggi panas yang diproduksi.
Masalah muncul ketika tubuh tidak mampu membuang panas itu cukup cepat. Nah, di sinilah sebagian pelari mulai mengalami apa yang disebut sebagai heat stress atau stres panas, yaitu kondisi ketika suhu tubuh naik lebih cepat dibanding kemampuan tubuh mendinginkannya.
Dalam kasus ringan, kamu mungkin cuma merasa sangat gerah dan performa turun drastis. Namun, pada kondisi berat, panas yang berlebih bisa berkembang menjadi heat exhaustion hingga exertional heat stroke, kondisi medis serius yang dapat merusak organ tubuh.
