Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Overstriding saat Lari: Cara Tahu dan Memperbaikinya

Overstriding saat Lari: Cara Tahu dan Memperbaikinya
ilustrasi overstriding saat lari (pexels.com/The Lazy Artist Gallery)
Intinya Sih
Sisi Positif

  • Overstriding terjadi saat kaki mendarat terlalu jauh di depan tubuh, menyebabkan energi terbuang dan meningkatkan risiko cedera, terutama pada lutut bagian depan.

  • Tanda umum overstriding meliputi langkah terasa seperti mengerem, cadence rendah, serta posisi kaki lurus di depan tubuh saat menyentuh tanah.

  • Perbaikan dapat dilakukan dengan menaikkan cadence 5–10 persen, menjaga pendaratan di bawah pinggul, memperbaiki postur condong dari pergelangan kaki, dan memperkuat otot inti serta pinggul.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada momen ketika lari terasa lebih berat dari biasanya, padahal pace tidak berubah. Langkah terasa seperti “menarik” ke depan, tubuh sedikit tertahan, dan ritme tidak mengalir. Sering dikira masalah stamina, padahal sebenarnya bisa jadi masalahnya ada pada pola langkah.

Salah satu kesalahan teknik yang paling umum, tetapi sering tidak disadari, adalah overstriding. Ini terjadi ketika kaki mendarat terlalu jauh di depan tubuh.

Sekilas overstriding terlihat seperti langkah yang panjang dan powerful, tetapi secara biomekanik justru membuat tubuh bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko cedera.

Table of Content

Apa itu overstriding dan kenapa ini terjadi?

Apa itu overstriding dan kenapa ini terjadi?

Overstriding terjadi ketika kaki mendarat jauh di depan pusat massa tubuh, bukan tepat di bawahnya. Hal ini sering terjadi ketika pelari mencoba “memanjangkan langkah” untuk meningkatkan kecepatan, tetapi tanpa meningkatkan cadence (langkah per menit).

Penelitian menunjukkan bahwa posisi kaki saat mendarat sangat memengaruhi distribusi gaya benturan dan efisiensi gerakan. Ketika kaki terlalu maju, tubuh mengalami braking effect, seolah setiap langkah sedikit mengerem laju tubuh.

Teknik lari yang efisien adalah yang meminimalkan energi terbuang dan menjaga langkah tetap dekat dengan pusat tubuh. Overstriding justru melakukan kebalikannya.

Cara tahu lari kamu overstriding

Seorang pria berlari di jalan terbuka dengan mengenakan jaket abu-abu dan celana hitam, menggambarkan teknik overstriding saat berlari.
ilustrasi overstriding saat lari (pexels.com/Mohammad Yasir)
  • Kaki mendarat jauh di depan tubuh

Salah satu tanda paling jelas adalah posisi kaki saat menyentuh tanah. Jika dilihat dari samping (misalnya lewat video), kaki terlihat menjulur jauh ke depan sebelum mendarat.

Pola ini meningkatkan gaya benturan karena kaki bertindak seperti rem. Ini berbeda dengan langkah efisien, di mana kaki mendarat hampir tepat di bawah pinggul.

Jika kamu merekam lari dan melihat lutut hampir lurus saat kaki menyentuh tanah di depan tubuh, itu indikasi kuat overstriding.

  • Cadence rendah (langkah per menit sedikit)

Pelari dengan overstriding biasanya memiliki cadence yang lebih rendah. Mereka mengandalkan panjang langkah, bukan frekuensi langkah.

Meningkatkan cadence dapat mengurangi beban pada lutut dan memperbaiki mekanika lari. Cadence rendah sering berkorelasi dengan langkah yang terlalu panjang.

Sebagai gambaran umum, banyak pelari efisien berada di kisaran 160–180 langkah per menit, meskipun angka ini bisa bervariasi.

  • Nyeri di lutut atau bagian depan kaki

Overstriding meningkatkan tekanan pada sendi patelofemoral (lutut bagian depan). Ini sering memicu nyeri lutut pada pelari.

Teknik lari yang buruk adalah salah satu faktor risiko cedera lutut pada pelari. Jika kamu sering merasakan nyeri lutut setelah lari, terutama di bagian depan, overstriding bisa menjadi salah satu penyebabnya.

  • Lari terasa seperti mengerem

Sensasi subjektif juga penting. Overstriding sering membuat lari terasa tidak mengalir, seperti ada jeda kecil di setiap langkah.

Penelitian biomekanik menunjukkan bahwa braking force (gaya horizontal yang bekerja ke arah belakang saat kaki menyentuh tanah saat berlari, menyebabkan perlambatan sementara) meningkat ketika kaki mendarat terlalu jauh di depan tubuh. Ini membuat energi terbuang dan lari terasa lebih berat.

Jika kamu merasa harus seperti menarik tubuh ke depan setiap langkah, itu bisa jadi tanda overstriding.

Cara mengatasi overstriding

1. Tingkatkan cadence secara bertahap

Meningkatkan cadence 5–10 persen adalah strategi paling efektif untuk mengurangi overstriding. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan kecil ini dapat:

  • Mengurangi beban lutut.
  • Memperbaiki posisi kaki saat mendarat.
  • Meningkatkan efisiensi lari.

Gunakan metronome atau musik dengan beat tertentu untuk membantu menjaga ritme.

2. Fokus pada posisi kaki di bawah tubuh

Alih-alih memikirkan memendekkan langkah, fokuslah pada mendarat di bawah pinggul.

Pendekatan ini lebih efektif karena:

  • Tidak memaksa perubahan ekstrem.
  • Lebih natural untuk tubuh.
  • Mengurangi risiko cedera akibat perubahan mendadak.

Tubuh biasanya akan menyesuaikan panjang langkah secara otomatis.

3. Perbaiki postur dan lean tubuh

Sedikit condong ke depan dari pergelangan kaki (bukan pinggang) membantu tubuh bergerak lebih efisien.

Postur yang baik:

  • Menjaga pusat massa tetap stabil.
  • Mengurangi kecenderungan kaki mendarat terlalu depan.
  • Meningkatkan momentum ke depan.

Ini membantu menghilangkan braking effect secara alami.

4. Latihan teknik (drills)

Latihan seperti high knees, A-skips, dan cadence drills membantu melatih pola gerakan yang lebih efisien.

Drills meningkatkan koordinasi neuromuskular dan efisiensi biomekanik.

5. Perkuat otot inti dan pinggul

Stabilitas tubuh sangat memengaruhi teknik lari. Otot core dan pinggul yang lemah membuat kontrol langkah berkurang.

Latihan seperti plank, glute bridge, dan latihan single-leg membantu menjaga alignment tubuh dan mengurangi overstriding.

Overstriding adalah kesalahan teknik yang umum, tetapi sering tidak disadari. Dampaknya tidak hanya pada efisiensi lari, tetapi juga pada risiko cedera, terutama di lutut.

Kabar baiknya, perbaikan tidak perlu perubahan drastis. Meningkatkan cadence, memperbaiki postur, dan melatih pola gerakan, langkah lari bisa menjadi lebih efisien dan ringan. Lari yang baik bukan tentang langkah yang panjang, tetapi langkah yang tepat.

Referensi

Samuel R. Hamner, Ajay Seth, and Scott L. Delp, “Muscle Contributions to Propulsion and Support During Running,” Journal of Biomechanics 43, no. 14 (August 10, 2010): 2709–16, https://doi.org/10.1016/j.jbiomech.2010.06.025.

American College of Sports Medicine. “Healthy Habits for Distance Running.” https://www.acsm.org

Daniel E. Lieberman et al., “Foot Strike Patterns and Collision Forces in Habitually Barefoot Versus Shod Runners,” Nature 463, no. 7280 (January 1, 2010): 531–35, https://doi.org/10.1038/nature08723.

Bryan C. Heiderscheit et al., “Effects of Step Rate Manipulation on Joint Mechanics During Running,” Medicine & Science in Sports & Exercise 43, no. 2 (June 25, 2010): 296–302, https://doi.org/10.1249/mss.0b013e3181ebedf4.

American Academy of Orthopaedic Surgeons. “Running Injuries.” Diakses April 2026.

National Strength and Conditioning Association. “Running Drills.” Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More