ilustrasi kentang goreng (magnific.com/mrsiraphol)
Kehidupan sehari-hari juga perlu menjadi pertimbangan ketika membicarakan makanan anak. Gak semua orangtua punya waktu untuk memasak dari nol setiap kali anak makan, terutama ketika harus bekerja, mengurus rumah, atau menghadapi anak yang sangat pemilih soal makanan. Dalam situasi tertentu, makanan praktis bisa membantu orangtua memastikan anak tetap mendapatkan makanan ketika pilihan lainnya tidak mudah dilakukan.
Ahli diet Maeve Hanan yang diwawancarai BBC juga mengingatkan bahwa ketakutan berlebihan terhadap makanan bisa membuat orangtua melihat makanan secara terlalu hitam-putih. Ia menilai pola makan perlu dilihat dari keseimbangan berbagai kelompok makanan dalam jangka waktu tertentu. Jadi, kalau anak makan beberapa potong nugget bersama wortel dan pasta, kamu gak perlu langsung merasa telah memberikan makanan yang buruk.
Pada akhirnya, nugget bisa ditempatkan sebagai salah satu bagian dari menu, bukan menjadi dasar seluruh pola makan anak. Kamu bisa memperhatikan ukuran porsi, frekuensi konsumsi, serta makanan pendamping seperti sayur dan buah. Prinsipnya bukan mencari pola makan yang sempurna setiap hari, melainkan membangun kebiasaan makan yang beragam dan seimbang dalam jangka panjang.
Memberikan nugget kepada anak sesekali juga gak perlu membuatmu dihantui rasa bersalah. Bukti ilmiah memang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi UPF yang lebih tinggi dan sejumlah masalah kesehatan, tapi penelitian tersebut bukan berarti satu makanan langsung menentukan kesehatan anak.
Perhatikan keseluruhan pola makan, kandungan gizi, variasi makanan, serta frekuensi konsumsinya. Dengan begitu, kamu bisa tetap realistis dalam memenuhi kebutuhan makan anak tanpa harus panik setiap kali melihat label UPF.