ilustrasi seorang pelari mengalami underfueling (pexels.com/Ketut Subiyanto)
1. Easy run rasanya tidak easy
Ini salah satu tanda paling umum. Tubuh yang kekurangan energi akan kesulitan mempertahankan usaha yang sebelumnya terasa ringan.
Akibatnya:
Kadang pelari mengira mereka kehilangan fitness, padahal tubuh sebenarnya sedang kekurangan bahan bakar.
2. Recovery sangat lambat
Setelah latihan, tubuh membutuhkan energi untuk memperbaiki jaringan otot dan mengisi ulang simpanan glikogen. Kalau energi tidak cukup:
Kamu merasa pegal lebih lama.
Kaki terasa “kosong”.
Badan terus terasa lelah.
Performa latihan berikutnya turun.
Penting untuk mencukupi kebutuhan energi dan karbohidrat untuk pemulihan atlet endurance.
3. Gampang sakit
Tubuh yang kekurangan energi sering mulai “menghemat” fungsi yang dianggap tidak mendesak, termasuk sebagian sistem imun.
Akibatnya:
Kamu gampang sakit pilek atau flu.
Sakit tenggorokan berulang.
Recovery dari sakit lebih lama.
Penelitian menunjukkan kekurangan energi dan recovery yang buruk dapat memengaruhi respons imun atlet.
4. Lapar terus atau justru kehilangan nafsu makan
Respons tubuh bisa berbeda-beda. Ada pelari yang craving makanan terus, sulit merasa kenyang, atau bangun malam karena merasa lapar. Namun, ada juga yang justru kehilangan nafsu makan karena stres fisik berkepanjangan.
Keduanya bisa menjadi tanda tubuh sedang tidak seimbang secara energi.
5. Mood berubah dan mudah emosional
Energi bukan hanya soal otot. Otak juga membutuhkan pasokan energi stabil. Underfueling dapat membuat seseorang mudah marah, cemas, sulit fokus, emosional, dan kehilangan motivasi latihan.
Banyak pelari tidak menyadari perubahan mood mereka sebenarnya berkaitan dengan kondisi fisiologis tubuh.
6. Kualitas tidur menurun
Tubuh yang kekurangan energi sering meningkatkan hormon stres seperti kortisol.
Akibatnya:
Padahal tidur sangat penting untuk pemulihan pelari.
7. Berat badan turun terus, tetapi performa ikut turun
Sebagian pelari terlalu fokus mengejar tubuh lebih ringan. Padahal penurunan berat badan yang terlalu agresif sering menyebabkan tenaga berkurang, latihan berantakan, pemulihan yang buruk, dan risiko cedera meningkat.
Tubuh yang lebih ringan tidak selalu berarti lebih kuat.
8. Cedera berulang
Ini salah satu dampak paling serius. Energi yang tidak cukup dapat mengganggu perbaikan jaringan, kesehatan tulang, dan produksi hormon.
Akibatnya kamu bisa mengalami peningkatan risiko fraktur stres, tendonitis, cedera berulang, dan nyeri yang tidak sembuh-sembuh.
Penelitian tentang relative energy deficiency in sport (REDs) menunjukkan low energy availability berkaitan dengan peningkatan risiko cedera tulang dan gangguan hormonal pada atlet.
9. Gangguan menstruasi pada pelari perempuan
Pada perempuan, underfueling dapat memengaruhi hormon reproduksi.
Tanda-tandanya bisa berupa:
10. Tubuh selalu terasa dingin
Tubuh yang kekurangan energi kadang mulai mengurangi pengeluaran energi untuk menjaga suhu tubuh optimal.
Sebagian orang jadi gampang merasa kedinginan, tangan dan kaki dingin, dan sulit merasa hangat. Meski terlihat sepele, tetapi ini bisa menjadi salah satu tanda metabolisme mulai beradaptasi terhadap kekurangan energi.