Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Berapa Jarak Ideal Long Run untuk Pelari?

Berapa Jarak Ideal Long Run untuk Pelari?
ilustrasi long run (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
Intinya Sih
  • Jarak ideal long run berbeda bagi tiap pelari, tergantung level pengalaman, kapasitas tubuh, dan kemampuan recovery, bukan sekadar angka kilometer yang sama untuk semua orang.
  • Fungsi utama long run adalah membangun adaptasi aerobik, efisiensi energi, serta daya tahan fisik dan mental tanpa menimbulkan stres berlebihan atau menghambat pemulihan tubuh.
  • Pendekatan modern lebih menekankan durasi 90 menit hingga 3 jam dibanding jarak mutlak; pemula cukup 30–60 menit sementara maraton umumnya 24–35 km sesuai kemampuan individu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Long run sering dianggap seperti ritual wajib. Angka kilometernya kadang bahkan menjadi simbol pencapaian. Ada yang merasa belum sah latihan maraton kalau belum lari 30 kilometer. Ada pula yang terus menambah jarak setiap minggu karena takut dianggap kurang serius.

Padahal tubuh manusia tidak membaca ego dalam satuan kilometer. Tubuh membaca stres fisik, beban biomekanik, kebutuhan recovery, dan kemampuan adaptasi. Itulah kenapa pertanyaan tentang long run sebenarnya lebih dari harus lari sejauh apa, melainkan sejauh apa tubuh bisa beradaptasi dengan aman dan efektif.

Menjawab pertanyaan berapa jarak ideal long run untuk pelari, jawabannya bisa berbeda-beda pada setiap pelari. Pelari pemula, pelari rekreasional, pelari maraton berpengalama, hingga atlet elite memiliki kebutuhan fisiologis yang sangat berbeda. Long run yang tepat untuk satu orang belum tentu ideal untuk orang lain.

Table of Content

Fungsi long run

Fungsi long run

Long run bukan hanya soal melatih kaki supaya kuat lebih lama, tetapi juga membantu menciptakan berbagai adaptasi penting, seperti:

  • Meningkatkan kapasitas aerobik.
  • Melatih tubuh menggunakan lemak sebagai energi.
  • Meningkatkan efisiensi jantung dan paru.
  • Memperkuat tendon serta otot.
  • Meningkatkan daya tahan mental.

Latihan endurance jangka panjang membantu meningkatkan efisiensi sistem kardiovaskular dan metabolik tubuh.

Makin lama tubuh bergerak dalam intensitas aerobik, makin besar tuntutan adaptasi terhadap:

  • Penyimpanan glikogen.
  • Efisiensi energi.
  • Ketahanan neuromuskular.

Karena itu, long run penting terutama untuk:

  • Half marathon.
  • Maraton.
  • Ultramaraton.
  • Olahraga endurance lain.

Kenapa tidak semua orang butuh long run sangat jauh?

Ini salah satu miskonsepsi paling umum. Banyak pelari berpikir, kalau target race 21K atau maraton, berarti long run harus mendekati jarak lomba terus. Padahal tidak selalu begitu.

Penelitian menunjukkan, manfaat endurance training tidak meningkat secara linear tanpa batas. Setelah titik tertentu, tambahan jarak bisa memberi stres jauh lebih besar dibanding manfaat adaptasinya.

Tubuh membutuhkan stimulus, lalu recovery, lalu adaptasi. Kalau stimulus terlalu besar dibanding kapasitas recovery, hasilnya justru:

  • Performa turun.
  • Tidur terganggu.
  • Risiko cedera meningkat.
  • Kelelahan berkepanjangan.

Long run ideal bukan yang paling jauh. Long run ideal adalah yang memberi adaptasi optimal tanpa menghancurkan recovery.

Long run untuk pelari pemula

Seorang perempuan berlari di jalur taman dengan pepohonan palem di sekitarnya, mengenakan pakaian olahraga hitam dan kacamata hitam.
ilustrasi long run (pexels.com/Hugo Polo)

Pelari pemula biasanya masih berada pada fase adaptasi tendon, penguatan otot, dan pembiasaan biomekanik. Karena itu, fokus utamanya bukan jarak ekstrem.

Untuk banyak pemula, long run sekitar 30–60 menit atau sekitar 20–30 persen total mileage mingguan sering sudah cukup memberi stimulus aerobik yang baik.

Misalnya:

  • Mileage mingguan 20 km: long run sekitar 5–7 km.
  • Mileage mingguan 30 km: long run sekitar 8–10 km.

Tujuan utama fase ini adalah membangun konsistensi, meningkatkan toleransi tubuh, dan mengurangi risiko cedera overuse.

Menurut penelitian, peningkatan volume latihan terlalu cepat berkaitan dengan risiko cedera lari yang lebih tinggi.

Long run untuk pelari 10K dan half marathon

Pada level ini, long run mulai berfungsi untuk:

  • Meningkatkan endurance spesifik lomba.
  • Memperkuat daya tahan otot.
  • Melatih efisiensi energi.

Untuk pelari 10K, long run biasanya sekitar 8–16 km, tergantung volume mingguan dan pengalaman.

Karena race 10K masih cukup dipengaruhi kecepatan dan VO2 max, long run ekstrem tidak selalu diperlukan.

Untuk pelari half marathon, long run umumnya 12–24 km. Namun, banyak pelatih endurance lebih fokus pada durasi dibanding angka kilometer.

Sebagian besar adaptasi endurance mulai signifikan setelah sekitar 90 menit aktivitas aerobik kontinu. Karena itu, long run terlalu panjang juga tidak selalu memberi manfaat tambahan besar bagi pelari rekreasional.

Bagaimana dengan maraton?

Maraton memang membutuhkan long run lebih panjang karena tubuh harus belajar mempertahankan energi, mengelola glikogen, dan menghadapi kelelahan berkepanjangan.

Long run maraton umumnya berkisar 24–35 km, atau sekitar 2–3 jam tergantung level pelari.

Namun menariknya, banyak penelitian modern mulai mempertanyakan manfaat long run sangat ekstrem bagi pelari non elite.

Kenapa?

Karena setelah sekitar 3 jam:

  • Stres hormonal meningkat tajam.
  • Kerusakan otot meningkat.
  • Recovery jauh lebih berat.
  • Risiko cedera naik signifikan.

Beberapa pelatih elite kini banyak yang lebih memilih:

  • Long run yang berkualitas.
  • Dua sesi lari intensitas sedang berturut-turut.
  • Pendekatan berbasis waktu dibanding sekadar mengejar kilometer besar.

Pelari elite bisa sangat berbeda

Seorang pelari perempuan mengenakan pakaian olahraga berwarna cerah berlari di tepi danau dengan latar gedung modern di siang hari.
ilustrasi long run (pexels.com/jacky xing)

Pelari elite memiliki efisiensi biomekanik lebih tinggi, recovery lebih cepat, kapasitas aerobik besar, dan toleransi latihan yang lebih baik.

Long run mereka bisa mencapai 30–40 km, kadang dengan pace progresif atau marathon pace segment.

Namun, yang sering dilupakan adalah pelari elite juga memiliki:

  • Dukungan pemulihan.
  • Nutrisi optimal.
  • Tidur lebih baik.
  • Dan pengalaman selama bertahun-tahun.

Meniru volume atlet elite tanpa fondasi serupa justru bisa berisiko tinggi mengalami cedera.

Apakah long run harus berdasarkan kilometer atau waktu?

Banyak pelatih modern kini lebih menyukai pendekatan berbasis durasi karena stres fisiologis tubuh lebih berkaitan dengan lama aktivitas dan bukan sekadar angka kilometer.

Contohnya:

  • Pelari cepat 20 km mungkin selesai dalam 1,5 jam.
  • Pelari lain membutuhkan hampir 3 jam untuk jarak yang sama.

Stres tubuhnya jelas berbeda.

Karena itu, banyak panduan endurance menggunakan pendekatan 90 menit, 2 jam, atau maksimal sekitar 3 jam daripada fokus mutlak pada kilometer.

Tanda long run kamu terlalu berat

Seorang pelari berlari di tepi laut dengan latar belakang jembatan besar dan langit biru cerah saat matahari terbit.
ilustrasi long run (unsplash.com/Chander R)

Long run seharusnya melelahkan, tetapi bukan menghancurkan tubuh selama berhari-hari. Waspadai jika setelah long run muncul:

  • Nyeri menetap.
  • Tidur jadi terganggu.
  • Detak jantung istirahat meningkat.
  • Mood buruk.
  • Performa turun.
  • Kelelahan ekstrem.

Jika mengalami tanda dan gejala di atas, ini bisa menjadi tanda recovery kurang, volume terlalu agresif, atau tubuh belum siap dengan bebannya.

Penelitian menunjukkan kombinasi volume tinggi dan recovery buruk meningkatkan risiko cedera overuse pada pelari.

Jadi, berapa long run yang ideal?

Jawabannya, tidak ada satu angka universal. Namun, secara umum:

  • Pemula: 30–60 menit atau sekitar 20–30 persen mileage mingguan.
  • Pelari 10K: sekitar 8–16 km.
  • Half marathon: sekitar 12–24 km.
  • Maraton: sekitar 24–35 km atau 2–3 jam tergantung level.

Yang terpenting adalah, tubuh masih bisa recovery, kualitas latihan lain tidak hancur, dan risiko cedera tetap terkendali.

Tujuan long run adalah membantu tubuh membangun endurance secara bertahap, aman, dan berkelanjutan.

Bagi pelari pemula, long run yang terlalu agresif lebih sering merusak konsistensi daripada meningkatkan performa. Bahkan pada pelari maraton sekalipun, long run terbaik adalah yang paling sesuai dengan kapasitas tubuh dan kebutuhan latihan. Ingat, dalam latihan endurance tubuh berkembang bukan cuma saat berlari, tetapi juga saat recovery.

Referensi

Carol Ewing Garber et al., “Quantity and Quality of Exercise for Developing and Maintaining Cardiorespiratory, Musculoskeletal, and Neuromotor Fitness in Apparently Healthy Adults,” Medicine & Science in Sports & Exercise 43, no. 7 (June 22, 2011): 1334–59, https://doi.org/10.1249/mss.0b013e318213fefb.

Thomas Haugen et al., “The Training Characteristics of World-Class Distance Runners: An Integration of Scientific Literature and Results-Proven Practice,” Sports Medicine - Open 8, no. 1 (April 1, 2022): 46, https://doi.org/10.1186/s40798-022-00438-7.

Jesper Schuster Brandt Frandsen et al., “How Much Running Is Too Much? Identifying High-risk Running Sessions in a 5200-person Cohort Study,” British Journal of Sports Medicine 59, no. 17 (July 7, 2025): 1203–10, https://doi.org/10.1136/bjsports-2024-109380.

Jesper Schuster Brandt Frandsen et al., “A Paradigm Shift in Understanding Overuse Running-Related Injuries: Findings From the Garmin-RUNSAFE Study Point to a Sudden Not Gradual Onset,” JOSPT Open. 3, no. 1 (October 1, 2024): 85–92, https://doi.org/10.2519/josptopen.2024.0075.

National Strength and Conditioning Association. "FOUNDATIONS OF FITNESS PROGRAMMING." Diakses Mei 2026.

David C. Hughes, Stian Ellefsen, and Keith Baar, “Adaptations to Endurance and Strength Training,” Cold Spring Harbor Perspectives in Medicine 8, no. 6 (May 10, 2017): a029769, https://doi.org/10.1101/cshperspect.a029769.

Cristian Llanos-Lagos et al., “Effect of Strength Training Programs in Middle- and Long-Distance Runners’ Economy at Different Running Speeds: A Systematic Review With Meta-analysis,” Sports Medicine 54, no. 4 (January 2, 2024): 895–932, https://doi.org/10.1007/s40279-023-01978-y.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More