- Membantu tubuh tetap aktif
Shakeout Run: Lari Santai yang Bisa Bantu Hari Race

Shakeout run adalah lari ringan sehari sebelum lomba untuk menjaga tubuh tetap aktif tanpa menambah kelelahan, membantu mengurangi kekakuan, dan menenangkan pikiran menjelang race.
Sesi ini meningkatkan sirkulasi darah, mempertahankan pola gerak, serta memberi stimulus neuromuskular ringan agar tubuh terasa siap berlari tanpa mengganggu pemulihan dari masa tapering.
Durasi idealnya 10–30 menit dengan intensitas santai; manfaatnya bersifat individual karena sebagian pelari lebih cocok istirahat total tergantung kondisi fisik dan kebiasaan latihan.
Menjelang hari race, sebagian pelari masih terlihat joging santai sehari sebelumnya. Sekilas mungkin terlihat aneh, apalagi setelah berminggu-minggu latihan keras dan memasuki masa tapering. Namun, sesi lari ringan ini sengaja dilakukan, dikenal sebagai shakeout run.
Shakeout run adalah lari pendek dengan intensitas sangat ringan yang biasanya dilakukan sehari sebelum lomba. Tujuannya bukan menambah kebugaran atau “mengejar latihan terakhir”, melainkan membantu tubuh tetap terasa aktif tanpa memberi beban berarti.
Banyak pelari merasa tubuh jadi lebih nyaman setelah melakukannya. Kaki terasa tidak terlalu kaku, gerakan lebih ringan, dan tubuh seperti lebih siap untuk berlari keesokan harinya. Bagi sebagian orang, shakeout run juga membantu menenangkan pikiran menjelang lomba, terutama ketika rasa tegang dan overthinking mulai muncul. Karena itu, sesi ini sering dianggap bukan sekadar latihan, tetapi bagian dari persiapan fisik dan mental sebelum race.
Table of Content
Kenapa banyak pelari merasa tubuh "aneh" saat hari istirahat?
Ini salah satu alasan shakeout run populer.
Menjelang race, banyak pelari melakukan tapering atau penurunan volume latihan agar tubuh pulih. Namun, ketika aktivitas mendadak jauh berkurang, sebagian orang justru merasa kaki berat, tubuh kaku, gelisah, tidak enak badan, dan terlalu banyak overthinking soal race.
Secara fisiologis, tubuh memang bisa terasa berbeda saat rutinitas latihan berubah. Penelitian menjelaskan bahwa tapering bertujuan mengurangi kelelahan sambil mempertahankan adaptasi performa. Namun pengurangan aktivitas yang terlalu drastis juga dapat memengaruhi sensasi kesiapan tubuh. Di sinilah shakeout run sering membantu.
Manfaat shakeout run
Lari ringan meningkatkan aliran darah ke otot tanpa memberi stres besar pada tubuh. Sebagian pelari merasa kaki menjadi lebih ringan, tidak terlalu kaku, dan lebih nyaman bergerak.
Efek ini kemungkinan berkaitan dengan peningkatan sirkulasi dan aktivasi neuromuskular ringan.
- Mengurangi rasa kaku setelah tapering
Setelah volume latihan turun, tubuh kadang terasa terlalu “diam.” Shakeout run membantu mempertahankan pola gerak yang sudah familiar bagi tubuh pelari. Karena intensitasnya rendah, sesi ini biasanya tidak cukup berat untuk menambah kelelahan berarti.
- Menenangkan mental sebelum race
Banyak pelari justru lebih membutuhkan manfaat psikologisnya.
Menjelang lomba, pikiran sering penuh dengan takut gagal, khawatir pace, cemas soal cuaca, dan memikirkan strategi race terus-menerus. Nah, shakeout run memberi kesempatan untuk bergerak santai tanpa tekanan.
Beberapa pelari juga menggunakannya untuk mengecek sepatu race, membiasakan diri dengan cuaca, mencoba race outfit, dan melihat kondisi lokasi lomba.
- Membantu "mengingatkan" tubuh tentang ritme lari
Pada sebagian shakeout run, pelari menambahkan strides pendek, yaitu lari singkat dengan ritme lebih cepat tetapi tetap terkontrol. Tujuannya bukan latihan keras, melainkan memberi stimulus ringan pada sistem saraf dan koordinasi gerak.
Penelitian tentang neuromuscular priming menunjukkan aktivitas ringan sebelum kompetisi dapat membantu kesiapan performa tanpa menambah kelelahan signifikan.
Shakeout run bukan latihan tambahan

Tubuh tidak akan tiba-tiba menjadi lebih kuat karena latihan keras H-1 lomba. Sebaliknya, sesi terlalu berat justru dapat meningkatkan kelelahan, mengganggu recovery, dan membuat kaki terasa berat saat race.
Karena itu shakeout run biasanya singkat, santai, effort rendah, dan tanpa target pace agresif.
Kalau selesai lari malah terasa capek, kemungkinan intensitasnya terlalu tinggi.
Berapa lama idealnya durasi shakeout run?
Tidak ada aturan tunggal, tetapi umumnya:
- 10–30 menit.
- Easy pace.
- Pace di mana kamu masih bisa mengobrol.
- Kadang ditambah 3–6 strides pendek.
Durasi dan intensitas bergantung pada pengalaman pelari, jarak lomba, kondisi tubuh, dan kebiasaan latihan.
Pelari maraton berpengalaman mungkin nyaman melakukan shakeout 20–30 menit, sementara pelari pemula kadang lebih cocok joging sangat ringan atau bahkan hanya jalan santai.
Apakah semua pelari perlu shakeout run?
Jawabannya tidak selalu. Sebagian orang merasa jauh lebih baik dengan total istirahat.
Ada juga yang justru merasa kaki berat setelah shakeout, energi terkuras, dan mental makin tegang. Jadi, respons tubuh setiap pelari berbeda.
Konsensus tentang training load dan recovery menekankan pentingnya individualisasi strategi persiapan olahraga. Jadi, shakeout run bukan kewajiban universal.
Kapan sebaiknya tidak melakukan shakeout run?
Shakeout run mungkin tidak ideal jika:
- Tubuh masih sangat lelah.
- Kurang tidur.
- Sedang sakit.
- Ada cedera aktif.
- Race pagi sangat dini dan tubuh butuh istirahat lebih.
Dalam kondisi tertentu, tidur dan recovery bisa jauh lebih bermanfaat dibanding memaksakan joging tambahan.
Kenapa banyak pelari elite melakukan shakeout run?

Pelari elite sering menjalani rutinitas secara konsisten. Tubuh mereka terbiasa bergerak hampir setiap hari. Karena itu, hari istirahat total mendadak kadang membuat tubuh terasa aneh. Dalam keadaan ini, shakeout run membantu menjaga rutinitas dan kesiapan neuromuskular tanpa menambah beban latihan besar.
Namun, penting dipahami bahwa apa yang dilakukan pelari elite belum tentu wajib diikuti semua pelari.
Contoh shakeout run
Untuk pemula
- 10–15 menit easy jog
- Pace sangat santai.
- Fokus rileks.
Untuk race 5K–10K
- 15–20 menit easy.
- Tambah 3–4 strides 15–20 detik.
Untuk half marathon atau maraton
- 20–30 menit easy.
- Strides ringan opsional.
Kalau tubuh terasa tidak nyaman, sesi bisa dipersingkat atau dihentikan.
Kesalahan umum
- Mengubah shakeout run menjadi tempo run. Ini paling sering terjadi karena tubuh terasa fresh.
- Terlalu fokus pace. Shakeout run bukan ajang mengejar angka.
- Menambah volume mendadak. H-1 race bukan waktunya untuk balas dendam latihan.
- Mengabaikan recovery. Kurang tidur dan hidrasi buruk bisa lebih merusak dibanding melewatkan shakeout run.
Jadi, apakah shakeout run benar-benar membantu?
Bagi banyak pelari, iya.
Walaupun bukti ilmiah spesifik tentang shakeout run masih terbatas, tetapi prinsipnya (aktivasi ringan, menjaga pola gerak, dan kesiapan mental) cukup masuk akal secara fisiologis dan banyak dipakai dalam dunia olahraga kompetitif. Namun, manfaatnya sangat individual.
Ada pelari yang merasa race day jauh lebih baik setelah shakeout run, tetapi di sisi lain ada juga yang justru performanya optimal dengan istirahat total. Yang terpenting adalah memahami bagaimana respons tubuh kamu menjelang lomba.
Referensi
Inigo Mujika and Sabino Padilla, “Scientific Bases for Precompetition Tapering Strategies,” Medicine & Science in Sports & Exercise 35, no. 7 (July 1, 2003): 1182–87, https://doi.org/10.1249/01.mss.0000074448.73931.11.
David Bishop, “Warm up II,” Sports Medicine 33, no. 7 (January 1, 2003): 483–98, https://doi.org/10.2165/00007256-200333070-00002.
Iwan Rowlands et al., “What Motivates Athletes to Recover? A Qualitative Exploration of Perceptions, Behaviours, and Barriers to Recovery Engagement,” Journal of Applied Sport Psychology, August 21, 2025, 1–26, https://doi.org/10.1080/10413200.2025.2543753.
Neale Anthony Tillin and David Bishop, “Factors Modulating Post-Activation Potentiation and Its Effect on Performance of Subsequent Explosive Activities,” Sports Medicine 39, no. 2 (January 1, 2009): 147–66, https://doi.org/10.2165/00007256-200939020-00004.
Torbjørn Soligard et al., “How Much Is Too Much? (Part 1) International Olympic Committee Consensus Statement on Load in Sport and Risk of Injury,” British Journal of Sports Medicine 50, no. 17 (August 17, 2016): 1030–41, https://doi.org/10.1136/bjsports-2016-096581.

![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Gaya Main Partner Padel Kamu Berdasarkan Zodiak](https://image.idntimes.com/post/20251031/upload_b042ee2cc937d4e0a40ff0426b5b810a_300e7cc9-fbf3-4990-9a14-88e39f9bd940.jpg)
![[QUIZ] Dari Kepribadian Kamu, Ini Jenis Journaling yang Paling Pas](https://image.idntimes.com/post/20260107/pexels-anthonyshkraba-production-8374246_98aefee2-2b00-4e5c-8131-f59e657df461.jpg)









![[QUIZ] Matamu Sehat atau Rabun? Cek dengan Tebak Karakter Upin & Ipin dari Siluetnya](https://image.idntimes.com/post/20250519/1000008633-573aa37ad6c115e82c0f9cac0f446fd8.jpg)





![[QUIZ] Kami Tahu Jenis Plank yang Paling Cocok Buat Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260514/1000000974_527de4ae-f27a-4997-8ca1-b3385c1cef0d.jpg)
