Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis yang terbit pada 2026 menggabungkan data dari 10 penelitian dengan total lebih dari 2,8 juta peserta. Para peneliti membedakan orang yang hanya menggunakan vape saat ini, orang yang menggunakan vape sekaligus merokok, dan mantan pengguna vape.
Pada kelompok pengguna vape eksklusif—orang yang melaporkan menggunakan vape tanpa merokok rokok konvensional secara bersamaan—peneliti tidak menemukan hubungan yang bermakna secara statistik dengan diabetes.
Angka gabungannya adalah OR 1,04, dengan rentang kepercayaan 0,93–1,16. Karena rentang ini mencakup angka yang menunjukkan tidak ada perbedaan, hasil tersebut belum menunjukkan bahwa pengguna vape eksklusif lebih mungkin mengalami diabetes.
Satu studi kohort dalam tinjauan itu juga mengikuti 249.190 orang selama sekitar empat tahun. Pengguna vape eksklusif tidak tercatat memiliki peningkatan kasus diabetes tipe 2 yang bermakna dibandingkan orang yang tidak menggunakan vape.
Akan tetapi, tidak ditemukannya hubungan bermakna bukan berarti risikonya pasti nol. Tinjauan tersebut hanya menemukan satu studi prospektif yang menilai kasus diabetes baru. Penggunaan vape juga dilaporkan sendiri oleh peserta, bukan diverifikasi secara biologis, dan peneliti menilai kepastian bukti keseluruhan masih sangat rendah. Masa pengamatan sekitar empat tahun pun belum tentu cukup untuk menangkap dampak yang berkembang lebih lama.