Comscore Tracker

Studi: Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Butuh Booster

Suntikan booster dapat membantu

Salah satu vaksin COVID-19 yang dipakai di Indonesia adalah CoronaVac buatan perusahaan biofarmasi China, Sinovac Biotech. Dengan merajalelanya varian Delta (B.1.617.2), tak sedikit orang yang bertanya-tanya apakah vaksin ini bisa membantu penerimanya dalam melawan varian yang pertama kali terdeteksi di India ini.

Menggunakan platform virus corona SARS-CoV-2 yang dimatikan atau inactivated, CoronaVac mencatatkan efektivitas di atas rata-rata.

Akan tetapi, apakah antibodi yang dihasilkan vaksin Sinovac ini dapat bertahan lama? Riset terbaru di China menyatakan sebaliknya. Dalam waktu 6 bulan, antibodi dari vaksin ini dikatakan menurun.

1. Riset dari China libatkan para peneliti Sinovac

Studi: Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Butuh BoosterIlustrasi vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Dokumentasi Sinovac)

Dimuat pada Minggu (25/7/2021) di jurnal medRxiv, para peneliti China menelaah lagi imunogenisitas yang dihasilkan CoronaVac terhadap SARS-CoV-2. Studi ini bertajuk "Immunogenicity and safety of a third dose, and immune persistence of CoronaVac vaccine in healthy adults aged 18-59 years".

Para peneliti datang dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Jiangsu, Fudan University, hingga dari Sinovac sendiri. Dilansir Reuters, studi ini masih menunggu ulasan sejawat (peer review).

2. Libatkan 540 peserta dan tiga kali suntikan

Studi: Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Butuh BoosterVaksin Sinovac. Dok. Kementerian Kesehatan

Untuk studi tersebut, para peneliti China merekrut 540 peserta dengan rentang usia 18-59 tahun. Mereka kemudian dibagi menjadi empat kelompok yang dijadwalkan mendapatkan suntikan CoronaVac dosis sedang (3 μg), dosis tinggi (6 μg), dan plasebo.

Semua peserta mendapatkan suntikan hingga tiga dosis dalam waktu 28 hari dan 6-8 bulan setelah dosis ke-2 yang juga dibagi menjadi 14-28 hari. Pembagiannya adalah:

  • Jadwal 1: hari 0, 14, dan 42
  • Jadwal 2: hari 0, 14, dan 194
  • Jadwal 3: hari 0, 28, dan 56
  • Jadwal 4: hari 0, 28, dan 208

3. Hasil: antibodi Sinovac meluruh dalam waktu 180 hari atau 6 bulan setelah dosis ke-2

Studi: Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Butuh BoosterVaksin Sinovac yang akan diserahkan dari Dinas Kesehatan Jawa Timur ke Pemerintah Kota Surabaya pada hari Senin (13/1/2021). (Twiter.com/SapawargaSby)

Untuk menguji imunogenisitas CoronaVac, para peneliti mengambil sampel darah para relawan dalam waktu yang juga dijadwalkan berbeda, yaitu:

  • Kelompok Jadwal 1: hari 0, 28, 42, dan 70
  • Kelompok Jadwal 2: hari 0, 28, 42, 194, dan 208
  • Kelompok Jadwal 3: hari 0, 56, 84, dan 236
  • Kelompok Jadwal 4: hari 0, 56, 208, dan 236

Dilansir Reuters, studi dari China ini mencatatkan kalau imunogenisitas yang dihasilkan CoronaVac ternyata mengalami penurunan yang cukup signifikan setelah waktu 6 bulan. Pada kelompok jadwal 2 dan 4, hanya 16,9 dan 35,2 persen yang masih memiliki tingkat antibodi di atas ambang rata-rata enam bulan setelah dosis kedua.

Baca Juga: Vaksin Sinovac dan Sinopharm Ampuh Lawan Varian Delta? Ini Kata Ahli

4. Suntikan dosis ketiga atau booster akan membantu

Studi: Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Butuh Boosterilustrasi vaksin Sinovac (IDN Times/Andri NH)

Belum selesai sampai situ, para peneliti China mencatat kalau dosis ketiga atau booster vaksin Sinovac setelah 6 bulan ternyata dapat membantu menaikkan antibodi para peserta. Hasil ini berlaku untuk kelompok dosis sedang dan tinggi.

Pada kelompok 2 dan 4, vaksin Sinovac dosis ketiga disuntikkan dalam rentang waktu 6 bulan. Dites 14 hari setelah penyuntikan dosis ketiga, para peserta dari kelompok 2 dan 4 masing-masing mencatatkan serokonversi hingga 100 persen dan 95,9 persen.

Meski demikian, ada sejumlah keterbatasan dalam studi ini. Selain belum menjalani proses peer review, studi ini juga tidak menguji efek antibodi CoronaVac terhadap varian yang lebih menular, seperti varian Delta, dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengukur durasi antibodi setelah suntikan dosis ketiga.

5. Berkaca pada kasus tenaga kesehatan di Indonesia

Studi: Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Butuh Boosterilustrasi penyuntikan vaksin (ANTARA FOTO/Soeren Stache/Pool via REUTERS)

Saat Indonesia memulai program vaksinasinya pada Januari lalu, para tenaga kesehatan (nakes) menjadi prioritas utama. Sebagai garda terdepan, mereka disuntikkan vaksin Sinovac. Akan tetapi, dengan masuknya varian Delta yang lebih menular, data di Kudus, Jawa Tengah, menunjukkan kalau lebih dari 350 nakes tertular varian Delta.

Alhasil, para pakar mendesak pemerintah untuk segera mendatangkan vaksin booster untuk para nakes. Vaksin Moderna pun didatangkan dari Amerika Serikat. Dengan teknologi messenger ribonucleic acid (mRNA), vaksin ini diharapkan dapat mendongkrak antibodi para nakes.

Studi: Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Butuh BoosterIlustrasi perawat yang kelelahan setelah memberikan pelayanan kepada positif COVID-19 (IDN Times/Ervan)

Apakah ini berarti vaksin Sinovac tidak efektif? Tidak begitu! Para ahli menyatakan kalau ada beberapa faktor yang memengaruhi, salah satunya adalah para nakes yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap atau malah belum divaksinasi sama sekali. Jadi, tidak bisa menyalahkan vaksin begitu saja.

Selain itu, dibandingkan tidak divaksinasi, vaksin Sinovac tetap memberikan perlindungan efektif untuk mencegah COVID-19 parah, risiko dilarikan ke rumah sakit, hingga kematian. Jadi, jangan ragu untuk vaksin karena dapat menyelamatkan nyawa.

Baca Juga: Menkes: Vaksin Moderna untuk Masyarakat dan Booster Nakes

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya