Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Suplemen untuk Membantu Pengidap Epilepsi

7 Suplemen untuk Membantu Pengidap Epilepsi
ilustrasi suplemen (pexels.com/Atlantic Ambience)
Intinya Sih
  • Banyak pengidap epilepsi mencari dukungan tambahan lewat suplemen untuk menjaga kesehatan saraf dan mengurangi frekuensi kejang, tetapi penggunaannya harus tetap diawasi dokter.

  • Beberapa nutrisi seperti omega-3, kalsium, vitamin D, asam folat, magnesium, mangan, dan taurin disebut berperan penting dalam fungsi otak serta sistem saraf.

  • Suplemen dapat membantu sebagai pendukung terapi utama epilepsi, tetapi tidak boleh menggantikan pengobatan dari dokter.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Hidup dengan epilepsi bukan hanya soal menghadapi kejang, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup sehari-hari. Selain pengobatan utama yang diresepkan dokter, banyak pengidap epilepsi mulai mencari cara tambahan untuk mendukung kesehatan saraf dan mengurangi frekuensi kekambuhan. Di sinilah peran suplemen dapat menjadi bahan perbincangan, apakah benar bisa membantu, dan sejauh mana efektivitasnya?

Beberapa nutrisi diketahui berperan penting dalam menjaga fungsi otak dan sistem saraf. Kekurangan zat tertentu bahkan dapat memperburuk kondisi neurologis. Namun, penggunaan suplemen untuk pengidap epilepsi tentu tidak bisa sembarangan. Penting untuk memahami mana yang berpotensi membantu, bagaimana cara kerjanya, serta kapan waktu yang tepat untuk mengonsumsinya agar tetap aman dan tidak mengganggu terapi utama.

1. Minyak ikan

Sebuah penelitian menemukan bahwa konsumsi tiga kapsul minyak ikan per hari, setara dengan sekitar 1.080 mg asam lemak omega-3, dapat secara signifikan menurunkan frekuensi kejang pada pasien epilepsi.

Pemberian omega-3 dosis rendah, yang merupakan kandungan utama dalam suplemen minyak ikan, berpotensi membantu mengurangi frekuensi kejang. Manfaat ini terutama terlihat pada pasien yang kejangnya belum terkontrol optimal meskipun sudah mengonsumsi obat antiepilepsi.

2. Kalsium

Kadar kalsium rendah mungkin tidak memberikan tanda-tanda peringatan pada awalnya. Namun, seiring penurunan kadarnya, seseorang mungkin merasa bingung dan mengalami halusinasi, kehilangan ingatan, dan depresi.

Karena pentingnya kalsium dalam pergerakan otot dan fungsi sistem saraf, hipokalsemia dapat menyebabkan nyeri otot, kejang, kekakuan otot, dan sensasi kesemutan di wajah, mulut, bibir, jari tangan, dan jari kaki.

Kadar kalsium rendah juga dapat menyebabkan beberapa jenis kejang, termasuk: kejang tonik-klonik, yang ditandai dengan gemetar seluruh tubuh dan kehilangan kesadaran; kejang otot fokal, di mana sekelompok otot berkontraksi di luar kehendak seseorang; dan kejang absens, di mana seseorang tampak menatap kosong ke atas.

Obat antikejang tertentu dapat berkontribusi pada penurunan kadar kalsium, terutama jika dikonsumsi setiap hari dalam jangka waktu lama. Hal ini terjadi saat obat tersebut membuat hati bekerja lebih keras dari biasanya, dan menyebabkan penghilangan endapan kalsium dari tulang, yang menyebabkan apa yang dikenal sebagai osteoporosis.

3. Vitamin D

Suplemen vitamin D.
ilustrasi suplemen vitamin D (pexels.com/Michelle Leman)

Vitamin D merupakan bagian penting dalam proses pemecahan dan penggunaan kalsium yang tepat. Oleh sebab itu, kekurangan vitamin D yang disebabkan atau diperburuk oleh penggunaan obat antikejang setiap hari dalam jangka waktu lama dapat membuat tulang menjadi sangat lunak dan rapuh, sehingga lebih mudah patah. Menambahkan vitamin D ke dalam makanan sehari-hari dapat mencegah hal ini.

Selain itu, pasien yang mengonsumsi obat antikejang harus meningkatkan asupan kalsium setiap hari. Paparan sinar matahari adalah cara alami untuk mempercepat kemampuan tubuh dalam memproduksi vitamin D.

4. Asam folat

Asam folat merupakan bagian penting dari produksi sel darah, fungsi beberapa saraf, dan membantu mencegah penyakit jantung. Kekurangan asam folat dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan intrauterin, malformasi bawaan, keguguran, dan cacat tabung saraf pada perempuan, serta penyakit jantung pada laki-laki maupun perempuan.

Bagi pasien epilepsi, hal ini sangat penting karena beberapa obat antikejang dapat menyebabkan kadar asam folat rendah dengan mengubah cara penyerapannya dalam tubuh. Pasien yang mengonsumsi lebih dari satu obat antikejang mungkin disarankan untuk mengonsumsi dosis asam folat yang lebih tinggi. 

Bayi yang lahir dari perempuan yang tidak mendapatkan cukup asam folat di awal kehamilan lebih mungkin mengalami cacat lahir, terutama jenis yang disebut cacat tabung saraf, yang memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang. Yang paling terkenal adalah spina bifida, di mana tulang belakang tidak tertutup sepenuhnya.

5. Magnesium

Magnesium terdapat dalam berbagai makanan dan berperan dalam berbagai reaksi kimia. Contohnya adalah pembentukan protein, tulang yang kuat, pengaturan gula darah, tekanan darah, fungsi otot, dan fungsi saraf.

Magnesium juga berfungsi sebagai konduktor listrik yang mengontraksikan otot dan mengatur detak jantung.

Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan untuk laki-laki dewasa usia 19-51+ tahun adalah 400-420 mg per hari dan 310-320 mg per hari untuk perempuan.

6. Mangan

Minum suplemen.
ilustrasi minum suplemen mangan (pexels.com/JESHOOTS.com)

Mangan adalah mineral mikro yang dibutuhkan tubuh. Namun, tubuh manusia tidak memproduksi mangan secara alami. Karenanya, penting untuk mengonsumsi makanan tinggi mangan, seperti biji-bijian utuh, tiram, kerang, kacang-kacangan, kedelai, beras, dan sayuran berdaun hijau.

Mangan berperan dalam memecah karbohidrat, protein, dan kolesterol serta membantu enzim dalam membangun tulang.

Mangan juga membantu menjaga agar sistem kekebalan dan reproduksi berfungsi dengan baik dan bekerja sama dengan vitamin K untuk membantu penyembuhan luka dan pembekuan darah.

Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan untuk orang dewasa usia 19+ adalah 2,3 mg per hari untuk laki-laki dan 1,8 mg untuk perempuan.

7. Taurin

Taurin memiliki efek pada sistem saraf pusat. Taurin melindungi sistem saraf dengan mengaktifkan reseptor GABAA, glisin, dan NMDA. Dengan berikatan dengan reseptor GABAA, taurin terbukti mengurangi aktivitas kejang.

Taurin juga bekerja untuk mencegah aktivitas kejang dengan meningkatkan glutamic acid decarboxylase. Taurin bertindak sebagai neuromodulator penghambat, tetapi hanya sepertiga pasien yang merespons dengan baik terhadap terapi taurin. Kisaran dosis taurin yang paling umum adalah 500-3.000 mg per hari.

Pada akhirnya, suplemen bisa menjadi pendukung, tetapi bukan pengganti pengobatan medis. Konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah paling bijak agar setiap pilihan yang diambil benar-benar mendukung kontrol kejang dan kesehatan jangka panjang.

Referensi

Defeating Epilepsy. Diakses pada Februari 2026. "Vitamins and Epilepsy."

DeGiorgio, C. M., Miller, P. R., Harper, R., Gornbein, J., Schrader, L., Soss, J., & Meymandi, S. (2014). Fish oil (n-3 fatty acids) in drug resistant epilepsy: a randomised placebo-controlled crossover study. Journal of Neurology Neurosurgery & Psychiatry, 86(1), 65–70. https://doi.org/10.1136/jnnp-2014-307749.

Pharmacy Times. Diakses pada Februari 2026. "Top 5 Natural Epilepsy Treatments."

University Hospitals. Diakses pada Februari 2026. "Epilepsy and Dietary Supplements."

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More