Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Isi ASI? Studi Ungkap 7 Molekul ASI Terkait Pertumbuhan Bayi

4 min read
Apa Isi ASI? Studi Ungkap 7 Molekul ASI Terkait Pertumbuhan Bayi
ilustrasi ibu menyusui bayinya sambil duduk di kursi (IDN Times/NRF)
  • Studi menganalisis 1.543 sampel ASI dari Kanada, Pakistan, dan Burkina Faso untuk memetakan komponen ASI serta kaitannya dengan gizi ibu dan pertumbuhan bayi.

  • Peneliti menemukan tujuh kandidat biomarker: C2, C3, C4, C5, lisin, 6′-sialyllactose, dan selenium, yang terkait fungsi kelenjar payudara, metabolisme, kekebalan, serta pertumbuhan bayi.

  • C5 mendapat perhatian karena berkaitan dengan perubahan produksi ASI, perombakan jaringan, dan respons imun, tetapi belum membuktikan sebab-akibat atau menjadi dasar konsumsi suplemen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap kali bayi menyusu, yang berpindah bukan hanya kalori, protein, atau lemak. Di dalam setiap tetes ASI tersimpan jejak aktivitas yang sedang berlangsung di tubuh ibu. Ada petunjuk tentang bagaimana kelenjar payudara bekerja, bagaimana tubuh mengatur zat gizi, hingga bagaimana sistem kekebalan dan perbaikan jaringan berjalan.

Selama ini, para ilmuwan tahu bahwa ASI penting untuk pertumbuhan bayi. Namun, mereka masih mencari jawaban atas pertanyaan: bisakah ASI menjadi semacam jendela untuk melihat apa yang terjadi di dalam tubuh ibu?

Sebuah penelitian yang terbit dalam jurnal Science pada 8 Oktober 2026 mencoba mencari jawabannya. Setelah menganalisis ribuan sampel ASI dari berbagai belahan dunia, para peneliti menemukan tujuh molekul yang tampaknya berkaitan dengan cara kelenjar payudara bekerja dan bagaimana bayi tumbuh.

  1. ASI bisa menjadi jendela ke dalam tubuh ibu

    Untuk mengungkap rahasia tersebut, para peneliti mengumpulkan 1.543 sampel ASI dari ibu-ibu di Kanada, Pakistan, dan Burkina Faso. Tak hanya melihat satu atau dua zat, mereka juga memetakan beragam komponen sekaligus, mulai dari protein, vitamin, mineral, karbohidrat, hingga molekul kecil hasil metabolisme.

    Kemudian, mereka membandingkan data itu dengan informasi mengenai status gizi ibu dan pertumbuhan bayi.

    Komposisi ASI ternyata dapat mencerminkan berbagai proses yang sedang berlangsung di kelenjar payudara, mulai dari produksi dan pengeluaran ASI, perpindahan zat gizi dari darah ke ASI, hingga aktivitas kekebalan dan perbaikan jaringan.

    Karena ASI dapat diambil berkali-kali tanpa prosedur yang menyakitkan, para peneliti melihatnya sebagai cara yang praktis untuk mengikuti perubahan biologis tersebut dari waktu ke waktu.

  2. Tujuh molekul yang menarik perhatian ilmuwan

    Ilustrasi seorang ibu yang menyusui bayinya dengan penuh perhatian, menggambarkan momen pemberian ASI kepada anak.
    ilustrasi ibu menyusui (IDN Times/NRF)

    Di antara ribuan komponen yang dianalisis, tujuh molekul muncul berulang kali sebagai kandidat penanda biologis.

    Empat di antaranya adalah C2, C3, C4, dan C5, kelompok molekul yang membantu sel mengubah zat gizi menjadi energi.

    Tiga lainnya adalah lisin, sejenis asam amino; 6′-sialyllactose, senyawa kompleks yang secara alami terdapat dalam ASI; serta selenium, mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil.

    Bagi para peneliti, molekul-molekul tersebut ibarat petunjuk yang membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi di balik proses menyusui.

    Ketika ketujuh molekul itu dilihat bersama-sama, muncul gambaran tentang berbagai fungsi penting kelenjar payudara, dari produksi ASI hingga aktivitas sistem kekebalan.

  3. Satu molekul menjadi perhatian

    Dari seluruh kandidat biomarker, satu molekul bernama C5 menjadi perhatian khusus.

    Peneliti menemukan bahwa kadar C5 yang lebih tinggi cenderung berkaitan dengan pola biologis tertentu, termasuk perubahan pada aktivitas produksi ASI, perombakan jaringan, dan respons kekebalan. Namun, bukan berarti C5 menyebabkan produksi ASI menurun atau membuat pertumbuhan bayi melambat.

    Sebaliknya, C5 justru membuka pertanyaan baru.

    Tim peneliti menduga ada kaitan antara molekul ini dan vitamin B5. Vitamin tersebut dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan koenzim A, zat yang berperan penting dalam pengolahan energi dan lemak.

    Mereka memperkirakan bahwa ketika jalur ini berubah, pola molekul seperti C5 juga ikut berubah. Namun sejauh ini, hubungan tersebut masih berupa dugaan ilmiah yang perlu diuji lebih lanjut.

  4. Belum berarti ibu perlu mengonsumsi suplemen tertentu

    Ilustrasi seorang ibu menyusui bayinya dengan penuh kasih, menggambarkan momen pemberian ASI kepada anak.
    ilustrasi ibu menyusui bayinya (IDN Times/NRF)

    Penelitian ini juga menganalisis dua uji gizi yang melibatkan ibu dan bayi. Dalam studi tersebut, pemberian suplemen membantu menjaga atau memperbaiki pertumbuhan bayi yang berisiko mengalami hambatan pertumbuhan.

    Meski demikian, hasil tersebut tidak bisa diartikan bahwa semua ibu menyusui perlu mengonsumsi suplemen vitamin B5 atau berusaha meningkatkan kadar molekul tertentu dalam ASI.

    Para peneliti menekankan bahwa tujuh molekul yang ditemukan masih berstatus kandidat biomarker. Molekul-molekul ini belum bisa digunakan sebagai tes untuk menilai kualitas ASI, apalagi memprediksi masa depan pertumbuhan bayi.

    Yang terungkap dari penelitian ini adalah bahwa kondisi gizi ibu, cara kerja kelenjar payudara, dan komposisi ASI tampaknya saling terhubung lebih erat daripada yang selama ini dipahami. Penelitian ini menunjukkan bahwa ASI bukan sekadar sumber nutrisi, melainkan juga cerminan berbagai proses biologis yang terjadi dalam tubuh ibu.

    Referensi

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More