Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mastitis Bukan karena ASI 'Basi', Ini yang Sebenarnya Terjadi

Mastitis Bukan karena ASI 'Basi', Ini yang Sebenarnya Terjadi
ilustrasi ibu menyusui (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Mastitis adalah peradangan jaringan payudara yang dapat terjadi dengan atau tanpa infeksi bakteri.

  • Gangguan aliran ASI, pembengkakan jaringan, produksi ASI berlebih, serta masalah menyusui dapat berkontribusi pada proses inflamasi. Sebagian kasus kemudian berkembang menjadi mastitis bakterial.

  • Ibu menyusui umumnya tetap dapat menyusui sesuai kebutuhan bayi, sementara memompa berlebihan dan memijat payudara dengan keras justru dapat memperburuk peradangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ibu menyusui mengalami payudara yang terasa keras, panas, nyeri, lalu muncul demam. Dalam situasi seperti ini, beberapa ibu menganggap penyebabnya adalah ASI yang terlalu lama tersimpan di payudara menjadi "basi", dan akhirnya menyebabkan mastitis.

Mastitis adalah peradangan payudara, dapat disertai infeksi ataupun tidak. Academy of Breastfeeding Medicine memandang mastitis sebagai sebuah spektrum proses inflamasi, mulai dari penyempitan saluran akibat pembengkakan jaringan hingga mastitis inflamatorik, mastitis bakterial, dan abses pada sebagian kasus.

Yang dapat terjadi adalah ASI tidak mengalir seimbang dengan produksinya. Misalnya, jadwal menyusu berubah, bayi tidak menyusu seperti biasanya, ada masalah pelekatan, atau tubuh memproduksi ASI melebihi kebutuhan bayi. Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan di dalam payudara dan berhubungan dengan pembengkakan serta peradangan.

Sebuah tinjauan sistematis terhadap 26 penelitian menemukan beberapa masalah menyusui, termasuk kerusakan puting, pembengkakan, dan gangguan aliran ASI, berkaitan dengan kejadian mastitis. Namun, kualitas bukti mengenai banyak faktor risikonya masih terbatas dan hubungan sebab-akibatnya tidak selalu sederhana.

1. Yang terjadi sebenarnya adalah peradangan dan pembengkakan

Payudara memiliki jaringan penghasil ASI dan jaringan saluran yang saling bercabang. Ketika inflamasi terjadi, jaringan di sekitar saluran dapat mengalami edema atau pembengkakan.

Ruang di sekitar saluran kemudian makin sempit. Aliran ASI menjadi lebih sulit, payudara terasa penuh atau keras, dan muncul nyeri. Proses inflamasi bisa menguat apabila produksi ASI jauh melebihi kebutuhan atau payudara terus mendapat stimulasi untuk memproduksi lebih banyak susu.

Apa yang disebut saluran ASI tersumbat tidak selalu berarti ada gumpalan padat yang menyumbat. Pandangan yang lebih baru menekankan peran inflamasi dan penyempitan saluran akibat pembengkakan jaringan.

Keluhan dapat berupa area payudara yang nyeri, panas, bengkak atau kemerahan, bagian yang terasa keras, serta rasa terbakar. Ketika inflamasi lebih berat, ibu dapat mengalami demam, menggigil, nyeri tubuh, dan merasa seperti sakit flu.

Infeksi bakteri juga dapat terjadi, tetapi tidak setiap mastitis sejak awal merupakan infeksi

Penelitian terhadap ASI dari 192 perempuan dengan mastitis dan 466 donor ASI sehat, misalnya, menemukan beberapa spesies bakteri yang sama pada kedua kelompok. Temuan ini menunjukkan adanya bakteri dalam ASI tidak berarti bakteri tersebut merupakan penyebab mastitis.

Pada kondisi tertentu, proses inflamasi dapat berkembang menjadi mastitis bakterial. Bakteri seperti Staphylococcus aureus diketahui dapat berperan pada sebagian kasus. Jika tidak ditangani dengan tepat, infeksi juga dapat berkembang menjadi kumpulan nanah atau abses payudara.

2. Payudara tidak perlu dikuras habis

Seorang ibu menyusui bayi dengan penuh perhatian, menggambarkan momen pemberian ASI dalam suasana hangat.
ilustrasi ibu menyusui (pexels.com/MART PRODUCTION)

Anggapan bahwa ada ASI basi yang harus segera dikeluarkan bisa mendorong ibu terus-terusan memompa ASi sampai payudara terasa benar-benar kosong, atau memijat bagian yang keras dengan kuat.

ABM tidak menganjurkan sengaja mengosongkan payudara sebagai tujuan terapi. Pengeluaran ASI yang jauh melebihi kebutuhan bayi dapat memberi sinyal kepada tubuh untuk membuat lebih banyak ASI sehingga produksi berlebih dan inflamasi dapat terus berlanjut.

Pada sebagian besar kondisi, ibu dapat tetap menyusui secara responsif sesuai kebutuhan bayi. Mastitis sendiri umumnya bukan alasan untuk membuang ASI atau menghentikan menyusui.

Untuk membantu meredakan inflamasi, coba kompres dingin, istirahat, serta obat pereda nyeri atau antiinflamasi sesuai anjuran tenaga medis. Tekanan kuat dan pijatan dalam pada jaringan yang meradang sebaiknya dihindari. Pijatan dalam dapat menambah trauma pada jaringan serta pembuluh darah dan limfatik kecil.

Pada prinsipnya, tetap jaga pola menyusui sambil mengurangi inflamasi dan memperbaiki faktor yang mengganggu menyusui.

3. Kapan mastitis butuh antibiotik?

Karena mastitis dapat dimulai sebagai proses inflamasi tanpa infeksi, antibiotik tidak selalu diperlukan. Namun, evaluasi medis diperlukan apabila kondisi memburuk atau tidak membaik dengan perawatan awal. Sebaiknya cari pertolongan medis jika gejala tidak membaik dalam sekitar 12–24 jam setelah penanganan di rumah.

Mastitis bakterial dapat memerlukan antibiotik. Ini juga perlu pemeriksaan lebih lanjut jika demam dan keluhan sistemik menetap, kemerahan meluas, nyeri makin berat, atau ada benjolan yang terus membesar. Kondisi yang tidak membaik setelah pengobatan bisa mengarah pada bakteri resisten atau kemungkinan abses.

Abses merupakan kumpulan nanah yang biasanya memerlukan drainase selain terapi medis. Meski demikian, menyusui pada banyak kasus tetap dapat dilanjutkan selama penanganan berlangsung.

Mastitis sendiri bukan kondisi langka. Diperkirakan sekitar 1 dari 4 perempuan yang menyusui dapat mengalami setidaknya satu episode mastitis dalam 26 minggu pertama setelah melahirkan, walaupun angka kejadian bervariasi lebar antarpenelitian. Insidensinya paling tinggi pada beberapa minggu pertama postpartum.

Mastitis merupakan proses biologis yang melibatkan inflamasi jaringan payudara dan, pada sebagian kasus, infeksi. Penanganannya melibatkan pengendalian inflamasi, mempertahankan pola menyusui yang sesuai kebutuhan bayi, dan pertolongan medis ketika gejala tidak membaik atau mengarah pada infeksi.

Referensi

World Health Organization, "Mastitis: Causes and Management," diakses Agustus 2026.

Katrina B. Mitchell et al., “Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #36: The Mastitis Spectrum, Revised 2022,” Breastfeeding Medicine 17, no. 5 (2022): 360–376, https://doi.org/10.1089/bfm.2022.29207.kbm.

Emily Wilson, Susannah L. Woodd, and Lenka Benova, “Incidence of and Risk Factors for Lactational Mastitis: A Systematic Review,” Journal of Human Lactation 36, no. 4 (2020): 673–686, https://doi.org/10.1177/0890334420907898.

Lisa Kvist et al., “The Role of Bacteria in Lactational Mastitis and Some Considerations of the Use of Antibiotic Treatment,” International Breastfeeding Journal 3 (2008): 6, https://doi.org/10.1186/1746-4358-3-6

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More