- Melahirkan untuk pertama kali.
- Persalinan caesar, terutama yang tidak direncanakan.
- Overweight atau obesitas sebelum kehamilan.
- Diabetes gestasional.
- Hipertensi dalam kehamilan.
- Gangguan tiroid.
- Usia gestasi lebih rendah.
- Frekuensi menyusui yang rendah.
ASI Sedikit di Hari Pertama, Normal atau Tidak?

ASI memang biasanya belum keluar dalam volume besar pada hari pertama. Yang diproduksi adalah kolostrum, dengan jumlah kecil tetapi sesuai dengan kebutuhan sebagian besar bayi sehat cukup bulan.
Produksi ASI yang lebih banyak biasanya mulai terasa pada hari kedua hingga keempat. Bila belum ada peningkatan setelah sekitar 72 jam, kondisi ini disebut delayed secretory activation dan perlu dievaluasi.
Daripada fokus pada banyaknya produksi ASI, lebih penting untuk menilai apakah bayi menyusu efektif, buang air kecil dan besar sesuai usia, serta berat badannya naik secara baik.
Setiap 1–7 Agustus diperingati sebagai Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week. Pada 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema “Breastfeeding for a sustainable start in life: strengthen what works”. Penekanannya adalah ibu butuh dukungan nyata dari keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, hingga sistem kesehatan agar dapat menyusui sesuai kebutuhan.
Menyusui tidak selalu lancar, bahkan dari hari pertama. Misalnya ASI cuma keluar beberapa tetes. Payudara belum terasa penuh dan ketika diperah, jumlahnya jauh dari volume untuk satu botol.
Dalam banyak kasus, ini normal. Pada hari-hari pertama, tubuh belum memproduksi ASI dalam volume besar. Cairan yang keluar disebut kolostrum, dan jumlahnya secara fisiologis masih sedikit. Sebagian besar bayi dapat memperoleh nutrisi yang mereka perlukan dari kolostrum selama beberapa hari pertama kehidupan.
Table of Content
1. Hari pertama memang belum waktunya ASI keluar banyak
Produksi ASI berlangsung bertahap.
Selama kehamilan, payudara sudah mulai mempersiapkan kolostrum. Setelah bayi dan plasenta lahir, kadar progesteron turun drastis. Perubahan hormonal tersebut kemudian memungkinkan prolaktin bisa bekerja meningkatkan produksi ASI.
Fase ketika produksi susu meningkat secara nyata disebut aktivasi sekresi (secretory activation) atau lactogenesis II. Proses ini umumnya terjadi dalam sekitar 48–72 jam setelah melahirkan, walaupun waktunya dapat berbeda pada setiap perempuan.
Jadi umumnya bukan ASI belum keluar, tetapi ASI sudah ada dalam bentuk kolostrum, hanya saja volumenya belum sebanyak ASI transisi yang muncul beberapa hari kemudian.
Kolostrum juga berbeda dari ASI matang. Cairannya lebih kental, sering berwarna kuning keemasan, dan kaya akan protein serta berbagai komponen imunologis.
WHO merekomendasikan kontak kulit ke kulit dan mulai menyusui dalam satu jam pertama setelah kelahiran jika kondisi ibu dan bayi memungkinkan. Selain memberi bayi akses terhadap kolostrum, isapan bayi membantu memberikan rangsangan untuk produksi ASI berikutnya.
2. Berapa banyak kolostrum yang normal?
Jumlah kolostrum memang jauh lebih sedikit dibanding ASI beberapa minggu kemudian.
Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) mengumpulkan data mengenai perkiraan asupan normal pada bayi sehat cukup bulan, American Academy of Pediatrics (AAP) mengadopsi kisaran yang sama dalam panduan terbarunya:
Usia bayi | Perkiraan asupan per sesi menyusu |
|---|---|
0–24 jam | 2–10 mL |
24–48 jam | 5–15 mL |
48–72 jam | 15–30 mL |
72–96 jam | 30–60 mL |
Isi tabel di atas hanyalah kisaran rata-rata, bukan target yang harus dicapai setiap kali menyusu. Bayi menyusu berdasarkan sinyal lapar dan kenyang, sehingga jumlah dan frekuensi dapat berbeda.
Karena volumenya kecil, ibu yang mencoba memerah atau memompa pada hari pertama mungkin hanya mendapatkan beberapa mililiter, bahkan cuma tetesan. Itu tidak bisa langsung menunjukkan produksi ASI bermasalah.
ABM bahkan mencatat bahwa pada beberapa hari pertama, memerah dengan tangan dapat menghasilkan kolostrum lebih banyak daripada pompa.
Yang perlu dinilai cuma jumlah ASI, tetapi juga apakah bayi benar-benar mampu mengisap ASI dari payudara.
3. Kapan produksi ASI dianggap terlambat?

Dalam penelitian laktasi, aktivasi sekresi yang terjadi lebih dari 72 jam setelah melahirkan umumnya dikategorikan sebagai terlambat.
Sebuah penelitian memperkirakan sekitar 30 persen ibu mengalami keterlambatan onset laktasi, meskipun angkanya bervariasi antarpopulasi dan penelitian.
Beberapa faktor telah dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi, antara lain:
Diabetes gestasional merupakan salah satu faktor yang cukup konsisten ditemukan. Studi menemukan perempuan dengan diabetes gestasional memiliki risiko sekitar 1,84 kali lebih tinggi mengalami keterlambatan laktogenesis.
Selain itu, ada juga peran dari berat badan ibu. Perempuan yang overweight atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami laktogenesis II setelah 72 jam dibandingkan perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT) dalam kategori sehat. Namun, bukti tentang pengaruh IMT terhadap total volume ASI berikutnya masih tidak konsisten.
4. Apa yang bisa dilakukan agar produksi ASI terstimulasi?
Prinsip utamanya adalah memberikan rangsangan dan mengeluarkan ASI secara efektif serta cukup sering.
WHO merekomendasikan menyusui secara responsif, mengikuti sinyal bayi siang maupun malam. Sebagian besar bayi butuh sekitar 8–12 kali menyusu dalam 24 jam, terutama pada hari-hari awal kehidupannya.
Beberapa langkah yang dapat membantu:
- Lakukan kontak kulit ke kulit sesering mungkin.
- Tawarkan payudara ketika bayi menunjukkan tanda lapar awal, seperti mencari puting atau memasukkan tangan ke mulut.
- Pastikan perlekatan atau latch efektif dan tidak terus-menerus menimbulkan nyeri.
- Perhatikan adanya pola mengisap dan menelan.
- Jika bayi tidak dapat menyusu langsung atau ibu dan bayi terpisah, keluarkan ASI dengan tangan atau pompa sesuai arahan tenaga kesehatan.
- Minta tenaga kesehatan atau konselor laktasi mengamati satu sesi menyusu apabila ada keraguan mengenai latch atau transfer ASI.
Ibu sebaiknya mendapatkan bantuan praktis untuk memulai dan mempertahankan menyusui, termasuk diajarkan cara memerah ASI jika sementara terpisah dari bayi.
Tidak perlu langsung mengonsumsi pelancar ASI atau galactagogue hanya karena kolostrum sedikit pada hari pertama. American College of Obstetricians & Gynecologists (ACOG) tidak merekomendasikan obat maupun herbal peningkat ASI sebagai terapi lini pertama karena bukti efektivitasnya masih terbatas dan setiap zat dapat memiliki efek samping.
Suplementasi juga tidak ditentukan hanya berdasarkan payudara yang belum terasa penuh. Kalau memang ada indikasi medis—misalnya dehidrasi, pertumbuhan tidak optimal, hipoglikemia tertentu, atau hiperbilirubinemia—jenis dan jumlah tambahan makanan perlu ditentukan berdasarkan kondisi bayi. ABM merekomendasikan ASI perah sebagai pilihan pertama jika suplementasi diperlukan.
5. Fokuslah pada kondisi bayi
Payudara yang terasa lunak atau hasil pompa yang sedikit tidak cukup untuk menentukan apakah bayi kekurangan ASI. Yang lebih penting adalah memantau transfer ASI, berat badan, urine, feses, dan kondisi klinis bayi.
Setelah produksi mulai meningkat, beberapa tanda yang mendukung kecukupan ASI adalah bayi menyusu sekitar 8–12 kali sehari, mulai mengalami kenaikan berat badan sekitar hari ke-4 atau ke-5, serta menghasilkan rata-rata 6–8 popok basah per hari.
Sebaliknya, evaluasi segera diperlukan apabila bayi:
- Sangat mengantuk atau sulit dibangunkan untuk menyusu.
- Tidak dapat melekat atau mengisap puting secara efektif.
- Buang air kecil atau buang air besar jauh lebih sedikit daripada yang diharapkan.
- Tampak makin kuning.
- Menunjukkan tanda dehidrasi.
- Berat badannya tidak mulai naik setelah beberapa hari.
- terus kehilangan berat badan secara berlebihan.
Penurunan berat badan bayi harus dinilai berdasarkan usia, cara persalinan, kondisi klinis, efektivitas menyusu, serta tanda dehidrasi.
Bagi ibu, tidak adanya peningkatan produksi ASI setelah sekitar hari ke-3 hingga ke-4, terutama disertai faktor risiko atau kesulitan menyusui, juga perlu evaluasi. Pemeriksaan dapat menilai apakah masalahnya berasal dari produksi ASI, transfer ASI oleh bayi, kondisi hormonal atau metabolik ibu, atau kombinasi beberapa faktor.
Pada dasarnya, jumlah ASI yang sedikit pada hari pertama menyusui umumnya normal. Kolostrum memang diproduksi dalam volume kecil dan jumlahnya meningkat secara bertahap. Yang perlu diwaspadai adalah ketika produksi ASI tidak meningkat sesuai waktu dan bayi menunjukkan tanda bahwa asupannya tidak mencukupi.
Referensi
Yijuan Peng, Ke Zhuang, and Yan Huang, “Incidence and Factors Influencing Delayed Onset of Lactation: A Systematic Review and Meta-Analysis,” International Breastfeeding Journal 19 (2024): 59, https://doi.org/10.1186/s13006-024-00666-5. Baca penelitian di PubMed
Jing-Ling Wu et al., “Gestational Diabetes Mellitus and Risk of Delayed Onset of Lactogenesis: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Breastfeeding Medicine 16, no. 5 (2021): 385–92, https://doi.org/10.1089/bfm.2020.0356. Baca penelitian di PubMed
Jessica M. Riddle et al., “Is Maternal Body Weight or Composition Associated with Onset of Lactogenesis II, Human Milk Production, or Infant Consumption of Mother’s Own Milk? A Systematic Review and Meta-Analysis,” Advances in Nutrition (2024). Baca artikel penelitian
Ann Kellams et al., “ABM Clinical Protocol #3: Supplementary Feedings in the Healthy Term Breastfed Neonate, Revised 2017,” Breastfeeding Medicine 12 (2017): 188–98, https://doi.org/10.1089/bfm.2017.29038.ajk. Academy of Breastfeeding Medicine Protocol #3
Adrienne E. Hoyt-Austin et al., “Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #2: Guidelines for Birth Hospitalization Discharge of Breastfeeding Dyads, Revised 2022,” Breastfeeding Medicine 17, no. 3 (2022): 197–206, https://doi.org/10.1089/bfm.2022.29203.aeh. Baca penelitian di PubMed
World Health Organization, “World Breastfeeding Week 2026: Breastfeeding for a Sustainable Start in Life: Strengthen What Works,” diakses Agustus 2026.
American College of Obstetricians and Gynecologists, “Breastfeeding Challenges,” diakses Agustus 2026.









![[QUIZ] Kamu Butuh Fisioterapi atau Sports Massage? Cek Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_0bdce4901725d94b6b6f10a30dec8b93_0592cd02-9894-477c-bc4d-ee5633d01051.png)










