Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi suplemen kreatin (pexels.com/www.kaboompics.com)
  • Jantung memang memakai kreatin dalam sistem pengelolaan energi, tetapi suplemen kreatin belum terbukti membuat jantung orang sehat memompa lebih kuat.

  • Sejumlah penelitian kecil menemukan perubahan pada ukuran fungsi pembuluh darah. Temuan ini masih awal dan belum membuktikan kreatin mencegah penyakit jantung.

  • Kreatin belum terbukti sebagai terapi gagal jantung. Orang dengan penyakit jantung sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kreatin merupakan salah satu suplemen olahraga yang paling populer untuk membantu meningkatkan kekuatan dan performa saat latihan. Karena penggunaannya makin luas, tidak sedikit orang yang mulai bertanya-tanya apakah kreatin juga memengaruhi organ lain di luar otot, termasuk jantung.

Pertanyaan ini wajar mengingat jantung adalah otot yang bekerja tanpa henti sepanjang hidup. Namun, efek kreatin pada jantung tidak sesederhana membuat detak jantung lebih cepat atau lebih kuat. Kamu perlu memahami apa itu kreatin, bagaimana cara kerjanya di dalam tubuh, dan apa yang ditemukan berbagai penelitian tentang hubungannya dengan kesehatan jantung.

Jantung menggunakan kreatin untuk mengelola energi

Setiap kali jantung berkontraksi dan kembali rileks, sel-sel ototnya membutuhkan energi dalam bentuk adenosine triphosphate (ATP). Kreatin berperan dalam sistem yang membantu menjaga ketersediaan energi tersebut. Sebagian kreatin di dalam sel diubah menjadi fosfokreatin, yang bisa membantu membentuk kembali ATP dengan cepat ketika kebutuhan energi meningkat.

Sistem ini merupakan bagian dari cara kerja normal jantung. Sementara itu, manfaat suplemen kreatin yang paling banyak diteliti berkaitan dengan kemampuan otot rangka melakukan gerakan intens berulang, seperti mengangkat beban atau sprint. Efek pada otot rangka tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa suplemen akan meningkatkan kemampuan jantung memompa darah.

Apakah kreatin membuat jantung lebih kuat?

ilustrasi kreatin (unsplash.com/ Aleksander Saks)

Bukti pada manusia masih terbatas. Dalam uji acak terhadap 24 laki-laki berusia 55–80 tahun, peserta mengonsumsi kreatin atau plasebo selama tujuh hari dengan dosis 20 gram per hari. Indeks kekakuan pembuluh darah membaik pada kelompok kreatin. Namun, ukuran fungsi jantung seperti volume darah yang dipompa per denyut, indeks kontraktilitas, dan fraksi ejeksi tidak menunjukkan perubahan bermakna.

Studi kecil lain menguji 12 orang dewasa lanjut usia yang sehat selama empat minggu. Peneliti menemukan perubahan pada beberapa ukuran fungsi pembuluh darah, termasuk kemampuan pembuluh untuk melebar. Hasil ini masih berupa temuan awal. Studi ini mengukur fungsi pembuluh darah, bukan kejadian seperti serangan jantung atau stroke.

Karena itu, hasil penelitian tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kreatin melindungi jantung atau mencegah penyakit kardiovaskular. Perubahan pada ukuran laboratorium juga belum tentu menghasilkan manfaat kesehatan yang terasa atau bertahan dalam jangka panjang.

Bagaimana jika seseorang mengalami gagal jantung?

Pada gagal jantung, sistem pengelolaan energi yang melibatkan kreatin dapat terganggu. Kondisi ini mendorong peneliti untuk menguji apakah kreatin bisa membantu pasien. Namun, hasil studi tentang suplemen kreatin oral masih terbatas dan beragam. Tinjauan sistematis pada 2026 menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia belum menunjukkan manfaat langsung yang konsisten terhadap fungsi pompa jantung.

Salah satu uji klinis melibatkan 33 laki-laki dengan gagal jantung yang mengonsumsi kreatin 5 gram per hari atau plasebo selama enam bulan. Studi itu tidak menemukan peningkatan bermakna pada kapasitas latihan, termasuk jarak berjalan dalam enam menit.

Jadi, kreatin tidak bisa menggantikan obat, rehabilitasi, atau perawatan yang diresepkan dokter untuk gagal jantung.

Apakah kreatin berisiko bagi jantung?

ilustrasi kreatin (unsplash.com/HowToGym)

European Association of Preventive Cardiology menyebut belum ada efek samping kardiovaskular serius yang terbukti secara konsisten terkait kreatin. Namun, penelitian khusus jantung dan data penggunaan jangka panjang masih terbatas. Laporan kasus pernah mengaitkan kreatin dengan gangguan irama jantung, tetapi laporan semacam itu tidak dapat membuktikan bahwa kreatin adalah penyebabnya.

Kreatin monohidrat juga berbeda dari produk pre-workout yang mencampurkan banyak bahan. Efek keamanan kreatin sebagai bahan tunggal tidak otomatis berlaku untuk semua produk campuran; bahan lain, termasuk stimulan, perlu diperiksa pada labelnya. Kombinasi bahan dalam suplemen dapat mengubah efek dan keamanannya.

Jika kamu memiliki penyakit jantung, gangguan irama, atau kondisi kesehatan lain, bicarakan dulu dengan dokter sebelum mulai mengonsumsi suplemen.

Kesimpulannya, jantung memang menggunakan kreatin sebagai bagian dari sistem energinya, tetapi sampai sekarang suplemen kreatin belum terbukti membuat jantung orang sehat memompa lebih kuat atau mencegah penyakit jantung.

Referensi

Craig A. Lygate, “Maintaining Energy Provision in the Heart: The Creatine Kinase System in Ischaemia–Reperfusion Injury and Chronic Heart Failure,” Clinical Science 138, no. 8 (2024): 491–514, https://doi.org/10.1042/CS20230616.

Adrian Aron, Eryn J. Landrum, Adam D. Schneider, Megan Via, Logan Evans, and Eric S. Rawson, “Effects of Acute Creatine Supplementation on Cardiac and Vascular Responses in Older Men: A Randomized Controlled Trial,” Clinical Nutrition ESPEN 63 (2024): 557–63, https://doi.org/10.1016/j.clnesp.2024.07.008.

Holly E. Clarke et al., “Effect of Creatine Monohydrate Supplementation on Macro- and Microvascular Endothelial Function in Older Adults: A Pilot Study,” Nutrients 17, no. 1 (2025): 58, https://doi.org/10.3390/nu17010058.

Francisco Epelde and María Pilar Martínez López, “Efficacy and Safety of Oral Creatine Supplementation in Patients with Heart Failure: A PRISMA 2020 Systematic Review and Narrative Evidence Synthesis,” International Journal of Environmental Research and Public Health 23, no. 9 (2026): 1130, https://doi.org/10.3390/ijerph23091130.

Ana Paula Perillo Ferreira Carvalho et al., “Influence of Creatine Supplementation on the Functional Capacity of Patients with Heart Failure,” Arquivos Brasileiros de Cardiologia 99, no. 1 (2012): 623–29, https://doi.org/10.1590/S0066-782X2012005000056.

Paolo Emilio Adami et al., “Cardiovascular Effects of Doping Substances, Commonly Prescribed Medications and Ergogenic Aids in Relation to Sports: A Position Statement of the Sport Cardiology and Exercise Nucleus of the European Association of Preventive Cardiology,” European Journal of Preventive Cardiology 29, no. 3 (2022): 559–75, https://doi.org/10.1093/eurjpc/zwab198.

National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements, “Dietary Supplements for Exercise and Athletic Performance: Fact Sheet for Health Professionals,” diakses 7 November 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article