Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lemak Cokelat Dikaitkan dengan Lebih Sedikit Diagnosis Depresi

3 min read
Lemak Cokelat Dikaitkan dengan Lebih Sedikit Diagnosis Depresi
ilustrasi perempuan tersenyum bahagia (pexels.com/Micah Eleazar)
  • Studi terhadap 101.243 pasien kanker menemukan lemak cokelat terdeteksi pada 8.897 pasien dan berkaitan dengan risiko diagnosis kecemasan 22 persen lebih rendah serta episode depresi 32 persen lebih rendah.

  • Lemak cokelat membakar energi untuk menghasilkan panas dan dapat terlihat lewat PET/CT; pasien dengan jaringan ini juga menunjukkan beberapa penanda metabolik serta peradangan yang lebih baik.

  • Hubungan ini tidak membuktikan lemak cokelat mencegah gangguan mental. Data pasien kanker dan studi losartan pada sel serta tikus belum mendukung penggunaan terapi untuk depresi atau kecemasan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemindaian PET/CT yang dilakukan dalam perawatan kanker dapat menunjukkan lebih dari sekadar aktivitas tumor. Pada pencitraan tersebut, peneliti juga dapat melihat jaringan lemak cokelat, yaitu jaringan yang aktif menggunakan energi dan menghasilkan panas.

Ketika menautkan hasil pemindaian dengan catatan kesehatan lebih dari 100 ribu pasien, peneliti menemukan satu pola, bahwa pasien yang lemak cokelatnya terdeteksi memiliki lebih sedikit catatan diagnosis gangguan kecemasan dan episode depresi. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal Nature pada 2026.

  1. Lemak cokelat berbeda dari lemak putih

    Sebagian besar lemak tubuh berwarna putih. Jaringan ini terutama menyimpan energi. Lemak cokelat bekerja secara berbeda, yang mana sel-selnya membakar energi untuk menghasilkan panas, terutama ketika tubuh terpapar suhu dingin. Pada orang dewasa, jaringan ini dapat ditemukan di sekitar leher, dada, ketiak, dan sepanjang tulang belakang.

    PET/CT dapat membantu mendeteksinya karena pemindaian tersebut menggunakan zat pelacak yang menyerupai glukosa. Jaringan lemak cokelat yang aktif menyerap zat itu dan tampak pada pencitraan.

  2. Temuan studi

    Ilustrasi seseorang mengalami kecemasan sebagai gambaran kondisi kesehatan mental dan tekanan emosional.
    ilustrasi mengalami kecemasan (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Tim peneliti menganalisis data 101.243 pasien Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York, Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, 8.897 pasien memiliki lemak cokelat yang terdeteksi pada pemindaian.

    Setelah memperhitungkan sejumlah faktor—termasuk usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, serta jenis dan tahap kanker—keberadaan lemak cokelat tetap berkaitan dengan odds diagnosis gangguan kecemasan yang lebih rendah, yaitu 22 persen. Odds episode depresi yang tercatat juga lebih rendah, sekitar 32 persen.

    Angka tersebut merujuk pada odds diagnosis dalam data penelitian, bukan bukti bahwa lemak cokelat mengurangi risiko gangguan mental. Peneliti mengolah catatan diagnosis pasien. Studi ini tidak menguji apakah lemak cokelat menyebabkan perubahan suasana hati atau mencegah depresi dan kecemasan.

    Tim peneliti juga menggunakan pembelajaran mesin untuk memperkirakan volume dan aktivitas lemak cokelat pada sekitar 8.700 pasien. Aktivitas yang lebih tinggi, terutama di area ketiak, berkaitan dengan sejumlah indikator kesehatan metabolik dan jantung yang lebih baik. Namun, temuan mengenai kecemasan dan depresi berasal dari perbandingan pasien dengan dan tanpa lemak cokelat yang terdeteksi, bukan dari pengukuran aktivitas lemak tersebut.

  3. Hubungan ini belum menjelaskan penyebab

    Pasien yang lemak cokelatnya terdeteksi juga memiliki beberapa penanda metabolik yang lebih baik, seperti kadar gula darah dan trigliserida yang lebih rendah, serta penanda peradangan yang lebih rendah. Kondisi metabolik ini mungkin berkaitan dengan temuan kesehatan mental, tetapi penelitian tersebut belum membuktikan jalur penyebabnya.

    Ada pula batasan penting. Data berasal dari pasien yang menjalani pemindaian di pusat kanker, sehingga hasilnya belum tentu menggambarkan populasi umum. Jenis kanker dan pengobatan pasien juga beragam, dan faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi hasil meski telah diperhitungkan dalam analisis. Karena penelitian ini melihat catatan yang sudah ada, hubungan yang ditemukan tidak dapat memastikan mana yang muncul lebih dahulu atau apakah ada faktor lain yang berperan.

    Peneliti turut menguji obat losartan pada sel lemak cokelat di laboratorium dan pada tikus. Eksperimen itu melihat aktivitas jaringan dan penggunaan energi, bukan perubahan kecemasan atau depresi. Karena itu, temuan ini belum menjadi dasar untuk memakai losartan atau cara lain untuk mengaktifkan lemak cokelat sebagai terapi kesehatan mental. Pasien juga tidak sebaiknya menghentikan obat antidepresan berdasarkan hasil studi ini.

    Studi lanjutan perlu menguji apakah lemak cokelat benar-benar berperan dalam kesehatan mental, termasuk pada orang tanpa kanker dan dalam penelitian yang mengikuti peserta dari waktu ke waktu.

    Referensi

    Nicolás Gómez-Banoy et al., “Artificial Intelligence-Enabled Clinical Phenotyping of Human Brown Fat,” Nature, 14 Oktober 2026, https://doi.org/10.1038/s41586-026-11162-7.

    Christine Lehmann, “Brown Fat May Benefit Cardiovascular, Psychiatric Health,” NIH Research Matters, diakses 7 November 2026.

    ScienceAlert, “‘Good’ Body Fat Is Linked to Fewer Anxiety and Depression Diagnoses,” diakses 7 November 2026.

Related Articles

See More