Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa yang Terjadi pada Tubuh Selama Rangkaian Ibadah Haji?

Apa yang Terjadi pada Tubuh Selama Rangkaian Ibadah Haji?
Jemaah haji saat berjalan di King Fahd Road Mina, Arab Saudi menuju Jamarat. (IDN Times/Sunariyah)
Intinya Sih
  • Ibadah haji menuntut aktivitas fisik tinggi di tengah panas ekstrem, membuat jantung, otot, dan sistem tubuh bekerja keras menjaga keseimbangan energi serta suhu tubuh.

  • Risiko utama selama haji meliputi dehidrasi, kelelahan berat, gangguan ginjal, dan penularan infeksi akibat kepadatan massa serta kondisi lingkungan yang menantang.

  • Lansia dan jemaah dengan penyakit kronis lebih rentan terhadap stres fisik; persiapan seperti latihan jalan, hidrasi cukup, tidur teratur, dan vaksinasi sangat disarankan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dari sudut pandang kesehatan, haji adalah salah satu aktivitas kerumunan massa yang secara fisik sangat menantang. Berhari-hari, jutaan orang bergerak di area yang sama, berjalan jauh, terpapar suhu tinggi hingga ekstrem, tidur tidak teratur, dan menjalani aktivitas ibadah yang padat hampir tanpa jeda panjang. Dan, tubuh jemaah terus bekerja keras selama rangkaian ini berlangsung.

Dari jantung, paru-paru, otot, ginjal, hingga sistem imun, semuanya ikut beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan beban fisik yang tidak biasa seperti saat haji.

Tantangan terbesar selama ibadah haji berkaitan dengan panas ekstrem, kelelahan fisik, dehidrasi, penyakit infeksi, dan kepadatan manusia dalam jumlah besar. Karena itu, memahami apa yang terjadi pada tubuh selama haji penting agar jemaah dapat mempersiapkan dan menyesuaikan diri dengan lebih baik.

Table of Content

1. Tubuh mengalami beban aktivitas fisik yang tinggi

1. Tubuh mengalami beban aktivitas fisik yang tinggi

Tawaf, sai, perpindahan antarlokasi, berjalan menuju area ibadah, hingga aktivitas di Mina dan Arafah dapat membuat jemaah berjalan sangat jauh dalam kondisi padat dan panas.

Beberapa penelitian tentang kesehatan jemaah haji menemukan total langkah harian jemaah dapat meningkat drastis dibanding aktivitas normal sehari-hari.

Secara fisiologis, kondisi ini membuat denyut jantung meningkat, kebutuhan oksigen bertambah, otot bekerja lebih keras, dan konsumsi energi melonjak.

Bagi tubuh yang tidak terbiasa, kombinasi aktivitas panjang dan minim recovery dapat menyebabkan cepat lelah, nyeri otot, kram, hingga kelelahan berat.

Pada lansia atau orang dengan penyakit kronis, beban ini bisa menjadi tantangan besar bagi sistem kardiovaskular.

2. Jantung dan sirkulasi darah bekerja lebih keras

Cuaca panas dan aktivitas fisik membuat tubuh harus menjaga suhu inti tetap stabil.

Untuk membantu melepaskan panas, pembuluh darah kulit melebar sehingga aliran darah ke permukaan tubuh meningkat. Pada saat yang sama, jantung harus memompa lebih cepat agar sirkulasi tetap optimal.

Artinya, selama haji:

  • Detak jantung cenderung meningkat.
  • Tekanan pada sistem kardiovaskular bertambah.
  • Tubuh bekerja ekstra untuk mendinginkan diri.

Pada jemaah sehat, tubuh biasanya mampu beradaptasi. Namun pada jemaah dengan hipertensi, penyakit jantung, gangguan pembuluh darah, atau kebugaran rendah, kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Penelitian menunjukkan penyakit kardiovaskular termasuk salah satu penyebab utama masalah kesehatan serius selama haji.

3. Risiko dehidrasi meningkat sangat cepat

Ribuan jemaah haji berpakaian ihram berkumpul di kawasan Mina, Makkah, dengan latar belakang perbukitan dan langit cerah.
Jemaah haji di Mina, Makkah (IDN Times/Sunariyah)

Salah satu tantangan terbesar selama haji adalah panas. Arab Saudi, terutama saat musim panas, dapat memiliki suhu lingkungan yang sangat tinggi. Tubuh merespons dengan meningkatkan produksi keringat untuk membantu pendinginan. Masalahnya, banyak jemaah tidak sadar berapa banyak cairan yang hilang.

Dehidrasi dapat menyebabkan:

  • Pusing.
  • Lemas.
  • Sakit kepala.
  • Denyut jantung meningkat.
  • Tekanan darah turun.
  • Gangguan ginjal.

Paparan panas dan aktivitas fisik berat dalam kerumunan besar meningkatkan risiko heat exhaustion dan heat stroke.

Yang membuat situasi lebih sulit, rasa haus pada lansia kadang sudah menurun sehingga dehidrasi bisa terlambat disadari.

4. Ginjal ikut terdampak

Saat tubuh kekurangan cairan, ginjal harus bekerja lebih keras menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.

Kalau dehidrasi berlangsung terus-menerus, aliran darah ke ginjal dapat menurun. Dalam kondisi berat, ini dapat meningkatkan risiko:

  • Gangguan fungsi ginjal sementara.
  • Ketidakseimbangan elektrolit.
  • Memperburuk penyakit ginjal yang sudah ada.

Karena itu, hidrasi selama haji merupakan bagian penting dari menjaga fungsi organ.

5. Otot dan sendi mengalami tekanan besar

Jalan kaki jarak jauh membuat otot kaki dan sendi bekerja terus-menerus. Tubuh dapat mengalami:

  • Mikrotrauma otot.
  • Peradangan ringan.
  • Nyeri telapak kaki.
  • Pegal lutut.
  • Hingga pembengkakan kaki.

Pada jemaah yang sebelumnya jarang berjalan jauh, otot lebih cepat mengalami kelelahan.

Selain itu, penggunaan sandal atau alas kaki yang kurang sesuai dapat memperburuk tekanan pada kaki.

Aktivitas berjalan lama pada permukaan keras dalam suhu panas, dalam dunia sports medicine, memang diketahui meningkatkan beban biomekanik tubuh bagian bawah.

6. Sistem imun bisa menurun sementara

Jemaah haji berjalan menuju terowongan King Fahd Road di Mina, Arab Saudi, dengan latar pegunungan dan papan petunjuk arah berbahasa Arab dan Inggris.
Jemaah haji saat akan melalui terowongan di King Fahd Road Mina, Arab Saudi. (IDN Times/Sunariyah)

Kurang tidur, stres fisik, kepadatan manusia, dan kelelahan dapat memengaruhi sistem imun.

Selama haji, jemaah berada dalam situasi dengan kontak manusia sangat intens. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan penyakit infeksi, terutama infeksi saluran napas, flu, COVID-19, pneumonia, dan infeksi gastrointestinal.

Para ahli menekankan pentingnya vaksinasi, kebersihan tangan, dan penggunaan masker pada kondisi tertentu selama haji.

Penelitian menunjukkan infeksi saluran pernapasan termasuk masalah kesehatan paling umum pada jemaah haji.

7. Tidur sering tidak teratur

Selama haji, pola tidur banyak jemaah berubah drastis.

Ada beberapa penyebab, seperti jadwal ibadah padat, perpindahan lokasi, kepadatan tenda, suhu, suara lingkungan, dan kelelahan fisik.

Kurang tidur dapat memengaruhi konsentrasi, mood, sistem imun, dan recovery tubuh.

Tubuh yang kurang tidur juga lebih sulit mengatur suhu dan stres fisiologis.

Karena itu, kelelahan selama haji sering bukan hanya akibat berjalan jauh, tetapi juga akumulasi kurang istirahat.

8. Otak dan emosi juga mengalami beban besar

Haji bukan hanya perjalanan fisik.

Keramaian ekstrem, perubahan rutinitas, tekanan waktu, rasa khawatir tersesat, kelelahan, dan emosi spiritual yang intens dapat memberi beban mental tersendiri.

Pada sebagian orang, kondisi ini bisa memicu stres, mudah emosional, cemas, atau kelelahan mental.

Namun menariknya, beberapa penelitian juga menunjukkan pengalaman spiritual dan dukungan sosial selama ibadah dapat membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis pada banyak jemaah. Artinya, tubuh dan pikiran mengalami proses yang sangat kompleks selama haji, bukan hanya kelelahan fisik.

9. Kenapa lansia lebih rentan

Jemaah haji asal Afrika mengenakan pakaian ihram berjalan di area kedatangan Bandara Jeddah dengan membawa tas besar berwarna merah muda.
Jemaah Haji asal Afrika tiba di Bandara Jeddah. (IDN Times/Sunariyah)

Banyak jemaah haji lansia, dan tubuh lansia memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda.

Misalnya:

  • Rasa haus menurun.
  • Regulasi suhu tubuh tidak seefektif usia muda.
  • Pemulihan otot lebih lambat.
  • Cadangan fisiologis lebih kecil.

Karena itu, lansia lebih rentan mengalami:

  • Dehidrasi.
  • Heat stress.
  • Jatuh.
  • Kelelahan berat.

Inilah sebabnya persiapan fisik sebelum haji menjadi sangat penting.

10. Cara membantu tubuh lebih siap

Beberapa langkah yang direkomendasikan meliputi:

  • Latihan jalan sebelum berangkat: membantu tubuh beradaptasi terhadap aktivitas panjang.
  • Menjaga hidrasi: minum rutin meski belum haus.
  • Tidur dan recovery: mengatur energi selama rangkaian ibadah.
  • Mengenakan alas kaki yang tepat: mengurangi risiko cedera kaki dan nyeri sendi.
  • Vaksinasi dan kebersihan tangan: mengurangi risiko penyakit infeksi.
  • Mengenali tanda-tanda heat exhaustion: seperti pusing, mual, keringat berlebihan, lemas, atau kebingungan.

Selama rangkaian ibadah haji, tubuh mengalami kombinasi beban fisik, panas lingkungan, perubahan tidur, tekanan fisiologis, dan paparan infeksi dalam skala yang sangat besar. Jantung bekerja lebih keras, tubuh kehilangan banyak cairan, otot terus aktif, sistem imun menghadapi tantangan baru, dan otak ikut beradaptasi terhadap kelelahan serta emosi yang intens.

Jadi, selain merupakan perjalanan spiritual, haji juga perjalanan biologis yang menuntut daya tahan tubuh, kemampuan adaptasi, dan persiapan kesehatan yang matang.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. "CDC Yellow Book 2024: Health Information for International Travel." Diakses Mei 2026.

Qanta A Ahmed, Yaseen M Arabi, and Ziad A Memish, “Health Risks at the Hajj,” The Lancet 367, no. 9515 (March 1, 2006): 1008–15, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(06)68429-8.

Shuja Shafi et al., “Hajj: Health Lessons for Mass Gatherings,” Journal of Infection and Public Health 1, no. 1 (January 1, 2008): 27–32, https://doi.org/10.1016/j.jiph.2008.08.008.

Jaffar A. Al-Tawfiq et al., “Mass Gatherings and the Spread of Respiratory Infections. Lessons From the Hajj,” Annals of the American Thoracic Society 13, no. 6 (April 18, 2016): 759–65, https://doi.org/10.1513/annalsats.201511-772fr.

Saudi Ministry of Health. “Health Guidelines before Hajj and Umrah.” Diakses Mei 2026.

World Health Organization. “Mass Gatherings.” Diakses Mei 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More