Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Heatstroke saat Haji, Kenapa Banyak Jemaah Bisa Tiba-tiba Tumbang?

Heatstroke saat Haji, Kenapa Banyak Jemaah Bisa Tiba-tiba Tumbang?
Jemaah haji tiba di Bir Ali Madinah untuk niat umrah wajib sebelum masuk ke Makkah (IDN Times/Sunariyah)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Setiap musim haji, banyak jemaah tumbang akibat heatstroke saat suhu di Makkah dan sekitarnya mencapai 45–50 derajat Celsius, membuat tubuh gagal menjaga kestabilan panas.

  • Heatstroke terjadi ketika suhu inti tubuh melebihi 40 derajat Celsius, menyebabkan otak, jantung, dan ginjal terganggu hingga berisiko kolaps mendadak di tengah ibadah.

  • Faktor pemicu utama meliputi dehidrasi, aktivitas fisik panjang, kepadatan ekstrem, serta pakaian ihram tanpa pelindung kepala; pencegahan dilakukan dengan hidrasi rutin dan perlindungan dari sinar matahari.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Langkah itu awalnya mantap. Di tengah arus jutaan manusia yang bergerak menuju lokasi jumrah, seorang jemaah tampak berjalan seperti yang lain. Langkahnya pelan, teratur, mengikuti ritme ibadah. Matahari siang lebih dari terik, tetapi juga menyengat, seperti membakar dari kepala hingga ujung kaki. Suhu mendekati 50 derajat Celsius, dan aspal memantulkan panas dari bawah.

Beberapa menit kemudian, langkahnya melambat. Ia berhenti. Tangannya sempat terangkat, seolah ingin menjaga keseimbangan. Lalu akhirnya ia roboh, tanpa teriakan, tanpa tanda dramatis lainnya.

Kejadian seperti ini berulang setiap musim haji. Di Tanah Suci, fenomena jemaah yang tumbang tiba-tiba bukan sekadar kelelahan biasa. Dalam banyak kasus, ini adalah manifestasi dari kondisi medis serius, yaitu heatstroke.

Table of Content

Kegagalan tubuh melakukan penyesuaian

Kegagalan tubuh melakukan penyesuaian

Berbeda dengan aktivitas sehari-hari, ibadah haji mempertemukan beberapa faktor risiko sekaligus, yaitu suhu ekstrem, aktivitas fisik intens, dan kepadatan manusia dalam skala besar.

Di Makkah, Mina, dan Arafah, suhu siang hari dapat menembus 45 hingga 50 derajat Celsius, bahkan dalam beberapa laporan bisa mencapai lebih dari itu. Dalam kondisi seperti ini, tubuh manusia bekerja keras menjaga suhu tetap stabil, biasanya melalui keringat. Namun, pada titik tertentu, mekanisme ini gagal.

Heatstroke terjadi ketika suhu inti tubuh melewati 40 derajat Celcius, dan sistem pengatur panas di otak tidak lagi mampu berfungsi optimal. Tubuh kehilangan kemampuan untuk mendinginkan diri. Akibatnya, organ-organ vital mulai terdampak. Berikut mekanismenya:

  • Otak mengalami gangguan fungsi: kebingungan hingga pingsan.
  • Jantung bekerja lebih keras: risiko kolaps meningkat.
  • Ginjal mengalami stres berat: berpotensi cedera akut.

Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa terlihat baik-baik saja, lalu dalam hitungan menit kehilangan kesadaran.

Faktor yang bisa memperburuk kondisi

Jemaah haji mengisi air zamzam ke dalam gelas dari deretan wadah besar di area Masjid Nabawi dengan suasana ramai dan tertib.
Jemaah haji mengambil air zamzam yang di Masjid Nabawi (IDN Times/Sunariyah)

Masalahnya bukan hanya suhu tinggi. Heatstroke pada jemaah haji biasanya merupakan hasil dari beberapa faktor yang saling memperburuk, seperti:

  • Dehidrasi yang tidak disadari: Banyak jemaah kehilangan cairan lebih cepat daripada yang mereka gantikan. Dalam kondisi panas ekstrem, tubuh bisa kehilangan literan cairan dalam waktu singkat.
  • Kemampuan adaptasi: Jemaah dari negara beriklim tropis sekalipun tetap bisa "kaget" dengan panas gurun yang kering dan ekstrem. Tubuh belum sempat beradaptasi.
  • Aktivitas fisik berkepanjangan: Ritual seperti tawaf, sai, terutama melempar jumrah mengharuskan jemaah berjalan jauh di ruang terbuka.
  • Kepadatan ekstrem: Jutaan orang berkumpul di area terbatas menciptakan mikroklimat yang lebih panas, dengan sirkulasi udara yang terbatas.
  • Faktor pakaian dan aturan ibadah: Pada laki-laki, aturan ihram yang tidak memperbolehkan penutup kepala meningkatkan paparan langsung terhadap panas matahari.

Cara melindungi diri dari heatstroke

Pencegahan heatstroke di Tanah Suci adalah kombinasi antara sistem yang disiapkan otoritas dan perilaku individu jemaah. Langkah sederhana namun vital, yaitu:

  • Minum air secara rutin, bahkan sebelum merasa haus.
  • Menggunakan payung atau pelindung dari sinar matahari.
  • Menghindari aktivitas di puncak terik jika memungkinkan.
  • Mengenali tanda awal heat exhaustion.
  • Beristirahat saat tubuh mulai lelah.

Referensi

"Saudi Arabia reports five heat exhaustion cases among pilgrims, urges precautions amid soaring temperatures". Arab News. Diakses April 2026.

Ghaznawi, Hassan I., and Mohammad A. Ibrahim. “Heat Stroke and Heat Exhaustion in Pilgrims Performing the Haj (Annual Pilgrimage) in Saudi Arabia.” Annals of Saudi Medicine 7, no. 4 (October 1, 1987): 323–26.

Salmon-Rousseau, A., E. Piednoir, V. Cattoir, and A. De La Blanchardière. “Hajj-associated Infections.” Médecine Et Maladies Infectieuses 46, no. 7 (May 24, 2016): 346–54.

Alamoudi, Fatmah, Halah Almulla, Magda Yousif, Nouf Alnaimi, Adil Abdalla, Mahmoud Abdel Hameed Shahin, and Faizan Kashoo. “Heatstroke Knowledge and Predictors Among Hajj Health Volunteers in Saudi Arabia: A Cross-sectional Study.” PeerJ 14 (February 19, 2026): e20816.

Yezli, Saber, Yara Yassin, Sujoud Ghallab, Mashan Abdullah, Bisher Abuyassin, Ramesh Vishwakarma, and Abderrezak Bouchama. “Diagnosing and Managing Heat Exhaustion: Insights From a Systematic Review of Cases in the Desert Climate of Mecca.” Reviews on Environmental Health 39, no. 4 (August 3, 2023): 729–36.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More