Narsisme sering dibicarakan dalam konteks hubungan yang melelahkan, seperti orang tua yang selalu ingin dipuji, pasangan yang haus validasi, atau figur otoritas yang sulit menerima kritik. Dari situ, berbagai pertanyaan muncul, salah satunya apakah narsisme turun-temurun dalam keluarga?
Pertanyaan tersebut wajar. Penelitian psikologi selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kepribadian, termasuk sifat narsistik, terbentuk dari perpaduan antara faktor biologis dan pengalaman hidup. Keluarga menjadi ruang pertama tempat seseorang belajar mengenali diri, membangun harga diri, dan memahami relasi dengan orang lain.
Namun, narsisme bukan sekadar sifat percaya diri yang berlebihan. Dalam bentuk klinisnya—narcissistic personality disorder (NPD)—narsisme adalah gangguan kepribadian yang dapat berdampak signifikan pada relasi sosial, kesehatan mental, dan kualitas hidup, baik bagi penderitanya maupun orang-orang di sekitarnya.