Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

9 Organ Tubuh yang Bisa Terdampak akibat Diabetes

5 min read
9 Organ Tubuh yang Bisa Terdampak akibat Diabetes
ilustrasi orang dengan diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Diabetes dapat memengaruhi pembuluh darah kecil dan besar serta saraf, sehingga dampaknya bisa dirasakan di berbagai bagian tubuh.

  • Komplikasi yang dikenal antara lain gangguan pada jantung, mata, ginjal, saraf, dan kaki; diabetes tipe 2 juga berkaitan dengan beberapa kondisi lain, seperti penyakit hati berlemak.

  • Pemeriksaan rutin membantu menemukan masalah lebih awal, bahkan sebelum muncul keluhan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Diabetes dikenal sebagai penyakit yang berkaitan dengan gula darah. Padahal, dampaknya tidak berhenti pada kadar gula yang tinggi. Jika tidak terkontrol dalam jangka panjang, diabetes dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh karena kadar gula yang tinggi bisa merusak pembuluh darah dan saraf.

Akibatnya, gangguan tidak hanya dapat terjadi pada pankreas atau sistem metabolisme, tetapi juga pada organ dan jaringan lain yang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari mata dan ginjal hingga jantung dan saraf, banyak bagian tubuh yang dapat terdampak.

Berikut sembilan organ yang bisa mengalami gangguan akibat diabetes.

  1. 1. Jantung dan pembuluh darah

    Diabetes dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke. Penyakit pembuluh darah tepi—yang mengurangi aliran darah, terutama ke kaki—juga dapat terjadi. Tekanan darah dan kadar kolesterol yang tinggi dapat menambah risiko, sehingga pemantauan kesehatan tidak hanya berfokus pada gula darah.

  2. 2. Mata

    Gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah di retina, bagian mata yang menangkap cahaya. Kondisi ini disebut retinopati diabetik. Diabetes juga berkaitan dengan risiko katarak dan glaukoma yang lebih tinggi.

    Gangguan retina dapat berkembang sebelum penglihatan terasa berubah. Karena itu, para ahli menganjurkan pemeriksaan mata menyeluruh saat seseorang sudah didiagnosis dengan diabetes tipe 2.

  3. 3. Ginjal

    Ilustrasi anatomi ginjal manusia berwarna merah dengan pembuluh darah sebagai visual organ sistem kemih.
    ilustrasi ginjal (IDN Times/Aditya Pratama)

    Ginjal menyaring zat sisa dari darah. Diabetes dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga kemampuan penyaringannya menurun. Salah satu tandanya adalah albumin, sejenis protein, muncul dalam urine. Fungsi ginjal juga dapat dinilai melalui pemeriksaan darah yang memperkirakan laju penyaringan ginjal atau eGFR.

    Penyakit ginjal kronis tidak selalu menimbulkan keluhan pada tahap awal. Orang dengan diabetes dianjurkan untuk memeriksa fungsi ginjal secara berkala agar jika ada perubahan dapat ditemukan lebih cepat.

  4. 4. Saraf

    Kerusakan saraf akibat diabetes disebut neuropati diabetik. Neuropati perifer paling sering memengaruhi kaki dan tungkai, tetapi bisa pula terjadi di tangan. Gejalanya antara lain kesemutan, rasa terbakar, nyeri, atau kebas.

    Diabetes juga dapat merusak saraf otonom yang membantu mengatur kerja organ dalam. Dampaknya dapat muncul pada denyut jantung, pencernaan, kandung kemih, fungsi seksual, keringat, dan mata.

  5. 5. Kaki

    Kaki rentan terdampak ketika kerusakan saraf mengurangi rasa nyeri, sementara aliran darah juga berkurang. Luka kecil atau lecet bisa tidak terasa, lalu sulit sembuh atau mengalami infeksi. Pada kasus yang berat, kerusakan jaringan dapat berujung pada amputasi.

    Itulah alasan pemeriksaan kaki menjadi bagian penting dalam perawatan diabetes. Kondisi saraf dan pembuluh darah kaki perlu diperiksa secara berkala oleh dokter.

  6. 6. Otak

    Ilustrasi otak manusia dengan bentuk anatomis yang digunakan sebagai visual untuk topik kesehatan mental dan neurologi.
    ilustrasi otak manusia (vecteezy.com/Sakuna Thongkum)

    Kerusakan pembuluh darah akibat diabetes dapat meningkatkan risiko stroke. Diabetes juga dikaitkan dengan masalah ingatan dan demensia vaskular, yaitu gangguan berpikir yang berhubungan dengan masalah aliran darah ke otak.

    Tinjauan penelitian yang terbit pada 2025 turut membahas demensia sebagai salah satu komplikasi yang dikaitkan dengan diabetes tipe 2. Para penulis mencatat bahwa faktor seperti resistensi insulin dan peradangan kronis juga berperan.

  7. 7. Mulut dan gusi

    Diabetes dapat meningkatkan risiko mulut kering, infeksi, dan penyakit gusi. Hubungannya dapat berjalan dua arah, yaitu diabetes bisa mempersulit kesehatan gusi, sementara peradangan gusi juga dapat menyulitkan pengelolaan gula darah. Karena itu, perawatan gigi dan gusi juga menjadi bagian dari perawatan diabetes.

  8. 8. Kulit

    Kulit dapat menjadi lebih kering atau mudah mengalami infeksi ketika diabetes tidak terkendali. Sirkulasi darah yang terganggu juga dapat membuat kulit lebih sulit pulih.

    Beberapa perubahan kulit, seperti bercak gelap dan menebal di lipatan leher atau ketiak, dapat berkaitan dengan resistensi insulin.

  9. 9. Hati

    Ilustrasi diabetes sebagai gambaran kondisi kesehatan terkait kadar gula darah dan pengelolaannya sehari-hari.
    ilustrasi diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)

    Pada diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak terkait gangguan metabolisme—kini disebut metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease/MASLD—lebih sering ditemukan. Kondisi ini berkaitan erat dengan resistensi insulin dan dapat berkembang menjadi peradangan atau jaringan parut pada sebagian orang.

    MASLD bukan berarti diabetes selalu menyebabkan kerusakan hati. Kedua kondisi bisa muncul bersama dan dipengaruhi banyak faktor.

    Banyak komplikasi diabetes dapat dicegah atau ditunda dengan perawatan yang sesuai. Pemeriksaan mata, ginjal, saraf, dan kaki membantu dokter menemukan perubahan lebih awal. Pengelolaan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol juga penting.

    Referensi

    American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes, “4. Comprehensive Medical Evaluation and Assessment of Comorbidities: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care 49, suppl. 1 (2026): S61–88, https://doi.org/10.2337/dc26-S004.

    Peter S. Hamblin et al., “The Growing Range of Complications of Diabetes Mellitus,” Trends in Endocrinology & Metabolism 36, no. 10 (2025): 943–54, https://doi.org/10.1016/j.tem.2024.12.006.

    National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Preventing Diabetes Problems,” diakses 2 November 2026, https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview/preventing-problems.

    American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes, “12. Retinopathy, Neuropathy, and Foot Care: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care 49, suppl. 1 (2026): S261–76, https://doi.org/10.2337/dc26-S012.

    American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes, “11. Chronic Kidney Disease and Risk Management: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care 49, suppl. 1 (2026): S246–60, https://doi.org/10.2337/dc26-S011.

    National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Diabetic Neuropathy,” diakses 2 November 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Your Brain and Diabetes,” diakses 2 November 2026.

    Soha Fuad Alqadi, “Diabetes Mellitus and Its Influence on Oral Health: Review,” Diabetes, Metabolic Syndrome and Obesity: Targets and Therapy 17 (2024): 107–20, https://doi.org/10.2147/DMSO.S426671.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Diabetes and Your Skin,” diakses 2 November 2026.

Related Articles

See More
9 Organ Tubuh yang Bisa Terdampak akibat Diabetes