Dalam sebuah penelitian dalam jurnal Environmental Pollution pada 2026, para peneliti menganalisis PM2.5 selama aksi protes di Beirut, Lebanon, ketika ban dan sebagian sampah digunakan untuk membakar barikade. Pada hari pembakaran, konsentrasi PM2.5 tercatat sekitar 10 kali lebih tinggi dibanding hari-hari aksi tanpa pembakaran.
Partikel tersebut juga tidak terdiri dari satu bahan saja. Karbon elemental, karbon organik, dan seng menjadi komponen utama. Para peneliti juga menemukan peningkatan berbagai senyawa hasil pembakaran, termasuk polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), dioksin, furan, dan bifenil poliklorinasi (PCB) yang menyerupai dioksin.
Ada juga temuan serupa. Dalam penelitian kebakaran ban di Iowa, Amerika Serikat. Pengukuran udara menemukan peningkatan karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), PM2.5, karbon elemental, serta berbagai jenis PAH.
Studi lain yang dilakukan saat demonstrasi nasional di Quito, Ekuador, juga menemukan bahwa puncak polusi akibat pembakaran barikade dapat melepaskan sejumlah logam yang digunakan dalam pembuatan ban, termasuk seng, kromium, besi, dan timbal.