- Insulin.
- Sulfonilurea.
- Meglitinide.
Punya Diabetes dan Ikut Demo? Waspadai Hipoglikemia

Berjalan dan berdiri lebih lama dari biasanya, ditambah makan terlambat, dapat meningkatkan risiko hipoglikemia pada pasien diabetes yang menggunakan insulin, sulfonilurea, atau meglitinide.
Gejala gula darah rendah—seperti berkeringat, gemetar, pusing, lemas, dan jantung berdebar—bisa sulit dibedakan dari efek panas atau kelelahan di tengah kerumunan.
Bawa alat pemantau gula darah jika perlu dan sumber karbohidrat cepat serap. Jangan mengandalkan makanan tersedia di lokasi.
Aksi massa di sekitar DPR/MPR RI, Jakarta, dijadwalkan berlangsung hari ini, Kamis, 27 Agustus 2026. Menghabiskan waktu berjam-jam di tengah kerumunan mungkin bukan cuma lama berdiri, tetapi seseorang bisa berjalan jauh dari titik turun kendaraan, terlambat makan, terpapar terik, dan sulit mengakses barang yang biasanya selalu tersedia di rumah. Bagi sebagian orang dengan diabetes, perubahan rutinitas semacam ini bisa memengaruhi gula darah.
Aktivitas fisik membuat otot mengambil lebih banyak glukosa untuk menghasilkan energi dan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Efek ini pada dasarnya menguntungkan. Namun, pada pengguna insulin atau obat yang merangsang pelepasan insulin, aktivitas yang jauh lebih banyak dari biasanya dapat membuat glukosa turun terlalu rendah, terlebih jika waktu makan ikut mundur.
Table of Content
1. Tidak semua orang dengan diabetes punya risiko yang sama
Hipoglikemia umumnya didefinisikan sebagai gula darah di bawah 70 mg/dL (3,9 mmol/L). Kelompok yang terutama berisiko adalah pengguna:
Hipoglikemia lebih jarang terjadi pada orang yang menggunakan kelas obat diabetes lainnya tanpa insulin atau obat pemicu sekresi insulin.
Pasien diabetes belum tentu mengalami hipoglikemia saat ikut aksi. Namun, masalah bisa muncul ketika obat yang tetap bekerja bertemu aktivitas yang lebih tinggi dan asupan makanan yang lebih sedikit atau terlambat.
2. Kenapa banyak berjalan bisa menurunkan gula darah?
Berjalan termasuk aktivitas aerobik. Ketika otot terus berkontraksi, penggunaan glukosa meningkat.
Pada orang tanpa diabetes, tubuh dapat menurunkan produksi insulin secara otomatis ketika aktivitas meningkat. Pada pengguna insulin dari luar tubuh, kadar insulin tidak selalu bisa turun dengan cara yang sama.
Tinjauan mengenai olahraga pada diabetes tipe 1 menjelaskan bahwa kombinasi peningkatan penggunaan glukosa oleh otot dan insulin yang masih aktif dapat mendorong terjadinya hipoglikemia selama maupun setelah aktivitas.
Efeknya pun belum tentu berhenti ketika seseorang pulang. Hipoglikemia setelah aktivitas dapat muncul beberapa jam kemudian karena sensitivitas terhadap insulin masih meningkat. Jadi, setelah pulang ke rumah, gula darah tetap perlu dipantau.
3. Tanda hipoglikemia bisa tersamarkan oleh suasana aksi

Ratusan pengemudi ojek online (ojol) bergerak dari arah Slipi menuju Gedung DPR RI dalam aksi demonstrasi 27 Agustus 2026, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman) Gejala gula darah rendah dapat berupa:
- Gemetar.
- Berkeringat.
- Jantung berdebar cepat.
- Lapar.
- Gugup atau gelisah.
- Pusing.
- Mudah tersinggung.
- Kebingungan.
Di tengah cuaca panas dan kerumunan, beberapa keluhan tersebut mudah dianggap sebagai kepanasan, kelelahan, dehidrasi, atau respons terhadap situasi yang menegangkan.
Karena itu, bagi orang yang memang berisiko hipoglikemia, segera periksa gula darah atau lihat CGM jika memungkinkan.
4. Makan dulu sebelum berangkat
Aksi yang awalnya diperkirakan berlangsung dua jam bisa menjadi lebih lama. Tidak makan dalam waktu lama, makan terlambat, dan aktivitas fisik merupakan situasi yang dapat memicu hipoglikemia pada kelompok yang berisiko.
Sebaiknya makan sesuai jadwal yang biasa digunakan untuk menyesuaikan obat atau insulin dan jangan berangkat dalam kondisi belum makan hanya karena khawatir kesulitan mencari toilet atau makanan di lokasi.
Untuk pengguna insulin yang sudah memiliki rencana penyesuaian dosis ketika olahraga, gunakan panduan individual dari dokter. Kebutuhan insulin dan karbohidrat saat aktivitas sangat bervariasi, sehingga jangan mengurangi atau melewatkan insulin secara sembarangan. Perlu ada strategi berdasarkan jenis insulin, intensitas aktivitas, waktu makan, dan respons glukosa masing-masing orang.
5. Karbohidrat cepat serap harus mudah dijangkau
Snack biasa dan makanan untuk mengatasi hipoglikemia mempunyai fungsi berbeda.
Jika gula darah sudah turun, makanan tinggi lemak seperti cokelat bukan pilihan pertama karena lemak dapat memperlambat penyerapan glukosa.
Para ahli merekomendasikan 15 gram karbohidrat cepat serap, misalnya:
- 3–4 tablet glukosa.
- Satu dosis gel glukosa.
- Sekitar setengah cangkir atau 120 mL jus.
- Sekitar 120 mL soda biasa, bukan soda diet.
- 1 sendok makan gula atau madu.
Untuk situasi dengan akses makanan yang sulit diprediksi, gula atau madu saset bisa disimpan di tas atau saku. Simpan di tempat yang bisa diraih dengan cepat.
6. Kalau gula darah di bawah 70 mg/dL, gunakan aturan 15-15

ilustrasi satu sendok makan madu (pexels.com/Pixabay) Prinsilnya adalah mengoonsumsi sekitar 15 gram karbohidrat cepat serap, tunggu 15 menit, dan periksa kembali gula darah.
Jika masih kurang dari 70 mg/dL, konsumsi karbohidrat lagi dan ulangi pemeriksaan setelah 15 menit. Setelah gula darah kembali ke rentang aman, makan snack atau makanan yang mengandung karbohidrat dan protein jika waktu makan berikutnya masih cukup lama.
Jangan memaksakan diri tetap berjalan mengikuti kerumunan selama menangani hipoglikemia. Cari tempat yang lebih aman untuk berhenti dan pulihkan gula darah terlebih dahulu.
7. Beri tahu setidaknya satu teman
Hipoglikemia berat dapat menyebabkan kebingungan, kejang, kehilangan kesadaran, atau tidak mampu menelan makanan sendiri. Dalam situasi seperti ini, jangan memasukkan makanan atau minuman ke mulut orang yang tidak sadarkan diri karena dapat menyebabkan tersedak.
Bagi orang yang berisiko hipoglikemia berat, direkomendasikan ketersediaan glukagon dan orang di sekitar pasien sebaiknya mengetahui kapan serta bagaimana menggunakannya. Pertolongan medis darurat diperlukan jika orang tersebut tidak sadar atau tidak mampu menangani hipoglikemia sendiri.
Jadi, saat ikut demonstrasi, beri tahu setidaknya satu teman kalau kamu punya diabetes, di mana sumber glukosa atau glukagon disimpan, dan apa yang perlu dilakukan jika kamu tiba-tiba bingung atau kehilangan kesadaran.
8. Cuaca panas bisa menambah masalah
Orang dengan diabetes dapat lebih rentan terhadap gangguan akibat panas, terutama jika sudah mengalami komplikasi pada saraf atau pembuluh darah yang memengaruhi kemampuan berkeringat dan mengalirkan darah ke kulit. Pada sebagian orang, diabetes dapat mengganggu kemampuan tubuh membuang panas selama aktivitas dan paparan suhu tinggi.
Suhu tinggi juga dapat mengubah cara tubuh menggunakan insulin. Karena itu, gula darah mungkin perlu diperiksa lebih sering ketika beraktivitas saat cuaca panas.
Dehidrasi sendiri dapat mendorong gula darah naik. Jadi, panas tidak selalu membuat glukosa turun—responsnya dapat bergerak ke dua arah, tergantung aktivitas, obat, hidrasi, makanan, dan kondisi tubuh.
9. Lindungi insulin dan perangkat diabetes dari paparan panas

ilustrasi insulin (unsplash.com/Sweet Life) Jangan menyimpan insulin di bawah sinar matahari langsung atau di tempat sangat panas. Jika menggunakan tas pendingin, insulin jangan ditempelkan langsung pada es atau gel beku, karena insulin yang membeku juga dapat rusak.
Panas ekstrem juga dapat mengganggu alat pemantau gula darah, tes strip, dan perangkat diabetes tertentu.
Bagi pendemo yang menggunakan insulin atau rentan hipoglikemia, selain air dan makanan, isi tas idealnya mencakup obat, alat pemantau gula jika diperlukan, karbohidrat cepat serap, dan identifikasi medis atau informasi mengenai diabetes.
Yang perlu diantisipasi dari ikut demonstrasi adalah situasi ketika tubuh melakukan lebih banyak aktivitas daripada yang diperhitungkan oleh rutinitas makan dan pengobatan sehari-hari.
Untuk aksi massa yang berlangsung berjam-jam, pastikan hal-hal sederhana seperti makan sesuai jadwal, bawa persediaan sendiri, pantau gula darah lebih sering jika diperlukan, tetap terhidrasi, dan jangan mengabaikan gejala hanya karena mengira tubuh sedang kepanasan.
Jika mulai gemetar, berkeringat, pusing, sangat lapar, atau sulit berpikir jernih, berhenti dan cek gula darah jika memungkinkan. Di tengah keramaian, kemampuan mengenali kapan tubuh membutuhkan pertolongan sama pentingnya dengan persiapan sebelum berangkat.
Referensi
E. J. Cockcroft, P. Narendran, and R. C. Andrews, “Exercise-Induced Hypoglycaemia in Type 1 Diabetes,” Experimental Physiology 105, no. 4 (2020): 590–599, doi:10.1113/EP088219.
Dessi P. Zaharieva and Michael C. Riddell, “Insulin Management Strategies for Exercise in Diabetes,” Canadian Journal of Diabetes 41, no. 5 (2017): 507–516, doi:10.1016/j.jcjd.2017.07.004.
Glen P. Kenny, Ronald J. Sigal, and Ryan McGinn, “Body Temperature Regulation in Diabetes,” Temperature 3, no. 1 (2016): 119–145, doi:10.1080/23328940.2015.1131506.
American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes, “5. Facilitating Positive Health Behaviors and Well-being to Improve Health Outcomes: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care 49, suppl. 1 (2026).
American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes, “6. Glycemic Goals, Hypoglycemia, and Hyperglycemic Crises: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care 49, suppl. 1 (2026).
Centers for Disease Control and Prevention. “Treatment of Low Blood Sugar (Hypoglycemia).” May 15, 2024.
Centers for Disease Control and Prevention. “Managing Diabetes in the Heat.” May 15, 2024.















![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kondisi Mentalmu dari Musik Kamu Sebelum Tidur](https://image.idntimes.com/post/20250531/happy-young-woman-listening-music-bed-23-2147987843-d1d5b73e706dec953faaf651f6eb0051-040c38836cbed3098e7d1f34d34544ca.jpg)



![[QUIZ] Dari Warna Sepatu Olahragamu, Kami Tebak Cara Kamu Hadapi Tantangan](https://image.idntimes.com/post/20220409/pexels-run-ffwpu-2526878-231598487f96cc977f2f775a83051a8e-0f10c519478ccc720c29106b6975c7b5.jpg)