Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bahaya Tinggal Dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bagi Warga Sekitar
Kebakaran TPA Jatiwaringin (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
  • Tinggal dekat TPA sampah dapat meningkatkan paparan polusi udara, air lindi, bau, gas, debu, asap pembakaran, serta vektor penyakit seperti lalat, tikus, dan nyamuk.

  • Risiko kesehatan yang sering dikhawatirkan meliputi iritasi saluran napas, batuk, asma yang memburuk, sakit kepala, mual, gangguan tidur, stres, diare, dan penyakit yang dibawa vektor.

  • Dampaknya sangat bergantung pada jarak rumah, arah angin, kualitas pengelolaan TPA, adanya pembakaran terbuka, sistem pengolahan lindi, serta kondisi warga yang lebih rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan asma.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tinggal dekat tempat pembuangan akhir (TPA) bukan hanya soal menahan bau. Bagi warga yang setiap hari berhadapan dengan truk sampah, lalat, asap, debu, atau air kotor yang mengalir saat hujan, TPA bisa menjadi ancaman.

Tidak semua tingkat risiko TPA sama. TPA yang dirancang dan dikelola dengan baik tentu berbeda dari tempat pembuangan terbuka yang tidak memiliki pelapis dasar, pengolahan air lindi (cairan sisa dari tumpukan sampah yang bercampur dengan air hujan atau cairan dari proses pembusukan), penutup harian, pemantauan gas, atau kontrol pembakaran.

Pembuangan sampah yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah kesehatan melalui pencemaran air, tanah, dan udara; pembakaran terbuka juga dapat membahayakan pekerja, warga yang terlibat, dan komunitas sekitar.

1. Gangguan pernapasan karena bau, gas, debu, dan asap

Keluhan yang paling terasa biasanya dari udara. TPA dapat menghasilkan gas dari proses pembusukan sampah organik. Gas TPA (landfill gas) terbentuk secara alami dari penguraian bahan organik di TPA dan sebagian besar terdiri dari metana serta karbon dioksida, dengan sejumlah kecil senyawa organik non metana.

Bagi warga sekitar, mereka terpapar bau, senyawa iritan, debu, asap dari pembakaran, dan partikel halus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sampah kota yang dikelola dengan buruk dapat mencemari udara, air, tanah, dan vegetasi; pembakaran terbuka atau insinerasi yang tidak efisien juga dapat melepaskan zat berbahaya seperti dioksin dan furan.

Dampaknya bagi kesehatan bisa berupa batuk, tenggorokan gatal, mata perih, sesak, sakit kepala, atau asma yang lebih mudah kambuh.

Paparan hidrogen sulfida dalam kadar lebih tinggi dari kadar lingkungan normal dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, sulit bernapas pada sebagian orang dengan asma, sakit kepala, lelah, gangguan memori, dan masalah keseimbangan.

2. Air lindi bisa mencemari tanah dan sumber air

Air lindi adalah cairan yang terbentuk ketika air melewati tumpukan sampah dan membawa berbagai zat dari sampah tersebut. Pada TPA yang tidak memiliki sistem pelapis dan pengolahan lindi yang baik, cairan ini dapat mencemari tanah dan air.

Lokasi pembuangan sampah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kontaminasi tanah dan air tanah, serta meningkatkan risiko penularan penyakit infeksi. Sebuah tinjauan tahun 2022 juga menjelaskan bahwa operasi landfill dapat dikaitkan dengan kontaminasi air bawah tanah melalui lindi, terutama ketika pelapis landfill tidak memadai.

Bagi warga, ini berarti sumber air perlu diperhatikan, terutama jika masih memakai sumur dangkal atau sumber air yang berisiko tercemar.

Air yang terlihat jernih belum tentu bebas kontaminan. Jika ada perubahan warna, bau, rasa, atau keluhan diare berulang di rumah, segera cek kualitas air.

3. Lalat, tikus, dan nyamuk bisa membawa penyakit

Kolam penampungan air lindi TPA Regional Kebon Kongok. (IDN Times/Muhammad Nasir)

TPA yang terbuka atau tidak tertutup dengan baik dapat menjadi tempat berkumpulnya lalat, tikus, kecoak, dan nyamuk. Vektor seperti ini dapat membawa kuman atau memperbesar risiko penyakit tertentu.

Pengelolaan sampah yang buruk dapat menyumbat drainase dan memicu genangan air; kondisi ini mendukung penyakit seperti kolera serta penyakit yang dibawa vektor, termasuk malaria dan demam berdarah. Genangan di sekitar rumah dan sampah yang menampung air dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes, penyebab demam berdarah.

Kelompok yang paling berisiko adalah anak kecil, lansia, atau anggota keluarga dengan daya tahan tubuh rendah. Mereka lebih rentan terhadap diare, infeksi kulit, atau gangguan pernapasan ketika lingkungan rumah kotor.

4. Tinggal dekat TPA juga bisa mengganggu kualitas hidup

Bau yang masuk ke rumah, rasa mual saat makan, sulit tidur, malu menerima tamu, khawatir anak bermain di luar, atau takut air rumah tercemar juga bisa menjadi beban mental.

Tinjauan sistematis tahun 2021 menemukan sebagian bukti adanya peningkatan risiko hasil kelahiran dan neonatal yang merugikan pada warga yang tinggal dekat lokasi pengelolaan sampah kota.

Studi tersebut juga menemukan sebagian bukti peningkatan risiko kematian, penyakit pernapasan, dan dampak kesehatan mental negatif pada warga yang tinggal dekat tempat pembuangan sampah, meski penulis menekankan bahwa bukti pada banyak aspek masih terbatas dan belum selalu cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat yang kuat.

Tinggal dekat TPA tidak otomatis berarti seseorang pasti sakit. Namun, paparan lingkungan yang terus-menerus, ditambah kualitas pengelolaan yang buruk, dapat membuat risiko kesehatan dan beban hidup meningkat.

5. Risiko lebih besar pada TPA yang tidak dikelola baik

TPA modern yang dikelola sebagai sanitary landfill (penimbunan sampah di tempat cekung yang ramah lingkungan dan minim pencemaran) seharusnya memiliki sistem pelapis, pengelolaan lindi, penutup harian, pemantauan gas, serta pengendalian hama dan bau.

Yang jadi masalah besar adalah TPA lebih mirip tempat pembuangan terbuka, di mana sampah menumpuk tanpa penutup memadai, ada pembakaran, lindi mengalir, banyak vektor, dan gas tidak dipantau.

WHO membedakan lokasi pembuangan berdasarkan tingkat kontrolnya, dari yang penuh sampai tidak terkontrol.

Tempat pembuangan sampah yang tidak terkontrol sering kali tidak memiliki pelapis, sistem pengolahan lindi, penutup harian, atau pembatasan jenis sampah yang diterima. Open dumping (metode pembuangan atau penumpukan sampah secara terbuka) berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan masyarakat karena emisi dari pembuangan terbuka dapat mencemari udara, air, dan tanah.

Apa yang bisa dilakukan jika tinggal dekat TPA?

TPA Regional Kebon Kongok, NTB. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Tidak semua orang punya pilihan untuk pidah. Jadi, jika hidup dekat TPA, langkah perlindungan harus realistis.

  • Jika bau atau asap sedang kuat, tutup jendela yang menghadap sumber bau, terutama saat angin bergerak dari arah TPA ke rumah.

  • Jika memungkinkan, gunakan pembersih udara dengan filter HEPA di ruang tidur, terutama untuk anak, lansia, ibu hamil, atau orang dengan asma.

  • Saat ada asap pembakaran atau debu pekat, kurangi aktivitas luar ruangan dan gunakan masker yang lebih rapat seperti N95 jika harus harus keluar rumah.

  • Hindari memakai air sumur yang berubah warna, bau, atau rasa untuk minum dan memasak.

  • Jika rumah memakai sumur, pertimbangkan pengujian kualitas air secara berkala, terutama bila jaraknya dekat dengan TPA atau berada di area yang rawan rembesan.

  • Pastikan sumber air minum aman.

  • Simpan makanan dalam wadah tertutup, bersihkan sisa makanan, tutup tempat sampah, kurangi genangan air, dan pasang kasa atau perangkap lalat jika perlu.

  • Untuk keluhan yang berulang, catat kapan bau paling kuat, arah angin, gejala yang muncul, serta dokumentasi asap atau aliran lindi. Catatan seperti ini bisa membantu saat melapor ke pengelola, dinas lingkungan, atau layanan kesehatan.

Kapan perlu mencari bantuan medis?

Temui dokter jika kamu atau anggota keluarga sering mengalami batuk, sesak, mengi, mata perih, sakit kepala, mual, ruam kulit, diare berulang, atau gejala asma yang makin sering.

Segera cari bantuan medis jika sesak berat, nyeri dada, anak tampak lemas, diare disertai tanda dehidrasi, atau ada gejala keracunan seperti pusing berat, muntah terus-menerus, kebingungan, atau hampir pingsan setelah terpapar bau/gas/asap yang kuat.

Untuk orang dengan asma, penyakit paru kronis, penyakit jantung, ibu hamil, bayi, anak kecil, dan lansia, keluhan akibat udara buruk sebaiknya tidak dibiarkan.

Risiko tinggal dekat TPA bisa datang dari polusi udara, gas TPA, debu, asap pembakaran, air lindi, vektor penyakit, serta stres lingkungan yang berlangsung setiap hari.

Dampaknya dapat berupa gangguan pernapasan, iritasi mata dan tenggorokan, sakit kepala, mual, gangguan tidur, diare, infeksi, hingga kualitas hidup yang menurun.

Namun, perlu ditekankan bahwa ini bergantung pada kualitas pengelolaan TPA. TPA yang pengelolaannya buruk, memiliki pembakaran terbuka, lindi yang tidak diolah, dan vektor yang tidak dikendalikan tentu lebih berisiko.

Bagi warga, perlindungan di tingkat rumah tetap penting, tetapi solusi utamanya harus tetap pada pengelolaan sampah yang aman, pemantauan lingkungan, dan perlindungan komunitas yang tinggal paling dekat dengan TPA.

Referensi

World Health Organization (WHO). “Guidance on Solid Waste and Health.” Diakses Juli 2026.

WHO. "Throwing Away Our Health: The Impacts of Solid Waste Management on Health and the Environment." Diakses Juli 2026.

United Nations Environment Programme. “Open Dumping.” Diakses Juli 2026.

United States Environmental Protection Agency. “Basic Information about Landfill Gas.” Diakses Juli 2026.

Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR). “Hydrogen Sulfide: Public Health Statement.” Diakses Juli 2026.

ATSDR. “Landfill Gas Primer: Chapter 3—Landfill Gas Safety and Health Issues.” Diakses Juli 2026.

Vinti, Giovanni, Gabriele Bauza, Maria Clasen, and Sandy Cairncross. “Municipal Solid Waste Management and Adverse Health Outcomes: A Systematic Review.” International Journal of Environmental Research and Public Health 18, no. 8 (2021): 4331.

Siddiqua, Ayesha, John N. Hahladakis, and Waleed A. K. A. Al-Attiya. “An Overview of the Environmental Pollution and Health Effects Associated with Waste Landfilling and Open Dumping.” Environmental Science and Pollution Research 29 (2022): 58514–58536.

UK Health Security Agency. “Impacts on Health of Emissions from Landfill Sites.” Diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article