Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Barium, Timbal, hingga Antimon Ditemukan pada Mainan Anak

Mainan balok anak.
ilustrasi mainan anak (pexels.com/Alex P)
Intinya sih...
  • Sebuah penelitian menemukan keberadaan elemen kimia berbahaya seperti barium, timbal, kromium, dan antimon yang kadarnya melampaui batas aman.
  • Risiko paparan tidak hanya bergantung pada kadar zat kimia dalam produk, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan anak. Misalnya, apakah anak memasukkan mainan ke dalam mulut dan durasi kontaknya.
  • Mainan berwarna krem menunjukkan konsentrasi logam berat yang lebih tinggi dibanding warna lain.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kadang sebuah mainan plastik tampak hanya seperti mainan pada umumnya, membuat anak tersenyum dan tertawa. Namun di balik itu, muncul kekhawatiran begitu para peneliti dari University of São Paulo (USP) dan Federal University of Alfenas (UNIFAL) mulai memeriksa isi sebenarnya dari produk-produk tersebut.

Dari 70 jenis mainan yang mereka uji, hampir separuhnya ternyata tidak memenuhi standar keamanan yang ditetapkan oleh INMETRO dan Uni Eropa.

Yang membuat para peneliti makin gelisah adalah temuan barium. Sebanyak 44,3 persen mainan memiliki kadar barium yang melampaui ambang batas, beberapa bahkan mencapai 15 kali lipat dari yang diperbolehkan. Masalahnya, paparan logam ini tidak boleh disepelekan. Dampaknya bisa berupa gangguan jantung dan aritmia hingga kelumpuhan dan efek neurologis berat.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Exposure and Health pada Agustus 2025, yang menggarisbawahi isu keamanan mainan anak.

1. Adanya timbal, antimon, dan kromium

Penelitian ini juga menemukan keberadaan elemen kimia berbahaya lain seperti timbal, kromium, dan antimon yang kadarnya melampaui batas aman.

Timbal ditemukan melebihi ambang batas pada 32,9 persen sampel, bahkan hampir mencapai empat kali lebih tinggi dari rekomendasi. Zat ini dikenal dapat menyebabkan kerusakan neurologis permanen hingga penurunan IQ pada anak,

Antimon dan kromium, yang diklasifikasikan sebagai karsinogen, masing-masing terdeteksi secara tidak normal pada 24,3 persen dan 20 persen mainan yang diuji.

Menariknya, mainan yang diteliti dibeli dari berbagai toko populer dan pusat perbelanjaan untuk merepresentasikan kelompok sosial ekonomi berbeda. Sebagian besar dari mainan tersebut ditujukan untuk anak usia 0–12 tahun dengan bentuk dan ukuran yang memungkinkan untuk dimasukkan ke mulut.

2. Metode penelitian

Anak-anak bermain dengan mainan balok.
ilustrasi mainan anak (pexels.com/cottonbro studio)

Untuk mengidentifikasi kandungan kimia berbahaya pada mainan anak, para peneliti menggunakan teknologi inductively coupled plasma mass spectrometry (ICP-MS). Ini merupakan metode analisis canggih yang mampu mendeteksi unsur logam dan non-logam dalam jumlah jejak sekalipun.

Agar menggambarkan kondisi nyata, mereka juga menerapkan microwave-assisted acid digestion, sebuah proses yang meniru bagaimana zat kimia dapat terlepas ketika mainan bersentuhan dengan air liur anak.

Melalui metode ini, ditemukan 21 elemen berisiko toksik, termasuk arsenik (As), barium (Ba), merkuri (Hg), timbal (Pb), uranium (U), dan kromium (Cr), yang diketahui dapat memicu gangguan saraf, kerusakan organ, hingga risiko kanker.

Analisis kemudian dibagi dalam dua skenario paparan, yaitu normal berdasarkan nilai median dan tinggi berdasarkan konsentrasi maksimum.

Para peneliti menjelaskan bahwa risiko paparan tidak hanya bergantung pada kadar zat kimia dalam produk, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kebiasaan anak. Contohnya seberapa sering mereka memasukkan mainan ke dalam mulut dan durasi kontaknya.

3. Jejak produksi dan pentingnya monitor lebih lanjut

Tak hanya mendeteksi adanya elemen berbahaya, penelitian ini juga memberi petunjuk penting terkait asal-usul kontaminasi dalam rantai produksi mainan anak.

Para peneliti menemukan korelasi antara kandungan nikel, kobalt, dan mangan, yang mengindikasikan sumber produksi yang sama atau penggunaan bahan baku dari pemasok serupa.

Menariknya, mainan berwarna krem menunjukkan konsentrasi logam berat yang lebih tinggi dibanding warna lain. Hal ini diduga berkaitan dengan jenis cat atau pemasok cat tertentu.

Tak hanya elemen kimia beracun, studi-studi sebelumnya dari kelompok peneliti yang sama juga mengidentifikasi senyawa pengganggu hormon (endocrine disruptor) seperti bisfenol, paraben, dan ftalat dalam produk anak. Hal ini berpotensi mengacaukan sistem hormonal dan memengaruhi tumbuh kembang anak.

Meski dilakukan di Brasil, tetapi temuan studi ini menjadi alarm global bahwa bahaya zat kimia beracun pada mainan anak bisa menjadi ancaman nyata bagi keselamatan anak-anak di mana pun. Dengan meningkatnya bukti ilmiah mengenai kandungan logam berat, pengawasan regulasi dan edukasi bagi orang tua menjadi makin penting.

Referensi

Rocha, Bruno Alves, Matheus Gallimberti, Gabriel Henrique Savietto, Ramon Alves De Oliveira Paula, Marília Cristina Oliveira Souza, Grazielle Cabral De Lima, Mariane Gonçalves Santos, and Fernando Barbosa. “Potentially Toxic Elements in Brazilian Toys: A Bioaccessibility-Based Childhood Health Risk Assessment.” Exposure and Health 17, no. 6 (August 22, 2025).

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Barium, Timbal, hingga Antimon Ditemukan pada Mainan Anak

30 Nov 2025, 16:36 WIBHealth