Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi Baru Temukan Suplemen Gym Populer Bisa Ganggu Tidur

Studi Baru Temukan Suplemen Gym Populer Bisa Ganggu Tidur
ilustrasi suplemen pre-workout (pexels.com/Karolina Grabowska)
Intinya Sih
  • Remaja dan dewasa muda yang menggunakan pre-workout lebih berisiko tidur 5 jam atau kurang per malam.

  • Suplemen ini biasanya mengandung kafein sangat tinggi, bahkan hingga ratusan miligram per porsi.

  • Para peneliti menilai edukasi tentang waktu konsumsi dan risiko kesehatan sangat penting, terutama bagi pengguna muda.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Satu scoop pre-workout sering dijadikan bahan bakar sebelum latihan. Campuran bubuk ini biasanya diminum sebelum olahraga untuk meningkatkan energi, fokus, dan performa latihan.

Produk pre-workout merupakan suplemen multi bahan yang biasanya mengandung kombinasi zat seperti kafein, kreatin, branched-chain amino acids (BCAA), nitrat, dan pemanis. Formula ini dirancang untuk membantu meningkatkan performa latihan, terutama dalam hal energi dan daya tahan otot.

Penggunaannya juga cukup umum. Dalam penelitian terbaru, sekitar 22 persen remaja dan dewasa muda melaporkan menggunakan pre-workout dalam 12 bulan terakhir.

Bagi banyak orang yang aktif di gym, efeknya terasa cepat: tubuh lebih “terbangun”, latihan terasa lebih intens, dan rasa lelah datang lebih lambat. Namun, di balik efeknya itu, para peneliti mulai menemukan hubungan yang cukup mengkhawatirkan, terutama terkait durasi tidur.

Studi baru dalam jurnal Sleep Epidemiology menunjukkan bahwa penggunaan suplemen ini mungkin berkaitan dengan tidur yang jauh lebih pendek pada anak muda.

Pengguna pre-workout lebih berisiko kurang tidur

Penelitian tersebut menggunakan data dari Canadian Study of Adolescent Health Behaviors, yang melibatkan 912 peserta berusia 16–30 tahun di Kanada. Rata-rata usia peserta 23,4 tahun, dengan latar belakang demografis yang cukup beragam.

Para peneliti menanyakan dua hal utama kepada peserta:

  • Apakah mereka menggunakan pre-workout dalam 12 bulan terakhir.
  • Berapa jam mereka tidur rata-rata setiap malam dalam dua minggu terakhir.

Hasilnya cukup mencolok.

Peserta yang melaporkan menggunakan pre-workout ternyata memiliki kemungkinan sekitar 2,5 kali lebih besar untuk tidur lima jam atau kurang per malam, dibanding mereka yang tidak menggunakan suplemen tersebut.

Padahal, pedoman tidur menyarankan bahwa remaja butuh sekitar 8–10 jam tidur per malam, dan dewasa muda butuh sekitar 7–9 jam.

Artinya, tidur lima jam jauh di bawah batas yang dianggap sehat. Jika terjadi terus-menerus, durasi tidur ini dapat berdampak pada berbagai aspek kesehatan, mulai dari fungsi kognitif, kesehatan mental, hingga performa akademik dan fisik.

Kandungan kafein tinggi bisa mengganggu ritme tidur

Ilustrasi kurang tidur.
ilustrasi kurang tidur (pexels.com/MART PRODUCTION)

Salah satu alasan utama mengapa pre-workout dapat memengaruhi tidur adalah kandungan kafein yang sangat tinggi.

Penelitian menunjukkan bahwa satu porsi pre-workout dapat mengandung sekitar 91 hingga 387 mg kafein, dengan rata-rata sekitar 254 mg per porsi.

Sebagai perbandingan, soda cola mengandung sekitar 35 mg kafein, sedangkan secangkir kopi mengandung sekitar 100 mg kafein.

Artinya, satu porsi pre-workout bisa mengandung beberapa kali lipat kafein dari minuman biasa.

Secara biologis, kafein bekerja dengan memblokir reseptor adenosin di otak, yaitu zat yang memberi sinyal bahwa tubuh sudah lelah dan perlu tidur. Efek ini membuat tubuh tetap terjaga lebih lama dan dapat menunda pelepasan hormon melatonin yang membantu mengatur siklus tidur.

Karena efek tersebut dapat bertahan berjam-jam, para peneliti menyarankan agar pre-workout tidak dikonsumsi setidaknya 12–14 jam sebelum waktu tidur.

Masalahnya, itu bisa menjadi tantangan bagi banyak anak muda. Jadwal sekolah, kuliah, atau pekerjaan sering membuat mereka berolahraga pada sore atau malam hari, sehingga konsumsi pre-workout terjadi terlalu dekat dengan waktu tidur.

Temuan ini tidak berarti bahwa pre-workout berbahaya. Namun, penelitian tersebut menyoroti bahwa suplemen yang sering dianggap sebagai bagian normal dari gaya hidup fitness tetap memiliki efek biologis yang nyata pada tubuh.

Bagi remaja dan dewasa muda, yang sedang berada pada fase penting pertumbuhan fisik dan mental, tidur yang cukup tetap menjadi salah satu faktor kesehatan paling mendasar. Mengabaikannya demi tambahan energi di gym bisa membawa konsekuensi yang tidak disadari.

Referensi

Kyle T. Ganson, Alexander Testa, and Jason M. Nagata, “Use of Pre-workout Dietary Supplements Is Associated With Lower Sleep Duration Among Adolescents and Young Adults,” Sleep Epidemiology 5 (November 30, 2025): 100124, https://doi.org/10.1016/j.sleepe.2025.100124.

"Popular pre-workout supplements linked to shorter sleep among Canadian adolescents." EurekAlert! Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More