Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Efek Samping Potensial dari Puasa, Jarang Dibahas

7 Efek Samping Potensial dari Puasa, Jarang Dibahas
ilustrasi lemas, salah satu efek potensial dari puasa (pexels.com/Karolina Grabowska)
Intinya Sih
  • Puasa Ramadan umumnya aman bagi orang sehat, tetapi perubahan pola makan, tidur, dan hidrasi dapat menimbulkan efek samping sementara.

  • Efek yang paling sering muncul antara lain dehidrasi, sakit kepala, gangguan tidur, dan masalah pencernaan.

  • Sebagian besar efek ini dapat dicegah dengan hidrasi cukup, pola makan seimbang saat sahur dan berbuka, serta pengaturan aktivitas fisik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Selama bulan Ramadan, umat Islam wajib menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Meskipun puasa Ramadan pada dasarnya dijalani sebagai bagian dari keyakinan spiritual, tetapi banyak penelitian yang menunjukkan manfaat bagi kesehatan.

Diet populer yang dalam praktiknya mirip puasa Ramadan yaitu intermittent fasting atau puasa intermiten. Selama menjalaninya, kamu dilarang untuk makan dalam kurun waktu tertentu.

Di satu sisi, banyak orang merasakan manfaat dari berpuasa. Namun, di sisi lain, puasa juga menimbulkan beberapa efek samping potensial, utamanya jika puasa tidak disertai perencanaan yang tepat.

Nah, kali ini akan dibahas beberapa efek samping potensial dari puasa dan apa yang bisa kamu lakukan untuk menghindarinya.

Table of Content

1. Dehidrasi

1. Dehidrasi

Dehidrasi merupakan salah satu efek samping paling umum selama puasa. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak mendapatkan asupan cairan selama berjam-jam di siang hari, terutama jika cuaca panas atau aktivitas fisik cukup tinggi.

Tubuh manusia sangat bergantung pada keseimbangan cairan untuk menjalankan berbagai fungsi penting, termasuk menjaga tekanan darah, mengatur suhu tubuh, dan mendukung kerja organ vital. Ketika asupan cairan berkurang, tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda seperti mulut kering, kelelahan, pusing, dan urine yang berwarna lebih pekat. Dehidrasi ringan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius jika tidak segera ditangani.

Penelitian tentang puasa Ramadan menunjukkan bahwa tingkat hidrasi tubuh dapat menurun selama siang hari, terutama pada individu yang tidak mengonsumsi cukup cairan saat sahur dan berbuka. Karena itu, para ahli menyarankan pola minum terstruktur pada malam hari—misalnya metode 2-4-2 (dua gelas saat berbuka, empat gelas malam hari, dua gelas saat sahur)—untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

2. Sakit kepala

Seorang perempuan mengalami sakit kepala.
ilustrasi sakit kepala (pexels.com/RDNE Stock project)

Sakit kepala selama puasa cukup sering dilaporkan, terutama pada hari-hari pertama Ramadan. Kondisi ini biasanya dipicu oleh kombinasi beberapa faktor seperti dehidrasi, perubahan kadar gula darah, kurang tidur, atau penghentian konsumsi kafein secara mendadak.

Beberapa penelitian menemukan bahwa sakit kepala puasa, sering disebut fasting headache, memiliki karakteristik tertentu, yaitu muncul pada siang atau sore hari dan mereda setelah seseorang makan atau minum. Faktor pemicu yang paling umum adalah penurunan kadar glukosa darah dan perubahan metabolisme energi selama periode puasa.

Selain itu, orang yang terbiasa mengonsumsi kopi atau teh berkafein setiap hari dapat mengalami gejala withdrawal kafein, yang juga memicu sakit kepala. Karena itu, banyak ahli menyarankan untuk mengurangi konsumsi kafein secara bertahap beberapa hari sebelum Ramadan agar tubuh lebih mudah beradaptasi.

3. Gangguan tidur

Selama Ramadan, jadwal tidur sering berubah karena aktivitas malam seperti sahur, ibadah, atau kegiatan sosial. Perubahan ritme ini dapat memengaruhi siklus tidur-bangun tubuh (ritme sirkadian).

Kurang tidur atau tidur yang terpotong-potong (terfragmentasi) dapat menyebabkan berbagai efek, mulai dari kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga perubahan suasana hati. Kualitas tidur yang buruk juga dapat memengaruhi metabolisme glukosa dan regulasi hormon.

Beberapa studi tentang Ramadan menemukan bahwa total durasi tidur sering kali berkurang selama bulan puasa, terutama jika seseorang tidur larut malam dan harus bangun sangat pagi untuk sahur. Oleh karena itu, menjaga konsistensi waktu tidur serta memanfaatkan waktu istirahat siang singkat dapat membantu tubuh beradaptasi dengan pola tidur baru.

4. Gangguan pencernaan

Seorang laki-laki mengalami gangguan pencernaan.
ilustrasi gangguan pencernaan (freepik.com/master1305)

Perubahan pola makan selama Ramadan juga dapat memengaruhi sistem pencernaan. Setelah berpuasa berjam-jam, sebagian orang cenderung makan dalam jumlah besar saat berbuka, yang dapat menyebabkan perut kembung, nyeri lambung, atau gangguan pencernaan.

Makan dalam porsi besar setelah periode puasa dapat meningkatkan risiko dispepsia atau gangguan pencernaan, terutama jika makanan yang dikonsumsi tinggi lemak atau gula.

Selain itu, perubahan waktu makan juga memengaruhi produksi asam lambung. Pada sebagian orang, ini dapat memicu gejala seperti heartburn atau refluks asam. Karena itu, para ahli sering menyarankan untuk berbuka dengan makanan ringan terlebih dahulu, seperti kurma dan air, sebelum mengonsumsi makanan utama.

5. Penurunan energi dan kelelahan

Banyak orang merasakan penurunan energi selama puasa, terutama pada minggu pertama Ramadan. Kondisi ini terjadi karena tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan sumber energi.

Biasanya tubuh menggunakan glukosa dari makanan sebagai bahan bakar utama. Namun ketika puasa, cadangan glikogen akan menurun dan tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi alternatif. Proses adaptasi metabolik ini dapat menimbulkan rasa lelah sementara.

Penelitian menunjukkan bahwa setelah beberapa hari puasa, tubuh biasanya menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi. Oleh karena itu, rasa lelah biasanya berkurang setelah tubuh berhasil beradaptasi dengan pola makan baru.

6. Bau mulut

Seorang laki-laki mengalami bau mulut.
ilustrasi bau mulut (freepik.com/Stockking)

Bau mulut atau halitosis merupakan keluhan yang cukup sering muncul selama puasa Ramadan. Kondisi ini terjadi karena produksi air liur berkurang selama berjam-jam tanpa makan dan minum.

Air liur berfungsi sebagai mekanisme alami untuk membersihkan mulut dari bakteri. Ketika produksi air liur menurun, bakteri dapat berkembang lebih cepat dan menghasilkan senyawa sulfur yang menyebabkan bau tidak sedap.

Menjaga kebersihan mulut—termasuk menyikat gigi, menggunakan benang gigi, dan membersihkan lidah—dapat membantu mengurangi risiko bau mulut selama puasa.

7. Perubahan mood

Puasa juga dapat memengaruhi suasana hati pada sebagian orang, terutama jika mengalami kurang tidur, kelelahan, atau perubahan kadar gula darah.

Beberapa penelitian menemukan fluktuasi kadar glukosa dapat memengaruhi fungsi otak dan emosi. Ketika kadar gula darah menurun, kamu mungkin merasa lebih mudah tersinggung atau sulit berkonsentrasi.

Namun menariknya, penelitian lain menunjukkan bahwa setelah fase adaptasi, puasa Ramadan justru dapat memberikan efek positif pada kesejahteraan mental, termasuk peningkatan kontrol diri dan keseimbangan emosional.

Di bulan Ramadan, tubuh beradaptasi dengan perubahan pola makan, tidur, dan hidrasi. Proses ini dapat memunculkan beberapa efek samping sementara seperti dehidrasi, sakit kepala, gangguan tidur, masalah pencernaan, kelelahan, bau mulut, dan perubahan suasana hati.

Sebagian besar efek tersebut dapat dicegah dengan strategi sederhana seperti menjaga hidrasi, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, serta tidak memaksakan aktivitas fisik berlebihan. Jika gejala yang muncul terasa berat atau berkepanjangan, berkonsultasi dengan dokter adalah langkah bijak agar puasa tetap aman dan sehat.

Referensi

J B Leiper, A M Molla, and A M Molla, “Effects on Health of Fluid Restriction During Fasting in Ramadan,” European Journal of Clinical Nutrition 57, no. S2 (December 1, 2003): S30–38, https://doi.org/10.1038/sj.ejcn.1601899.

Azizi, Fereidoun. “Islamic Fasting and Health.” Annals of Nutrition and Metabolism 56, no. 4 (January 1, 2010): 273–82. https://doi.org/10.1159/000295848.

Trepanowski, John F, and Richard J Bloomer. “The Impact of Religious Fasting on Human Health.” Nutrition Journal 9, no. 1 (November 22, 2010): 57. https://doi.org/10.1186/1475-2891-9-57.

Ruth E. Patterson et al., “Intermittent Fasting and Human Metabolic Health,” Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 115, no. 8 (April 9, 2015): 1203–12, https://doi.org/10.1016/j.jand.2015.02.018.

Mayo Clinic. “Dehydration.” Diakses Maret 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Indigestion.” Diakses Maret 2026.

American Dental Association. “Bad Breath (Halitosis).” Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Eka Amira Yasien
3+
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More