"Low-carb and low-fat diets associated with lower heart disease risk if rich in high-quality, plant-based foods, low in animal products." Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses Maret 2026.
"Healthy Versions of Low-Carb and Low-Fat Diets Linked to Better Cardiovascular and Metabolic Health." American College of Cardiology Foundation. Diakses Maret 2026.
Diet Rendah Karbo atau Rendah Lemak? Ternyata Ini yang Lebih Penting

Studi besar dari JACC menganalisis hampir 200 ribu orang selama lebih dari 30 tahun untuk menilai hubungan antara pola makan dan risiko penyakit jantung koroner.
Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas sumber makanan, bukan sekadar rendah karbo atau rendah lemak, menjadi faktor utama dalam melindungi kesehatan jantung.
Diet sehat ditandai dengan konsumsi tinggi makanan nabati, biji utuh, dan lemak tak jenuh, sementara versi tidak sehat justru meningkatkan risiko kardiovaskular.
Perdebatan low-carbohydrate (rendah karbohidrat) versus low-fat (rendah lemak) sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sebagian orang menghindari nasi dan roti, sebagian lain takut pada minyak dan lemak. Namun, studi besar terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology (JACC) menunjukkan bahwa fokus perdebatan mungkin selama ini kurang tepat.
Para peneliti menganalisis data dari hampir 200 ribu orang dewasa di Amerika Serikat yang diikuti selama lebih dari 30 tahun. Data tersebut berasal dari tiga kohort besar: Nurses’ Health Study, Nurses’ Health Study II, dan Health Professionals Follow-up Study. Selama periode observasi, lebih dari 5,2 juta tahun pengamatan (person‑years), tercatat lebih dari 20 ribu kasus penyakit jantung koroner.
Temuannya, bukan cuma berapa gram karbohidrat atau lemak yang dikonsumsi, melainkan dari mana sumbernya.
Diet rendah karbo atau rendah lemak dari makanan yang berkualitas tinggi memiliki dampak protektif terhadap jantung. Sebaliknya, pola makan rendah karbo yang didominasi lemak hewani dan protein hewani, atau diet rendah lemak yang tinggi karbohidrat olahan, justru berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner.
Dengan kata lain, mengurangi makronutrien tanpa memperbaiki kualitas makanan tidak otomatis membuat jantung lebih sehat.
Table of Content
Apa yang membuat sebuah diet disebut “sehat”?
Dalam studi ini, para peneliti membedakan versi “sehat” dan “tidak sehat” dari masing-masing pola makan berdasarkan sumber makanannya.
Diet sehat, baik rendah karbo maupun rendah lemak, ditandai dengan konsumsi tinggi makanan berbasis nabati, biji-bijian utuh, dan lemak tak jenuh.
Sebaliknya, versi tidak sehat ditandai dengan karbohidrat olahan (karbohidrat rafinasi), serta lemak dan protein berbasis hewani dalam jumlah tinggi.
Temuan ini juga diperkuat analisis metabolomik. Pola makan sehat dikaitkan dengan kadar trigliserida yang lebih rendah, kolesterol HDL yang lebih tinggi, serta penanda inflamasi yang lebih rendah. Profil biomarker ini dikenal berperan dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Secara biologis, pola makan berkualitas tinggi, terlepas dari komposisi rendah karbo atau rendah lemak, tampaknya berbagi jalur mekanisme yang sama dalam memperbaiki kesehatan metabolik dan kardiovaskular.
Pesan ini menegaskan kembali panduan banyak organisasi kesehatan global yang menekankan pentingnya makanan utuh, serat, dan lemak sehat untuk perlindungan jantung.
Bukan cuma rendah karbo atau rendah lemak, tetapi fokusnya adalah kualitas makanan

Editor-in-Chief JACC, Harlan M. Krumholz, menyebut studi ini membantu menggeser percakapan dari perdebatan lama soal “rendah karbo vs rendah lemak" menuju fokus yang lebih substansial, yaitu kualitas makanan.
Meski demikian, studi ini memiliki kekurangan, yaitu tidak mengevaluasi pola makan ekstrem seperti diet ketogenik dengan karbohidrat sangat rendah. Selain itu, asupan makanan dilaporkan sendiri oleh peserta, sehingga berpotensi terdapat bias pencatatan. Selain itu, mayoritas partisipan adalah tenaga kesehatan, yang mungkin memiliki kesadaran kesehatan lebih tinggi dibanding populasi umum.
Akan tetapi, temuan biologis yang mendasari, seperti perbaikan profil lipid dan inflamasi, kemungkinan relevan secara luas.
Pada akhirnya, fleksibilitas tetap mungkin. Kamu bisa memilih pola makan yang lebih rendah karbohidrat atau lebih rendah lemak sesuai preferensi pribadi. Namun, kuncinya tetap prioritaskan makanan utuh, perbanyak sumber nabati, hindari karbohidrat olahan, dan utamakan lemak tak jenuh. Kalau menurut temuan studi ini, jantung lebih peduli terhadap kualitas makanan kamu.
Referensi

















![[QUIZ] Dari Menu Sahur Kamu, Kami Tebak Jam Kamu Lapar saat Puasa](https://image.idntimes.com/post/20250311/samuel-yongbo-kwon-0hewbs-a1zu-unsplash-1825408f10a29e57b2f8621c6624b34f-5dcfbebc3dba746b60b9d0a5bbb5feb9.jpg)
