Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Beras Fortifikasi Diduga Palsu, Adakah Risiko Kesehatannya?
ilustrasi beras di swalayan (IDN Times/Anata Siregar)
  • Ketidaksesuaian kandungan gizi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa beras tercemar atau mengandung racun.

  • Jika zat gizi tambahan tidak sesuai klaim, manfaat yang diharapkan konsumen bisa tidak terpenuhi.

  • Risiko kesehatan perlu dinilai dari hasil pengujian produk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Beras dibeli dengan harapan memberi tambahan vitamin dan mineral bagi keluarga. Ketika muncul kabar kandungannya tidak sesuai label, kekhawatiran pun muncul, bagaimana jika nasi dari produk tersebut itu sudah dimakan?

Dalam pemberitaan resmi Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian pada 15 September 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan terhadap 25 merek beras yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi, tetapi diduga tidak sesuai standar dan kandungan yang dijanjikan. Pemerintah menyampaikan penarikan serta proses hukum terhadap produk bermasalah.

1. Kandungan tidak sesuai label belum berarti beras beracun

Dalam konteks temuan ini, persoalan yang disampaikan adalah ketidaksesuaian kandungan dengan label. Dari situ belum bisa disimpulkan bahwa beras mengandung bahan beracun atau akan menyebabkan keracunan.

Penilaian bahaya memerlukan hasil pemeriksaan terhadap kandungan dalam produk yang dicurigai. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bahwa pangan dapat membahayakan kesehatan apabila mengandung mikroorganisme penyebab penyakit atau bahan kimia berbahaya. Ketidaksesuaian klaim gizi dan kontaminasi merupakan masalah yang perlu diperiksa secara terpisah.

2. Manfaat tambahan gizinya bisa tidak terpenuhi

Fortifikasi adalah penambahan vitamin atau mineral untuk meningkatkan nilai gizi pangan. Jika zat yang dijanjikan ternyata tidak ada atau kadarnya lebih rendah, konsumen bisa memperoleh tambahan gizi yang lebih sedikit daripada yang mereka perkirakan.

Dampak pada seseorang tetap bergantung pada pola makan keseluruhan dan kondisi gizinya. Mengonsumsi produk yang kurang zat gizi tambahan tidak otomatis membuat seseorang langsung mengalami kekurangan gizi.

3. Ada risiko sakit?

ilustrasi nasi, rice cooker, penghangat nasi (magnific.com/magnific)

Jika pemeriksaan menemukan kontaminasi, dampaknya bergantung pada jenis dan jumlah cemaran serta kondisi orang yang mengonsumsinya. Namun, produk yang diduga palsu tidak berarti tercemar.

4. Jika sudah mengonsumsinya, periksa informasi produk dan keluhan

Cocokkan merek serta identitas produk dengan pengumuman resmi. Jika termasuk produk yang ditarik, hentikan penggunaannya dan ikuti petunjuk pengembalian jika tersedia. Simpan kemasan dan bukti pembelian untuk membantu penelusuran.

Apabila muncul keluhan, catat waktu makan dan awal gejalanya untuk disampaikan kepada tenaga kesehatan. Segera cari pertolongan jika mengalami diare berdarah, muntah sampai tidak bisa mempertahankan cairan, atau tanda dehidrasi seperti jarang berkemih dan pusing saat berdiri. Gejala tersebut perlu diperiksa, walaupun kemunculannya setelah makan belum tentu disebabkan oleh beras yang dikonsumsi.

Referensi

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, “Mentan Amran Ungkap 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Bermasalah, Ditarik dan Diproses Hukum,” Kementerian Pertanian, diakses September 2026.

Juan Pablo Peña-Rosas et al., “Fortification of Rice with Vitamins and Minerals for Addressing Micronutrient Malnutrition,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 10 (2019): CD009902, doi:10.1002/14651858.CD009902.pub2.

World Health Organization, “Food Safety,” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Food Poisoning Symptoms,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article