Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Ada Orang yang Bisa Langsung Tidur, sementara yang Lain Sulit?

Kenapa Ada Orang yang Bisa Langsung Tidur, sementara yang Lain Sulit?
ilustrasi tidak bisa tidur (pexels.com/SHVETS production)
  • Sleep latency adalah waktu dari mulai mencoba tidur hingga terlelap; pada orang dewasa, sekitar 10–20 menit masih wajar dan dapat berubah setiap malam.

  • Ritme sirkadian, melatonin, genetik, serta tekanan tidur akibat adenosin memengaruhi cepat-lambatnya tertidur; tidur sangat cepat bisa menandakan tubuh mengejar kurang tidur.

  • Stres, kecemasan, kafein, layar elektronik, dan kamar yang panas, bising, atau terang dapat menghambat tidur; kesulitan menetap lebih dari 30 menit perlu diperhatikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah heran melihat seseorang yang baru merebahkan kepala langsung terlelap, sementara kamu masih terjaga meski sudah berbaring selama satu jam? Padahal, sama-sama sudah merasa lelah dan berada di tempat tidur yang nyaman.

Kemampuan seseorang untuk cepat tertidur ternyata tidak hanya berkaitan dengan seberapa lelah tubuhnya. Ada berbagai faktor yang memengaruhinya. Dalam ilmu tidur, waktu yang dibutuhkan seseorang sejak mulai mencoba tidur hingga benar-benar terlelap disebut sleep latency. Lantas, mengapa waktu yang dibutuhkan setiap orang untuk tertidur bisa berbeda?

  1. 1. Setiap orang memiliki waktu tidur yang berbeda

    Sleep latency merupakan istilah untuk menggambarkan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk beralih dari kondisi terjaga ke tidur. Pada orang dewasa, tertidur dalam sekitar 10–20 menit umumnya masih dianggap sebagai rentang yang wajar.

    Namun, waktu tersebut tidak selalu sama setiap malam. Ada kalanya seseorang bisa tertidur lebih cepat karena tubuh memang sudah sangat mengantuk. Sebaliknya, ketika pikiran masih aktif atau tubuh belum siap tidur, seseorang bisa membutuhkan waktu lebih lama.

    Jadi, orang yang tidak bisa langsung tidur bukan berarti memiliki masalah tidur. Yang lebih perlu diperhatikan adalah jika kesulitan tersebut terjadi terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas pada siang hari.

  2. 2. Jam biologis dan faktor genetik ikut berperan

    Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang membantu mengatur kapan tubuh merasa mengantuk dan kapan harus tetap terjaga. Sistem ini sangat dipengaruhi oleh cahaya dan kegelapan.

    Ketika malam tiba, tubuh secara alami meningkatkan produksi melatonin, hormon yang membantu mempersiapkan tubuh untuk tidur. Namun, waktu munculnya rasa kantuk bisa berbeda pada setiap orang.

    Ada orang yang secara alami lebih mudah mengantuk pada malam hari dan bangun pagi tanpa kesulitan. Ada pula yang cenderung menjadi "night owl" sehingga baru merasa benar-benar mengantuk saat larut malam.

    Faktor genetik juga dapat memengaruhi pola tidur, termasuk kecenderungan seseorang menjadi tipe pagi atau malam serta kerentanan mengalami gangguan tidur. Artinya, sebagian perbedaan kemampuan untuk cepat tertidur memang bisa berasal dari karakteristik biologis masing-masing orang.

  3. 3. Rasa kantuk dipengaruhi oleh sleep pressure

    Ilustrasi seorang perempuan tidur nyenyak di atas tempat tidur dengan selimut, menggambarkan waktu istirahat.
    ilustrasi tidur (pexels.com/Anastasia Lashkevich)

    Selain jam biologis, tubuh juga memiliki mekanisme yang disebut sleep pressure atau tekanan tidur. Sederhananya, semakin lama kamu terjaga, semakin besar dorongan biologis tubuh untuk tidur.

    Salah satu zat yang berperan dalam proses ini adalah adenosin. Zat tersebut terus menumpuk di otak selama seseorang terjaga dan ikut meningkatkan rasa kantuk.

    Itulah sebabnya seseorang yang kurang tidur selama beberapa hari bisa langsung terlelap begitu menyentuh kasur. Meski terlihat seperti kemampuan tidur yang hebat, tertidur dalam waktu sangat singkat justru bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengejar kekurangan tidur.

    Sebaliknya, tidur siang terlalu lama atau tidur lebih banyak dari biasanya pada akhir pekan dapat mengurangi tekanan tidur. Akibatnya, ketika malam tiba, tubuh belum cukup mengantuk sehingga kamu malah terjaga lebih lama.

  4. 4. Pikiran yang aktif bisa membuat mata sulit terpejam

    Pernah mencoba tidur tetapi otak justru sibuk memikirkan pekerjaan, masalah keluarga, rencana besok, atau kejadian yang terjadi sepanjang hari? Kondisi seperti ini merupakan salah satu alasan sulit tertidur.

    Stres dan kecemasan dapat membuat tubuh tetap berada dalam kondisi waspada. Hormon seperti kortisol dan adrenalin dapat meningkatkan kewaspadaan sehingga tubuh tidak mudah masuk ke kondisi rileks yang dibutuhkan untuk tidur.

    Bahkan, terlalu memikirkan keharusan untuk segera tidur dapat membuat keadaan makin sulit. Ketika melihat jam dan menyadari bahwa waktu terus berjalan, seseorang bisa semakin cemas karena merasa harus cepat-cepat tidur. Kecemasan tersebut kemudian membuat otak makin aktif dan tidur menjadi makin sulit. Sebaliknya, orang yang dapat menenangkan pikiran sebelum tidur cenderung lebih mudah memasuki kondisi rileks.

  5. 5. Kebiasaan dan lingkungan tidur juga menentukan

    Apa yang dilakukan beberapa jam sebelum tidur ternyata dapat memengaruhi seberapa cepat seseorang terlelap. Misalnya, konsumsi kafein pada sore atau malam hari dapat membuat tubuh tetap terjaga lebih lama.

    Penggunaan HP atau perangkat elektronik menjelang tidur juga dapat menjadi salah satu faktor pengganggu. Cahaya dari layar, terutama jika digunakan dalam waktu lama, dapat memengaruhi sinyal biologis yang membantu tubuh mempersiapkan diri untuk tidur.

    Lingkungan kamar pun tidak kalah penting. Suhu yang terlalu panas, suara berisik, atau cahaya yang terlalu terang dapat membuat tubuh sulit benar-benar rileks. Sebaliknya, kamar yang sejuk, gelap, dan tenang biasanya lebih mendukung proses seseorang untuk tertidur.

    Jadi, ada banyak hal yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk tertidur. Mulai dari ritme sirkadian, genetik, tekanan tidur, kondisi emosional, hingga kebiasaan sehari-hari.

    Kalau kamu membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur sesekali, itu belum tentu menjadi masalah. Namun, jika kamu hampir selalu membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk terlelap, sering terbangun, atau tetap merasa sangat mengantuk pada siang hari, kondisi tersebut layak diperhatikan karena bisa menjadi tanda adanya gangguan tidur.

    Referensi

    Cleveland Clinic. Diakses pada September 2026. "What Does ‘Sleep Latency’ Mean?"

    How To Info. Diakses pada September 2026. "The Science Behind How Long Should It Take You to Fall Asleep—And Why It Matters."

    Science Insights. Diakses pada September 2026. "Why Do I Fall Asleep as Soon as I Lay Down?"

    Tom's Guide. Diakses pada September 2026. "5 Differences Between an Insomniac and Someone Who Gets 7+ Hours Sleep a Night — and Why Sleep Experts Say It Matters."

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More