Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Menunggu Kabar Orang Tersayang Bisa Menguras Mental?

Kenapa Menunggu Kabar Orang Tersayang Bisa Menguras Mental?
ilustrasi menanti kabar (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Ketidakpastian tentang nasib keluarga dapat menimbulkan ambiguous loss, yaitu kehilangan tanpa kejelasan.

  • Stres selama penantian bisa mengganggu tidur, konsentrasi, dan nafsu makan, tetapi respons setiap orang berbeda.

  • Informasi tepercaya, bantuan praktis, dan pendampingan dapat diberikan tanpa menunggu kepastian nasib keluarga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ponsel selalu di tangan atau dalam jangkauan. Setiap notifikasi yang masuk diperiksa, berharap ada kabar tentang keluarga atau orang tersayang yang belum ditemukan setelah terjadi bencana atau kecelakaan. Waktu terus berjalan, sementara status keselamatan mereka belum diketahui.

Dalam situasi seperti ini, ketidakpastian itu sendiri dapat menjadi sumber stres yang berat. Seseorang harus menjalani hari tanpa mengetahui apa yang terjadi pada orang yang mereka sayangi.

  1. Saat nasib orang tersayang belum diketahui

    Dalam psikologi, keadaan ini dapat dipahami melalui konsep ambiguous loss, atau kehilangan yang tidak jelas. Orang tersayang tidak diketahui keberadaannya, tetapi belum ada kepastian apakah ia masih hidup atau sudah meninggal. Harapan untuk bertemu kembali pun dapat hadir bersamaan dengan ketakutan akan kabar buruk.

    Ketidakjelasan itu juga menyentuh kehidupan sehari-hari. Jika orang yang hilang merupakan pencari nafkah, keluarga dapat menghadapi tekanan ekonomi sekaligus kesulitan mengurus berbagai kebutuhan administratif. Jadi, beban penantian dapat mencakup banyak persoalan yang belum bisa diselesaikan.

  2. Stres ikut terasa di tubuh

    Seorang perempuan duduk di sofa sambil memegang ponsel, menggambarkan suasana menunggu kabar dengan cemas.
    ilustrasi menunggu kabar (pexels.com/Liza Summer)

    Stres merupakan respons alami terhadap situasi sulit atau mengancam. Ketika stres terasa berat, seseorang bisa sulit rileks, mudah tersinggung, dan kesulitan berkonsentrasi. Keluhannya juga dapat berupa sakit kepala, gangguan perut, perubahan nafsu makan, serta sulit tidur.

    Keluhan tersebut membantu menjelaskan mengapa penantian dapat terasa melelahkan meskipun aktivitas fisik tidak banyak. Namun, respons setiap orang berbeda. Merasa sangat cemas dalam situasi krisis tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental.

  3. Apa yang ditemukan penelitian?

    Tinjauan sistematis dalam jurnal Trauma, Violence, & Abuse membahas gejala psikologis pada keluarga orang hilang, termasuk gejala stres pascatrauma dan depresi. Hasil antarpenelitian sangat bervariasi. Penelitian pembanding juga tidak menunjukkan bahwa keluarga orang hilang selalu memiliki tingkat gangguan psikologis lebih tinggi daripada keluarga orang yang telah dipastikan meninggal.

    Namun, perlu diketahui bahwa semua studi yang ditinjau membahas kehilangan akibat perang atau teror negara. Meski demikian, penelitian ini memperlihatkan perlunya perhatian terhadap kesehatan mental keluarga yang diselimuti ketidakpastian.

  4. Dukungan bisa dimulai selama penantian

    Pedoman pertolongan pertama psikologis dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bantuan yang manusiawi dan praktis: mendengarkan tanpa memaksa orang bercerita, membantu memenuhi kebutuhan dasar, serta menghubungkan mereka dengan informasi dan layanan yang diperlukan.

    Hindari menjanjikan bahwa orang yang dicari “pasti selamat” ketika belum ada kepastian.

    Dalam keseharian, dukungan dapat berupa menemani makan, menyediakan air minum, atau membantu memperoleh pembaruan informasi dari petugas.

    Kesempatan beristirahat dan berhubungan dengan orang yang dipercaya juga membantu menghadapi stres.

    Jika keluhan menetap, memburuk, atau mulai mengganggu kemampuan menjalani kegiatan sehari-hari, hubungi tenaga kesehatan, psikolog, atau psikiater. Dukungan psikologis dapat diberikan saat keluarga masih menunggu jawaban.

    Referensi

    International Committee of the Red Cross, “The Agony and the Uncertainty: Missing Loved Ones and Ambiguous Loss,” diakses September 2026.

    World Health Organization, “Stress,” diakses September 2026.

    Lonneke I. M. Lenferink et al., “Toward a Better Understanding of Psychological Symptoms in People Confronted With the Disappearance of a Loved One: A Systematic Review,” Trauma, Violence, & Abuse 20, no. 3 (2019): 287–302, https://doi.org/10.1177/1524838017699602.

    World Health Organization, War Trauma Foundation, and World Vision International, "Psychological First Aid: Guide for Field Workers," diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More