Stres merupakan salah satu faktor pemicu sariawan yang cukup konsisten dilaporkan dalam literatur ilmiah.
Perubahan jadwal selama Ramadan dapat meningkatkan stres fisiologis ringan. Tidur cukup dan teknik relaksasi sederhana seperti pernapasan dalam membantu menjaga keseimbangan sistem imun.
Sariawan saat puasa memang mengganggu, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan terapi topikal, kebersihan mulut yang tepat, hingga pengelolaan nutrisi, sariawan dapat sembuh lebih cepat dan tidak terlalu menyakitkan. Namun, sebelum mencoba obat apa pun, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau dokter gigi.
Kuncinya adalah memahami waktu yang tepat untuk melakukan perawatan, terutama jika melibatkan cairan atau obat kumur. Dengan strategi yang cermat, puasa tetap nyaman tanpa terganggu rasa perih berkepanjangan.
Referensi
Mayo Clinic. “Canker Sore.” Diakses Februari 2026.
Natalie Rose Edgar, Dahlia Saleh, and Richard A Miller, “Recurrent Aphthous Stomatitis: A Review,” March 1, 2017, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5367879/.
Crispian Scully and Stephen Porter, “Oral Mucosal Disease: Recurrent Aphthous Stomatitis,” British Journal of Oral and Maxillofacial Surgery 46, no. 3 (September 12, 2007): 198–206, https://doi.org/10.1016/j.bjoms.2007.07.201.
Ilia Volkov et al., “Case Report: Recurrent Aphthous Stomatitis Responds to Vitamin B12 Treatment,” June 10, 2005, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1479540/#:~:text=Recurrent%20aphthous%20stomatitis%20can%20also,acid%2C%20or%20vitamin%20B12.
Bente Brokstad Herlofson and Pål Barkvoll, “Sodium Lauryl Sulfate and Recurrent Aphthous Ulcers: A Preliminary Study,” Acta Odontologica Scandinavica 52, no. 5 (January 1, 1994): 257–59, https://doi.org/10.3109/00016359409029036.
Camila De Barros Gallo, Maria Angela Martins Mimura, and Norberto Nobuo Sugaya, “Psychological Stress and Recurrent Aphthous Stomatitis,” Clinics 64, no. 7 (July 1, 2009): 645–48, https://doi.org/10.1590/s1807-59322009000700007.