Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jeroan vs Daging: Mana yang Lebih Cepat Bikin Kolesterol Naik?

Jeroan vs Daging: Mana yang Lebih Cepat Bikin Kolesterol Naik?
ilustrasi jeroan daging kurban yang disajikan saat Idul Adha (vecteezy.com/didit hutomo)
Intinya Sih
  • Jeroan mengandung kolesterol jauh lebih tinggi dibanding daging biasa, terutama pada hati dan otak, namun efeknya terhadap kolesterol darah tergantung kondisi tubuh dan pola makan seseorang.
  • Lemak jenuh serta cara pengolahan seperti digoreng atau dimasak dengan santan berperan besar dalam meningkatkan kolesterol LDL dan risiko penyakit jantung.
  • Konsumsi jeroan masih diperbolehkan asal dibatasi porsinya, diolah dengan cara sehat, serta diimbangi pola makan seimbang dan pemeriksaan profil lipid rutin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bicara soal makanan yang sering dianggap musuh kolesterol, jeroan hampir selalu masuk daftar teratas. Bahkan bagi orang yang sehari-hari tidak terlalu menjaga pola makan, ada kecenderungan untuk lebih berhati-hati saat melihat menu seperti hati sapi, usus, babat, atau paru goreng.

Dibanding daging biasa, beberapa jenis jeroan memang memiliki kandungan kolesterol yang lebih tinggi. Akan tetapi, hubungan antara makanan yang mengandung kolesterol dan kadar kolesterol darah ternyata tidak sisimpel yang banyak orang kira.

Artinya, makan jeroan tidak otomatis membuat semua orang langsung mengalami lonjakan kolesterol, ada banyak faktor lain yang ikut menentukan.

Table of Content

1. Perbedaan nutrisi daging dan jeroan

1. Perbedaan nutrisi daging dan jeroan

Dalam dunia gizi, daging biasanya merujuk pada otot hewan, sementara jeroan adalah organ dalam, misalnya hati, ginjal, otak, usus, limpa, paru, dan jantung.

Organ-organ ini memiliki fungsi biologis yang berbeda saat hewan hidup, sehingga kandungan nutrisinya juga sangat berbeda.

Sebagian jeroan kaya akan:

  • Zat besi.
  • Vitamin B12.
  • Vitamin A.
  • Folat.
  • Tembaga.
  • Protein.

Namun di sisi lain, beberapa jenis jeroan juga mengandung kolesterol dalam jumlah banyak. Menurut data United States Department of Agriculture (USDA), 100 gram hati sapi mengandung sekitar 350–400 mg kolesterol. Otak sapi bahkan bisa mengandung lebih dari 2.000 mg kolesterol per 100 gram. Sebagai perbandingan, daging sapi tanpa lemak rata-rata mengandung sekitar 70–90 mg kolesterol per 100 gram.

Artinya, dalam jumlah yang sama, beberapa jenis jeroan bisa mengandung kolesterol berkali-kali lipat lebih tinggi dibanding daging.

2. Apakah kolesterol makanan langsung jadi kolesterol darah?

Tubuh manusia sebenarnya memproduksi kolesterol sendiri, terutama di hati. Kolesterol dibutuhkan untuk:

  • Membentuk hormon.
  • Membuat vitamin D.
  • Membangun membran sel.
  • Membantu pencernaan lemak.

Karena itu, makan makanan tinggi kolesterol tidak otomatis membuat kolesterol darah langsung melonjak drastis pada semua orang.

Selama bertahun-tahun, penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara kolesterol makanan dan kolesterol darah lebih kompleks dibanding yang dulu dipercaya. Lemak jenuh dan lemak trans justru punya pengaruh lebih besar terhadap peningkatan low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat” dibanding kolesterol makanan itu sendiri. Namun, bukan berarti kolesterol makanan tidak penting sama sekali.

Pada sebagian orang, terutama mereka yang memiliki hiperkolesterolemia, diabetes, obesitas, resistensi insulin, atau punya faktor genetik tertentu, asupan kolesterol tinggi tetap dapat meningkatkan LDL secara signifikan. Kelompok ini dikenal sebagai hyper-responders, yaitu orang yang kadar kolesterol darahnya lebih sensitif terhadap makanan tinggi kolesterol.

3. Kenapa jeroan sering dikaitkan dengan kolesterol tinggi?

Potongan daging merah segar diletakkan di atas alas berwarna merah, memperlihatkan tekstur dan serat daging secara jelas.
ilustrasi daging kurban (pexels.com/Boys in Bristol Photography)

Jeroannya sendiri mungkin bukan masalah besar. Namun, jeroan sering kali diolah dengan cara digoreng, dimasak dengan santan, tinggi garam, dan tinggi lemak jenuh. Contohnya adalah gulai otak atau usus, paru goreng, sambal goreng ati, atau usus krispi.

Jadi, kalau kamu mengalami lonjakan kolesterol setelah makan jeroan, penyebabnya sering kali bukan hanya jeroannya, tetapi kombinasi keseluruhan makanannya.

Penelitian menjelaskan bahwa pola makan tinggi lemak jenuh berkaitan erat dengan peningkatan kolesterol LDL dan risiko penyakit kardiovaskular. Sementara itu, konsumsi protein hewani olahan berlebihan juga berkaitan dengan inflamasi metabolik dan gangguan profil lipid.

4. Apakah semua jeroan sama risiko bahayanya?

Kandungan kolesterol setiap organ sangat berbeda.

  • Jeroan yang sangat tinggi kolesterol: lain otak, hati, dan ginjal.
  • Jeroan yang tingkat kolesterolnya sedang: jantung, lidah,
  • Jeroan yang sering menjadi masalah karena pengolahannya: usus goreng, paru goreng, kulit dan bagian berlemak.

Selain itu, cara memasak sangat menentukan dampaknya terhadap kesehatan.

Jeroan rebus tentu berbeda efeknya dibanding jeroan yang digoreng berulang, dimasak dengan minyak banyak, atau dicampur santan pekat.

5. Apakah orang sehat boleh makan kolesterol?

Boleh, dalam jumlah wajar.

Jeroan tidak sepenuhnya jahat. Hati sapi, misalnya, merupakan salah satu sumber baik vitamin B12 dan zat besi. Pada beberapa populasi dengan risiko anemia, konsumsi dalam jumlah kecil bisa membantu pemenuhan nutrisi. Namun, yang tidak disarankan adalah mengonsumsinya dalam jumlah besar, sering, dan pola makan sehari-hari sudah tinggi lemak jenuh.

Pedoman dari berbagai organisasi kesehatan umumnya tidak sepenuhnya melarang jeroan, tetapi menyarankan pembatasan, terutama bagi individu dengan risiko penyakit jantung.

Pola makan untuk kesehatan jantung sebaiknya membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol, terutama pada individu dengan risiko kardiovaskular tinggi.

6. Siapa yang sebaiknya lebih berhati-hati?

Seorang perempuan mengenakan baju kuning sedang memasak daging di dapur rumah dengan peralatan masak dan piring tersusun rapi di rak.
ilustrasi memasak daging kurban (unsplash.com/Curated Lifestyle)

Beberapa kelompok lebih rentan mengalami dampak negatif dari konsumsi jeroan berlebihan, yaitu orang yang:

  • Punya kolesterol tinggi.
  • Pasien penyakit jantung.
  • Memiliki hipertensi.
  • Pasien diabetes tipe 2.
  • Obesitas.
  • Mengidap perlemakan hati
  • Memiliki riwayat keluarga hiperkolesterolemia (tingginya kadar kolesterol dalam tubuh;>200 mg/dL).

Pada kelompok ini, konsumsi jeroan terlalu sering dapat memperburuk profil lipid dan meningkatkan risiko aterosklerosis, yaitu penumpukan plak pada pembuluh darah.

7. Kalau suka jeroan, apa yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko?

Bukan berarti makan jeroan sepenuhnya. Yang lebih realistis adalah mengatur frekuensi, porsi, dan cara memasaknya. Beberapa strategi yang lebih aman:

  • Batasi konsumsi jeroan.
  • Hindari metode deep frying.
  • Kurangi jeroan yang diolah dengan santan pekat.
  • Perbanyak serat dari sayur.
  • Pilih sumber protein lain, seperti ikan dan kacang.
  • Rutin cek profil lipid.

Serat larut dari makanan seperti oat, kacang-kacangan, apel, dan sayuran juga dapat membantu menurunkan kolesterol LDL dengan cara mengurangi penyerapan kolesterol di usus.

8. Jadi, apakah jeroan lebih cepat bikin kolesterol naik daripada daging?

Jawabannya secara umum iya, terutama karena kandungan kolesterolnya lebih tinggi dibanding daging biasa. Namun, efeknya pada tubuh tetap dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti jumlah yang dimakan, frekuensi konsumsi, cara memasak, pola makan harian, aktivitas fisik, dan kondisi metabolik masing-masing orang.

Bagi orang sehat, konsumsi sesekali dalam jumlah moderat kemungkinan tidak menjadi masalah besar. Namun, bagi individu dengan risiko penyakit jantung atau gangguan metabolik, jeroan lebih berpotensi memperburuk kadar kolesterol dibanding daging biasa, terutama jika dikonsumsi rutin dan dalam porsi besar.

Kesimpulannya, jeroan cenderung lebih tinggi kolesterol dibanding daging, terutama hati dan otak. Karena itu, makanan ini lebih sering dikaitkan dengan kenaikan kolesterol darah dan risiko penyakit jantung.

Meski begitu, kolesterol darah tidak hanya dipengaruhi satu jenis makanan. Lemak jenuh, pola makan keseluruhan, aktivitas fisik, faktor genetik, dan kondisi kesehatan juga turut berperan. Artinya, yang paling penting adalah memahami konteks konsumsi secara keseluruhan. Kesehatan tidak cuma ditentukan dari satu pilihan makanan saja, tetapi dari akumulasi kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.

Referensi

American Heart Association. “Dietary Fats.” Diakses Mei 2026.

Frank M. Sacks et al., “Dietary Fats and Cardiovascular Disease: A Presidential Advisory From the American Heart Association,” Circulation 136, no. 3 (June 16, 2017): e1–23, https://doi.org/10.1161/cir.0000000000000510.

European Society of Cardiology. “2021 ESC Guidelines on Cardiovascular Disease Prevention in Clinical Practice.” Diakses Mei 2026.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. “Cholesterol.” Diakses Mei 2026.

Dong D. Wang and Frank B. Hu, “Dietary Fat and Risk of Cardiovascular Disease: Recent Controversies and Advances,” Annual Review of Nutrition 37, no. 1 (June 24, 2017): 423–46, https://doi.org/10.1146/annurev-nutr-071816-064614.

Jacqui Wise, “Saturated Fat: Reducing Intake Has Benefits, but Only in Those at High Risk, Study Reports,” BMJ 391 (December 16, 2025): r2642, https://doi.org/10.1136/bmj.r2642.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More