Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
CKG Ungkap Karies Gigi Jadi Masalah Kesehatan Anak Terbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
  • Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes menjadi skrining terbesar di Indonesia, bertujuan mengubah paradigma layanan kesehatan dari pengobatan menjadi pencegahan melalui deteksi dini berbagai penyakit.
  • Hasil CKG menunjukkan karies gigi sebagai masalah kesehatan anak paling dominan, disusul anemia, tekanan darah tinggi, serta persoalan gizi yang kini mencerminkan beban ganda antara kekurangan dan kelebihan gizi.
  • CKG memasuki tahap pengobatan bagi penderita hipertensi dan diabetes, dengan sebagian besar pasien berhasil mengendalikan kondisi mereka; pemerintah menargetkan peningkatan cakupan dan keberlanjutan program ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) terus menunjukkan dampak nyata dalam memperkuat deteksi dini penyakit agar dapat ditangani sesegera mungkin.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan CKG tidak hanya menjadi program skrining terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi untuk mengubah paradigma pelayanan kesehatan dari mengobati menjadi mencegah.

"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, makin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang," katanya yang dikutip dalam keterangan di situs resmi.

Penemuan selama satu semester

Data hasil CKG selama satu semester terakhir memberikan gambaran yang makin jelas mengenai tantangan kesehatan masyarakat di setiap kelompok usia.

  • Kelompok bayi baru lahir

Newborn screening menunjukkan bahwa dari enam jenis skrining yang dilakukan, penyakit jantung bawaan kritis menjadi kondisi dengan potensi prevalensi tertinggi.

Hingga 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani skrining menggunakan pulse oximetry. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,3 persen atau 20.946 bayi teridentifikasi memiliki indikasi kelainan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Temuan tersebut memperkuat pentingnya kesiapan layanan jantung anak mulai dari deteksi dini, sistem rujukan hingga kapasitas rumah sakit dalam menangani penyakit jantung bawaan.

  • Kelompok anak usia sekolah dasar

Masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi, disusul peningkatan tekanan darah, gangguan status gizi serta gangguan indra pendengaran serta penglihatan.

  • Kelompok SMP

Masalah kesehatan gigi masih menjadi temuan terbanyak. Selain itu, mulai terlihat peningkatan soal kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi, disertai meningkatnya risiko tuberkulosis (TB), peningkatan tekanan darah, dan masalah gizi.

  • Kelompok SMA

Pola pada kelompok sebelumnya, di fase ini makin menguat. Karies gigi tetap menjadi masalah utama, diikuti peningkatan tekanan darah, gangguan kesehatan mental, risiko TB, serta persoalan gizi yang menunjukkan keseimbangan antara gizi kurang atau obesitas.

Karies gigi jadi masalah paling dominan

ilustrasi periksa gigi (pexels.com/Cedric Fauntleroy)

Masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi, dialami oleh lebih dari 40 persen peserta yang diperiksa. Temuan ini diikuti oleh anemia (27 persen), peningkatan tekanan darah (21 persen), penumpukan kotoran telinga (7 persen), serta gizi lebih dan obesitas (7 persen).

Menariknya, data juga menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak lagi didominasi gizi kurang. Proporsi anak dengan obesitas kini makin mendekati angka gizi kurang, menandakan Indonesia menghadapi double burden of malnutrition, yaitu gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan.

Menurut Menkes, temuan ini menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk menyusun intervensi kesehatan yang lebih spesifik sesuai kelompok usia.

"Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA. Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif," lanjutnya.

Program kesehatan yang berkelanjutan

Sejak 2026, CKG mulai memasuki tahap tata laksana atau pengobatan bagi peserta yang telah terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.

Hasil sementara menunjukkan sekitar 35,4 persen pasien hipertensi yang terdiagnosis pada CKG 2025 telah kembali melakukan pemeriksaan pada 2026. Dari jumlah tersebut, 46,9 persen berhasil mengendalikan tekanan darahnya.

Sementara pada pasien diabetes melitus, sekitar 33,1 persen telah kembali melakukan pemeriksaan dan 69,4 persen di antaranya berhasil mencapai pengendalian kadar gula darah.

Pemerintah menargetkan pada tahun ini sedikitnya 50 persen menjalani pengobatan rutin, dengan 50 persen di antaranya berhasil mencapai kondisi terkendali atau sekitar seperempat dari seluruh pasien hipertensi dan diabetes ditemukan melalui CKG.

Menkes menjelaskan, keberhasilan pengendalian penyakit kronis akan memberikan dampak besar terhadap penurunan angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

"Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa skrining harus diikuti dengan pengobatan yang rutin dan pengendalian penyakit. Negara seperti Korea berhasil menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular melalui pendekatan yang dikenal sebagai Triple 80, yaitu 80 persen masyarakat diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen di antaranya berhasil terkendali. Itulah arah yang sedang kita bangun di Indonesia,” Menkes Budi mengatakan.

Kemenkes akan terus memperluas cakupan CKG, memperkuat tindak lanjut hasil pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan primer, serta memastikan masyarakat yang telah terdiagnosis memperoleh pengobatan dan pendampingan secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan angka deteksi dini penyakit, tetapi juga mampu menurunkan beban penyakit tidak menular dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Editorial Team

Related Article