Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Diet Keto Bisa Picu Kanker Usus Halus? Ini Kata Studi

Diet Keto Bisa Picu Kanker Usus Halus? Ini Kata Studi
ilustrasi iga babi BBQ, bisa jadi bagian dari diet keto (unsplash.com/Brian Wegman 🎃)
Intinya Sih
  • Studi terbaru menemukan diet ketogenik mempercepat pertumbuhan tumor usus halus pada tikus yang secara genetik rentan mengalami kanker.

  • Efek tersebut dipicu oleh cara sel punca usus membakar lemak, bukan oleh keton yang dihasilkan selama ketosis.

  • Temuan ini belum membuktikan diet keto menyebabkan kanker pada manusia, tetapi menjadi alasan untuk tidak menjalankan diet tersebut sebagai terapi antikanker tanpa pengawasan medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Diet ketogenik populer untuk menurunkan berat badan. Pola makan ini juga sedang diteliti sebagai pendamping terapi penyakit tertentu, termasuk kanker, karena pembatasan karbohidrat dapat menurunkan glukosa dan insulin sekaligus membuat tubuh menghasilkan keton.

Namun, sebuah penelitian dalam jurnal Nature baru-baru ini menunjukkan bahwa efek diet keto tidak selalu sama pada setiap jaringan tubuh. Dalam percobaan terhadap tikus, pola makan tersebut justru mempercepat pembentukan tumor di usus halus, walaupun pada bagian usus besar atau kolon, efek yang ditemukan berlawanan.

Temuan studi: diet keto mempercepat tumor pada tikus yang rentan kanker

Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, menggunakan tikus dengan perubahan pada gen APC, yang membuat hewan tersebut rentan mengembangkan adenoma atau tumor awal pada usus. Model ini digunakan untuk meniru sebagian mekanisme genetik yang terjadi pada kondisi familial adenomatous polyposis (FAP) pada manusia.

Tikus dibagi menjadi kelompok yang menerima makanan kontrol, makanan tinggi lemak dan tinggi kalori, atau diet ketogenik yang sangat tinggi lemak. Formula diet keto dalam penelitian menggunakan kandungan lemak sekitar 80 persen dan berbasis lard atau lemak babi.

Tikus dalam kelompok keto tidak menjadi obesitas. Namun, jumlah dan beban tumor usus halus mereka meningkat, sedangkan kelangsungan hidupnya lebih pendek dibanding tikus yang mendapat makanan kontrol. Tingkat pembentukan tumornya bahkan serupa atau lebih tinggi dibanding kelompok yang menerima pola makan tinggi lemak pemicu obesitas.

Artinya, dalam model tersebut, peningkatan tumor tidak semata-mata terjadi karena berat badan naik atau tikus mengalami obesitas.

Pemicunya bukan keton

Ketika asupan karbohidrat sangat dibatasi, tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini menghasilkan keton, terutama beta-hidroksibutirat (BHB).

Awalnya, peneliti menduga BHB mungkin menjadi penyebab perubahan pada tumor. Dugaan tersebut berangkat dari studi tahun 2022 yang menemukan bahwa BHB dapat menghambat pembelahan sel abnormal dan pertumbuhan tumor pada kolon tikus.

Namun, dalam penelitian terbaru, perubahan produksi maupun penggunaan keton tidak menghentikan pembentukan tumor usus halus. Tumor tetap berkembang ketika jalur pembentukan keton dihambat, dan peningkatan keton tanpa pemberian diet tinggi lemak juga tidak menghasilkan efek yang sama.

Pemicu utamanya ternyata adalah oksidasi asam lemak, yaitu proses ketika sel usus membakar lemak dari makanan untuk memperoleh energi. Proses tersebut mengaktifkan protein PPAR yang kemudian mendorong sel punca usus menjadi lebih aktif dan lebih sering membelah.

Aktivitas sel punca sebenarnya penting untuk memperbaiki lapisan usus setelah cedera. Masalahnya, pada jaringan yang sudah memiliki kerentanan genetik, pembelahan yang terlalu aktif dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi sel abnormal untuk berkembang menjadi tumor.

Ketika peneliti menghambat PPAR atau CPT1A—protein yang diperlukan untuk membawa asam lemak ke tempat pembakaran energi di dalam sel—peningkatan aktivitas sel punca dan pembentukan adenoma akibat diet keto ikut berkurang.

Efeknya berbeda antara usus halus dan usus besar

Daging BBQ sedang dipanggang di atas panggangan meja dengan potongan bawang putih, dikelilingi hidangan pendamping dan tangan orang yang menyiapkan makanan.
ilustrasi memanggang daging BBQ, bagian dari diet keto (commons.wikimedia.org/myllissa)

Menurut para peneliti, temuan menarik adalah diet yang sama menghasilkan respons berbeda pada dua bagian usus yang berdekatan. Diet keto mempercepat tumor di usus halus, tetapi menekan pembentukan tumor pada kolon dalam model tikus tersebut.

Itu memperlihatkan bahwa melabeli satu pola makan sebagai “antikanker” maupun “pemicu kanker” secara umum terlalu menyederhanakan masalah. Setiap organ memiliki jenis sel, lingkungan metabolik, mikrobioma, dan cara menggunakan nutrisi yang berbeda.

Temuan tersebut juga berarti suplemen atau minuman keton belum tentu menghasilkan risiko maupun manfaat yang sama dengan diet tinggi lemak. Berdasarkan eksperimen ini, lemak dari makanan dan cara sel memprosesnya lebih berperan dibandingkan keton itu sendiri.

Apakah diet keto terbukti menyebabkan kanker pada manusia?

Belum.

Penelitian ini dilakukan pada tikus yang dibuat rentan mengalami tumor akibat perubahan genetik. Para peneliti belum menguji apakah manusia yang menjalani diet keto mengalami peningkatan kanker usus halus.

Selain itu, komposisi pakan tikus sangat tinggi lemak dan sebagian besar menggunakan lard. Diet keto pada manusia dapat bervariasi. Sebagian orang mengandalkan mentega, daging berlemak, keju, dan daging olahan, sedangkan sebagian lainnya lebih banyak menggunakan ikan, minyak zaitun, alpukat, kacang-kacangan, serta sayuran rendah karbohidrat.

Usus tikus juga tidak identik dengan usus manusia. Dosis, lama diet, jenis lemak, mikrobioma, kondisi metabolik, dan faktor genetik dapat memengaruhi hasilnya. Jadi, perlu penelitian lebih lanjut pada manusia.

Di sisi lain, bukti bahwa diet keto dapat mencegah atau mengobati kanker pada manusia juga belum cukup. Belum ada pola diet, makanan, vitamin, suplemen, atau herbal tertentu yang terbukti dapat menyembuhkan kanker atau mencegahnya kembali.

Siapa yang perlu lebih berhati-hati?

Temuan ini mungkin paling relevan bagi orang yang memiliki FAP, mutasi gen APC, banyak polip usus, atau riwayat keluarga kuat kanker saluran cerna.

Pada orang dengan FAP, polip duodenum ditemukan pada sekitar 50–90 persen pasien. Risiko seumur hidup mengalami kanker usus halus diperkirakan sekitar 4–12 persen, dengan sebagian besar kasus terjadi di duodenum.

Studi pada tikus tidak dapat langsung digunakan untuk melarang diet keto pada semua pasien FAP. Namun, orang dengan kondisi tersebut sebaiknya tidak memulai pola makan yang sangat tinggi lemak tanpa mendiskusikannya dengan dokter gastroenterologi, ahli genetika klinis, atau ahli gizi yang menangani kasusnya.

Pasien kanker juga perlu berhati-hati. Diet ketogenik dapat memicu penurunan berat badan dan membatasi pilihan makanan. Pada pasien yang sudah kehilangan berat badan, massa otot, atau nafsu makan akibat penyakit dan pengobatan, pembatasan makanan yang ketat dapat memperburuk risiko malnutrisi.

Bagaimana jika sedang diet keto?

Hidangan daging panggang ala Maroko disajikan di piring dengan kentang panggang dan rempah di atas meja kayu.
ilustrasi daging panggang ala Maroko (vecteezy.com/Adilson Sochodolak)

Tidak perlu langsung menghentikan diet hanya berdasarkan temuan studi baru ini. Namun, ada beberapa hal yang layak dievaluasi:

  • Jangan menganggap diet keto sebagai cara mencegah atau mengobati kanker.
  • Perhatikan sumber lemaknya. Batasi ketergantungan pada daging olahan, mentega, lemak hewani, dan makanan ultraproses.
  • Sertakan sayuran rendah karbohidrat, kacang, biji-bijian, ikan, dan sumber lemak tak jenuh bila tetap menjalani diet tersebut.
  • Jangan mengabaikan sembelit atau asupan serat yang sangat rendah.
  • Konsultasikan diet dengan dokter atau ahli gizi jika memiliki riwayat polip, kanker saluran cerna, FAP, diabetes, penyakit ginjal, penyakit hati, atau sedang menjalani terapi kanker.

Untuk pencegahan kanker secara umum, rekomendasi yang telah terbukti adalah menjadikan sayur, buah, biji-bijian utuh, serta kacang dan polong sebagai bagian utama pola makan. Batasi daging merah, daging olahan, makanan ultraproses, dan minuman tinggi gula.

Kesimpulannya, studi MIT ini tidak membuktikan bahwa diet keto memicu kanker usus halus pada manusia. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa efek metabolik diet bisa berbeda di tiap organ. Apa yang tampak bermanfaat bagi satu jaringan belum tentu aman bagi jaringan lain, terutama jika ada kerentanan genetik.

Referensi

National Cancer Institute. “Diets, Supplements, and Cancer.” Diakses Juli 2026.

National Cancer Institute. “Keto Molecule Offers Clue for Preventing Colorectal Cancer.” Diakses Juli 2026.

Shay, Jessica E. S., Fangtao Chi, Constantine N. Tzouanas, et al. “Ketogenic Diet Mediates Intestinal Tumorigenesis through Lipids Not Ketones.” Nature. Published July 15, 2026. https://doi.org/10.1038/s41586-026-10779-y.

MIT News. “Ketogenic Diets May Increase Cancer Risk in the Small Intestine.” Diakses Juli 2026.

World Cancer Research Fund. “Eat a Diet Rich in Wholegrains, Vegetables, Fruit and Beans.” Diakses Juli 2026.

Yen, Timothy, Peter P. Stanich, Lisen Axell, and Swati G. Patel. “APC-Associated Polyposis Conditions.” Updated May 12, 2022. In GeneReviews®, edited by Margaret P. Adam et al. Seattle: University of Washington, 1993–2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK1345/.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More