Comscore Tracker

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan

Angina dapat menyebabkan serangan jantung

Angina atau angin duduk adalah nyeri atau rasa sakit di dada karena kondisi kurangnya atau tidak cukupnya darah yang mengalir ke jantung. Gejala ini bisa terasa seperti serangan jantung karena adanya tekanan yang tidak mengenakkan di dada. Penyakit ini juga bisa dikenal sebagai angina pektoris.

Bila seseorang mengalami angina, bisa jadi itu merupakan gejala penyakit jantung. Sesuatu mungkin menghalangi arteri, sehingga aliran darah jadi terhambat dan tidak mengalir cukup ke jantung.

Biasanya angin duduk dapat hilang dengan cepat. Namun, angina bisa menjadi tanda penyakit masalah jantung yang berbahaya dan dapat mengancam jiwa.

1. Jenis

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatanilustrasi penyakit jantung (freepik.com/shayne_ch13)

Ada beberapa jenis angina, yang setiap jenisnya memiliki tanda atau ciri yang berbeda-beda. Dilansir Healthline dan WebMD, inilah beberapa jenis angina:

  • Angina stabil: Merupakan angina yang paling umum dan biasanya terjadi karena aktivitas fisik berlebihan atau karena stres. Jenis ini dapat berlangsung selama beberapa menit dan tidak berlangsung lama. Menggunakan obat atau istirahat yang cukup dapat meredakan dan menghilangkannya.
     
  • Angina tidak stabil: Seseorang dapat terkena angina tidak stabil saat sedang istirahat atau tidak beraktivitas. Rasa nyeri yang ditimbulkan bisa sangat sakit dan bertahan lama, juga dapat hilang timbul. Jenis ini merupakan keadaan darurat medis yang cukup berbahaya karena dapat berkembang menjadi serangan jantung.

  • Angina mikrovaskular: Jenis ini bisa terjadi ketika seseorang sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Penyebabnya adalah terganggunya fungsi arteri koroner yang sangat kecil di jantung, sehingga menyebabkan jantung tidak mendapat darah yang cukup. Gejalanya mungkin bertahan cukup lama hingga lebih dari 10 menit. Angina jenis ini juga menyebabkan rasa sakit yang cukup parah. Jenis ini lebih sering terjadi pada perempuan.

  • Angina prinzmetal atau angina varian: Jenis ini tergolong langka dan biasanya menyerang saat malam hari ketika seseorang tidur. Ini disebabkan karena arteri jantung yang tiba-tiba mengencang atau menyempit, sehingga menyebabkan rasa sakit yang parah. Untuk meredakan rasa sakitnya, diperlukan obat-obatan tertentu. Dalam beberapa kasus, angina jenis ini dapat menyebabkan aritmia yang berpotensi menyebabkan kerusakan otot jantung, bahkan kematian.

2. Gejala yang mungkin muncul bersamaan dengan angina

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatanilustrasi lelah, salah satu tanda angina (unsplash.com/Vladislav Muslakov)

Saat mengalami angina, biasanya akan timbul beberapa gejala seperti nyeri dan ketidaknyamanan di dada. Bila digambarkan, rasanya mungkin seperti tekanan, remasan, atau sensasi terbakar dan sesak di dada. Rasa sakitnya bisa terasa di belakang tulang dada, kemudian juga dapat menyebar ke area bahu, lengan, leher, tenggorokan, rahang, atau punggung.

Selain itu, beberapa gejala lainnya yang bisa menyertai angina meliputi:

  • Pusing
  • Kelelahan
  • Mual atau mulas
  • Sesak napas
  • Berkeringat
  • Pingsan

Nyeri dada akibat angina dapat menyebabkan aktivitas sehari-hari menjadi tidak nyaman. Selain itu, komplikasi yang paling berbahaya yang dapat ditimbulkan adalah serangan jantung.

Baca Juga: Dislipidemia, Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner dan Stroke

3. Gejala angina pada perempuan

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatanilustrasi angina pada perempuan (freepik.com/jcomp)

Gejala angina pada perempuan mungkin bisa berbeda dengan laki-laki. Ini karena gejala angina paling umum, yaitu tekanan nyeri atau sesak di dada, bisa jadi tidak dirasakan. Mungkin gejala yang dirasakan hanya rasa lelah saja.

Kemudian, perempuan juga lebih berisiko dan lebih banyak mengalami penyakit mikrovaskular koroner yang dapat menyebabkan penyumbatan arteri kecil di jantung.

Menurut American Heart Association, sebanyak 50 persen perempuan dengan gejala angina tidak memiliki arteri koroner yang tersumbat. Padahal, umumnya aterosklerosis atau penyakit arteri koroner inilah yang menyebabkan angina.

Perempuan dengan penyakit mikrovaskular koroner sering mengalami angina mikrovaskular, yang dapat terjadi ketika melakukan aktivitas normal, bisa juga menyerang saat sedang stres fisik atau mental.

4. Penyebab angina

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatanilustrasi aterosklerosis, salah satu penyebab angina (lifespan.io)

Penyebab angina adalah kurangnya aliran darah ke otot jantung. Jantung membutuhkan oksigen yang dibawa bersama dengan darah. Saat jantung tidak mendapat cukup oksigen, timbul kondisi yang disebut iskemia, yang bila terjadi pada jantung disebut sebagai angina.

Kurangnya aliran darah di otot jantung dapat disebabkan beberapa alasan. Salah satu penyebab paling umum adalah aterosklerosis yang menyebabkan arteri jantung (koroner) mengalami penyempitan akibat plak timbunan lemak.

Beberapa hal lainnya yang dapat menyebabkan angina meliputi:

  • Penyakit mikrovaskuler koroner: Terjadi ketika arteri kecil jantung menjadi rusak dan berimbas pada berkurangnya aliran darah.
  • Kejang pada arteri: Kondisi kejang yang terjadi secara tiba-tiba pada arteri di sekitar jantung dapat menyebabkannya menyempit, sehingga membatasi aliran darah.
  • Gumpalan darah: Pada kasus angina tidak stabil, gumpalan darah dapat terbentuk di arteri di sekitar jantung yang sebagian atau seluruhnya menghalangi aliran darah di arteri. Akibatnya, gejala angina dan/atau mungkin serangan jantung dapat terjadi.

5. Diagnosis

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatanilustrasi diagnosis angina (vanderbilthealth.com)

Ada beberapa cara untuk mendiagnosis angina dan jenisnya. Dokter akan memeriksa riwayat medis dan menanyakan gejala yang dirasakan pasien serta sudah berapa gejala berlangsung. Riwayat penyakit jantung atau faktor risiko lainnya juga dapat ditanyakan oleh dokter.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik seperti mendengarkan dan mengukur detak jantung, serta tes tekanan darah. Selanjutnya, beberapa tes diagnostik dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis, seperti:

  • Tes darah: Mengukur protein tertentu yang dilepaskan selama serangan jantung, mengukur kadar kolesterol, dan mengukur lipid dalam darah.
  • Rontgen dada: Guna mengetahui kondisi paru-paru atau tulang yang mungkin menyebabkan gejala angina.
  • Elektrokardiogram (EKG): Digunakan untuk mengukur impuls listrik yang dihasilkan saat jantung berdetak. Pola EKG tertentu bisa menunjukkan adanya aliran darah yang mengalami gangguan.
  • Ekokardiogram: Tes untuk menghasilkan gambar jantung menggunakan gelombang suara, agar dokter dapat melihat apakah ada masalah dengan fungsi kontraksi atau relaksasi jantung, juga dengan fungsi katup jantung.
  • Tes stres: Guna mengevaluasi fungsi jantung selama berolahraga. Tes ini biasa digunakan bersamaan dengan EKG, ekokardiogram, dan pencitraan nuklir.
  • Angiografi koroner: Tes ini menggunakan sinar-X dan pewarna khusus untuk melihat apakah terdapat arteri yang tersumbat sekaligus mengobati penyumbatan tersebut bila diperlukan.
  • Angiografi CT koroner: Pemindaian CT digunakan untuk melihat apakah arteri mengalami penyempitan atau tidak.
  • MRI stres: Menggunakan pemindaian MRI untuk melihat gambar detail jantung dan pembuluh darah ketika sedang dalam fase stres.

6. Pengobatan

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatanilustrasi obat-obatan (IDN Times/Mardya Shakti)

Pengobatan untuk angina dapat berbeda-beda sesuai dengan tingkat kerusakan jantung pasien. Angina ringan dapat diobati dengan obat-obatan serta perubahan gaya hidup agar aliran darah kembali lancar. Sementara itu, bila obat-obatan saja tidak cukup, maka prosedur medis atau pembedahan dapat dilakukan.

Beberapa obat yang mungkin diresepkan oleh dokter untuk mengobati angina ringan meliputi:

  • Nitrat: Guna menghambat saluran kalsium dan melebarkan pembuluh darah.
  • Beta-blocker: Untuk memperlambat jantung agar tidak bekerja terlalu keras.
  • Pengencer darah atau obat antiplatelet: Untuk mencegah pembekuan darah.
  • Statin: Guna menurunkan kadar kolesterol dan menstabilkan plak.

Pada kondisi angina yang lebih parah dan tidak bisa diatasi dengan obat, beberapa pembedahan dapat dilakukan untuk membuka arteri yang tersumbat. Opsinya antara lain:

  • Angioplasti atau stenting: Prosedur ini biasanya memakan waktu kurang dari 2 jam dan pasien mungkin akan dirawat inap.
  • Cangkok bypass arteri koroner (CABG) atau operasi bypass: Pasien dapat dirawat inap di rumah sakit selama sekitar seminggu setelah melakukan operasi ini untuk benar-benar pulih kembali.
  • Enhanced external counterpulsation (EECP): Dapat menjadi pilihan bila perawatan lain tidak berhasil atau tidak tepat.

7. Faktor risiko

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatanilustrasi penyakit jantung (pexels.com/freestocks.org)

Faktor risiko yang dapat memicu gejala angina biasanya adalah kondisi-kondisi yang menyebabkan ketidaksesuaian antara suplai oksigen ke jantung dengan kebutuhan oksigen di jantung. Kondisi-kondisi tersebut antara lain:

  • Usia tua
  • Adanya riwayat penyakit jantung dalam keluarga
  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Kegemukan
  • Menggunakan tembakau
  • Tidak cukup berolahraga
  • Ketika mengerahkan tenaga fisik terlalu banyak
  • Stres mental atau emosional
  • Makan makanan berat
  • Suhu yang sangat dingin atau panas
  • Merokok

8. Pencegahan

Angin Duduk (Angina): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatanilustrasi berhenti merokok (IDN Times/Nurulia R. Fitri)

Untuk mencegah angina, kita perlu mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Beberapa perubahan gaya hidup yang diperlukan adalah:

  • Tidak merokok atau berhenti merokok.
  • Rutin memeriksa kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.
  • Mengonsumsi makanan sehat dan menjaga berat badan.
  • Meningkatkan aktivitas fisik, setidaknya 150 menit aktivitas fisik moderat setiap minggu. Kamu juga bisa melakukan latihan kekuatan selama 10 menit dua kali seminggu, serta melakukan peregangan selama 5-10 menit sebanyak tiga kali seminggu.
  • Mampu mengelola stres dengan baik.
  • Membatasi konsumsi alkohol hingga dua gelas atau kurang dalam sehari untuk laki-laki, dan satu gelas sehari atau kurang untuk perempuan.
  • Mendapatkan vaksin flu tahunan untuk menghindari komplikasi jantung dari virus.

Angina atau angin duduk harus diwaspadai karena dapat mengindikasikan serangan jantung yang bisa menyerang kapan saja. Rasa sakit yang ditimbulkan pun serupa dengan serangan jantung pada umumnya.

Bedanya, angina masih merupakan gejala, yang bisa segera ditangani agar tidak menjadi berbahaya. Jadi, bila kamu tiba-tiba mengalami nyeri dada yang tidak bisa dijelaskan, sebaiknya segera cari bantuan medis, ya!

Baca Juga: Penyakit Jantung Bawaan, Masalah Struktur Jantung pada Kelahiran Bayi

Topic:

  • Nurulia R F
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya