Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta Adenokarsinoma Paru, Jenis Kanker Paru yang Diidap Paus Leo XIV
Paus Leo XIV. (AFP/Tiziana Fabi)
  • Adenokarsinoma paru adalah salah satu jenis kanker paru non-sel kecil. Nodul paru tidak selalu kanker, tetapi pada Paus Leo XIV, pemeriksaan jaringan saat operasi mengonfirmasi adenokarsinoma.

  • Merokok merupakan faktor risiko utama, tetapi kanker paru juga dapat terjadi pada orang yang tidak pernah merokok. Gejala pun sering belum muncul pada tahap awal.

  • Pilihan pengobatan dan peluang pemulihan bergantung pada stadium, ciri tumor, serta kondisi pasien. Karena itu, operasi saja belum cukup untuk menyimpulkan stadium atau hasil akhir.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nodul yang ditemukan di paru tidak selalu berarti kanker. Namun, pada Paus Leo XIV, pemeriksaan jaringan saat operasi pada Selasa (13/10) mengonfirmasi bahwa nodul di paru kanannya adalah adenokarsinoma.

Tim medis mengangkat lobus bawah paru kanan melalui operasi berbantuan video. Menurut pernyataan resmi Vatikan, operasi berlangsung sekitar 90 menit tanpa komplikasi dan Paus Leo sadar kembali seperti biasa.

Sebelum operasi, Paus Leo menyebut nodul itu terlokalisasi dan terdeteksi sangat dini. Namun, pernyataan medis setelah operasi belum merinci ukuran tumor, keterlibatan kelenjar getah bening, atau stadium kankernya.

Apa itu adenokarsinoma paru?

Adenokarsinoma paru adalah salah satu jenis kanker paru non sel kecil. Kanker ini bermula dari sel yang melapisi alveoli (kantong udara kecil di paru) dan menghasilkan zat seperti lendir.

Nodul adalah istilah untuk area kecil yang terlihat pada pencitraan; sebagian besar nodul paru bersifat jinak. Pemeriksaan jaringan dapat memastikan apakah suatu nodul kanker dan jenis selnya.

Penyebab dan faktor risiko

Tidak ada satu penyebab yang menjelaskan semua kasus adenokarsinoma paru. Kanker berkembang ketika terjadi perubahan pada sel, termasuk perubahan yang membuatnya tumbuh tanpa kendali.

Merokok adalah faktor risiko utama kanker paru. Risiko juga dapat meningkat akibat paparan asap rokok orang lain, radon, zat tertentu di tempat kerja seperti asbes, polusi udara, riwayat keluarga, serta beberapa faktor kesehatan dan usia. Namun, memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti terkena kanker.

Adenokarsinoma juga dapat terjadi pada orang yang tidak pernah merokok. Sebuah studi dalam jurnal Nature pada tahun 2023 menggabungkan data kasus di beberapa kelompok populasi dengan eksperimen pada hewan. Hasilnya mendukung kemungkinan bahwa partikel polusi udara PM2.5 dapat mendorong pertumbuhan sel paru yang sudah memiliki perubahan gen tertentu.

Gejala yang perlu dikenali

ilustrasi batuk pada pasien kanker paru-paru (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Pada tahap awal, kanker paru bisa tidak menimbulkan keluhan. Jika gejala muncul, beberapa tandanya antara lain:

  • Batuk yang tidak membaik atau semakin berat.

  • Sesak napas, mengi, atau nyeri dada.

  • Batuk berdarah.

  • Suara serak, mudah lelah, atau berat badan turun tanpa sebab jelas.

  • Infeksi paru yang berulang.

Karena gejala-gejala di atas juga bisa disebabkan oleh penyakit lain, jadi pemeriksaan dibutuhkan untuk memastikan penyebabnya, terutama jika keluhan menetap atau memburuk.

Bagaimana dokter mendiagnosisnya?

Dokter dapat menggunakan rontgen atau CT scan untuk melihat nodul dan bagian paru lainnya. Jika dicurigai kanker, sampel jaringan dapat diambil melalui biopsi, bronkoskopi, atau operasi, lalu diperiksa oleh ahli patologi.

Pemeriksaan tambahan, seperti pemindaian dan pengambilan sampel kelenjar getah bening, membantu mengetahui apakah kanker menyebar dan menetapkan stadiumnya.

Dokter juga dapat memeriksa perubahan gen tertentu pada tumor. Hasil ini membantu menentukan apakah terapi target sesuai untuk pasien.

Pilihan pengobatan

Perawatan kanker paru tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Dokter akan mempertimbangkan stadium kanker, lokasi dan karakteristik tumor, perubahan gen tertentu, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Jika kanker masih terbatas dan dapat diangkat, operasi dapat menjadi salah satu pilihan. Pada kondisi lain, pengobatan dapat berupa radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, terapi target, atau kombinasi beberapa metode.

Karena itu, fakta bahwa seseorang menjalani operasi belum tentu berarti kankernya sudah sembuh atau tidak perlu terapi lanjutan. Keputusan mengenai pengobatan berikutnya biasanya dibuat setelah dokter menilai hasil pemeriksaan jaringan dan apakah kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain.

Komplikasi yang mungkin terjadi

ilustrasi organ paru-paru (IDN Times/NRF)

Jika kanker tumbuh atau menyebar, tumor dapat menyumbat saluran napas, menyebabkan infeksi paru, atau menimbulkan penumpukan cairan di sekitar paru yang membuat napas terasa berat.

Kanker paru juga dapat menyebar ke organ lain, termasuk otak, tulang, hati, atau kelenjar adrenal. Komplikasi ini tidak terjadi pada semua pasien. Risikonya bergantung pada luas penyakit.

Pengobatan juga memiliki efek samping yang berbeda-beda, sehingga dokter akan membahas manfaat dan risikonya sesuai pilihan terapi.

Bisakah adenokarsinoma paru dicegah?

Tidak semua kasus adenokarsinoma paru dapat dicegah. Namun, beberapa faktor risikonya dapat dikurangi, seperti tidak merokok atau berhenti merokok, menghindari paparan asap rokok, serta mengikuti prosedur keselamatan kerja saat terpapar zat berbahaya. Mengurangi paparan polusi udara dan radon juga dapat membantu menurunkan risiko. Meski demikian, langkah-langkah ini tidak dapat menjamin kamu sepenuhnya terhindar dari kanker paru.

Untuk orang dengan risiko tinggi, dokter dapat mempertimbangkan skrining kanker paru menggunakan CT scan dosis rendah. Namun, pemeriksaan ini tidak dianjurkan sebagai skrining rutin bagi semua orang.

Kelayakan skrining ditentukan berdasarkan faktor risiko tertentu, seperti riwayat merokok dan kondisi kesehatan masing-masing, sehingga sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter.

Referensi

Holy See Press Office, “Holy See Press Office Press Release,” diakses 14 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Lung Cancer Basics,” diakses 14 Oktober 2026.

American Lung Association, “Lung Nodules (Pulmonary Nodules),” diakses 14 Oktober 2026.

National Cancer Institute, “Lung Cancer Prevention (PDQ®)—Patient Version,” diakses 14 Oktober 2026.

William Hill et al., “Lung Adenocarcinoma Promotion by Air Pollutants,” Nature 616 (2023): 159–167, https://doi.org/10.1038/s41586-023-05874-3.

Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of Lung Cancer,” diakses 14 Oktober 2026.

National Cancer Institute, “Non-Small Cell Lung Cancer Treatment (PDQ®)—Patient Version,” diakses 14 Oktober 2026.

Mayo Clinic, “Lung Cancer: Symptoms and Causes,” diakses 14 Oktober 2026.

National Cancer Institute, “Metastatic Cancer: When Cancer Spreads,” diakses 14 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Reducing Risk for Lung Cancer,” diakses 14 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Screening for Lung Cancer,” diakses 14 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article