- Mata merah tanpa keluar cairan lendir (konjungtivitis bilateral).
- Ruam merah, sering muncul juga di area genital.
- Pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
- Bibir dan mulut yang merah, kering, serta lidah seperti stroberi.
- Kulit tangan dan kaki bengkak, merah, dan kemudian mengelupas.
Fakta Penting Penyakit Kawasaki, Berisiko Menyerang Anak-anak

- Penyakit Kawasaki adalah inflamasi pembuluh darah yang paling sering terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun dan bisa menyebabkan komplikasi jantung serius tanpa pengobatan dini.
- Diagnosis ditegakkan berdasarkan durasi demam lebih dari 5 hari dan setidaknya 4 dari 5 gejala klinis khas—tidak ada tes tunggal yang definitif.
- Penanganan utama adalah IVIG dan aspirin, yang bila diberikan dalam 10 hari pertama gejala demam secara signifikan menurunkan risiko kerusakan arteri koroner.
Mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya, tetapi bagi orang tua yang anaknya pernah mengalaminya, diagnosis penyakit Kawasaki bisa menjadi pengalaman yang penuh rasa cemas. Penyakit ini terutama menyerang anak kecil, dan jika tidak dikenali serta diobati tepat waktu dapat membawa dampak pada kesehatan jantung seumur hidup.
Selama beberapa dekade, penyakit Kawasaki telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab utama penyakit jantung pada masa kanak-kanak di negara maju. Walaupun tergolong langka, tetapi penyakit ini memiliki pola gejala yang khas dan butuh kecepatan dalam diagnosis dan intervensi medis.
Dalam artikel ini telah dirangkum tentang apa itu penyakit Kawasaki, gejalanya, risiko komplikasinya, hingga cara menanganinya.
Table of Content
1. Apa itu penyakit Kawasaki?
Penyakit Kawasaki adalah inflamasi pembuluh darah (vaskulitis) yang memengaruhi pembuluh darah kecil hingga menengah seluruh tubuh, terutama arteri koroner yang memasok darah ke jantung. Kondisi ini paling sering terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun, walaupun kasus yang lebih tua atau (sangat jarang) pada orang dewasa juga pernah dilaporkan.
Tidak ada bukti bahwa penyakit ini menular dari orang ke orang, atau diturunkan secara langsung. Sebagian teori mengusulkan bahwa respons imun tubuh yang berlebihan terhadap infeksi tertentu (virus atau bakteri) atau paparan lingkungan memicu penyakit ini, tetapi ini belum bisa dipastikan.
Karena fokusnya adalah pada inflamasi pembuluh darah, kondisi ini dapat memengaruhi berbagai organ, tetapi bahaya utamanya adalah dampaknya pada jantung.
2. Gejala penyakit Kawasaki

Penyakit Kawasaki biasanya muncul dalam beberapa fase klinis dan ditandai dengan serangkaian gejala khas.
Pertama adalah demam berkepanjangan. Demam tinggi yang tidak hilang selama 5 hari atau lebih adalah gejala awal utama. Demam ini sering tidak turun walaupun sudah diberi obat penurun demam seperti parasetamol.
Diagnosis penyakit Kawasaki sering dipertimbangkan jika anak mengalami empat dari lima tanda klasik berikut ini:
Gejala lain seperti rewel atau lekas marah, nyeri sendi, sakit perut, muntah, dan diare juga dapat menyertai.
Kadang-kadang, terutama pada kasus incomplete atau atipikal, beberapa gejala khusus ini tidak semuanya muncul, tetapi risiko kerusakan jantung tetap ada jika tidak diobati.
3. Penyebab dan faktor risiko penyakit Kawasaki
Faktor risiko yang diketahui dari penyakit Kawasaki meliputi:
- Usia: Paling sering menyerang anak-anak di bawah 5 tahun.
- Jenis kelamin: Anak laki-laki sedikit lebih berisiko dibanding anak perempuan.
- Etnis: Lebih umum terjadi pada orang keturunan Asia atau Kepulauan Pasifik.
Para ahli belum mengetahui secara pasti penyebab penyakit Kawasaki. Penyakit ini tidak menular. Kemungkinan penyebabnya terkait dengan perubahan gen tertentu atau infeksi virus maupun bakteri. Infeksi dapat memicu sistem imun menyerang dinding pembuluh darah secara keliru, sehingga menimbulkan peradangan.
4. Risiko komplikasi penyakit Kawasaki

Risiko komplikasi penyakit Kawasaki terutama terkait dengan kerusakan pembuluh darah yang memasok jantung. Tanpa pengobatan tepat waktu, inflamasi dapat melemahkan dinding arteri, menyebabkan aneurisme koroner atau pelebaran abnormal pembuluh darah.
Aneurisme koroner meningkatkan risiko pembekuan darah yang dapat menyumbat arteri, sehingga berpotensi menyebabkan serangan jantung, bahkan pada anak.
Komplikasi lain termasuk perikarditis (radang kantong jantung), miokarditis (radang otot jantung), dan gangguan ritme jantung.
Sebagian komplikasi bisa permanen dan memerlukan pemantauan kardiologis jangka panjang, terutama jika arteri koroner pernah mengalami perubahan morfologis.
5. Diagnosis penyakit Kawasaki
Diagnosis penyakit Kawasaki tidak dapat ditegakkan melalui satu tes tunggal. Dokter biasanya membuat diagnosis klinis berdasarkan durasi demam dan kehadiran gejala khas.
Dukungan diagnosis dapat melibatkan:
- Tes darah dan urine untuk melihat tanda-tanda inflamasi.
- Ekokardiogram (USG jantung) untuk memeriksa pembuluh koroner dan fungsi jantung.
- Elektrokardiogram (EKG) untuk mengevaluasi ritme jantung.
Karena gejala dapat mirip dengan kondisi lain seperti campak, demam scarlet, atau sindrom inflamasi multisistem pada anak (MIS-C) pasca-COVID-19, evaluasi klinis menyeluruh penting untuk memastikan diagnosis yang tepat.
6. Pengobatan penyakit Kawasaki

Intervensi dini dalam 10 hari pertama gejala demam sangat penting untuk mencegah komplikasi kardiovaskular. Pengobatan standar meliputi:
- Intravenous Immunoglobulin (IVIG ): Infus antibodi yang membantu menekan inflamasi pembuluh darah.
- Aspirin: Pada dosis awal tinggi untuk mengendalikan inflamasi dan kemudian dosis rendah untuk mencegah pembekuan darah.
Kombinasi ini menurunkan risiko aneurisme koroner secara signifikan bila diberikan tepat waktu. Pasien biasanya dirawat di rumah sakit untuk pemantauan intensif.
Jika respons terhadap IVIG tidak memadai, dokter dapat mempertimbangkan dosis tambahan IVIG, kortikosteroid, atau obat antiinflamasi lain serta antikoagulan sesuai kebutuhan klinis.
7. Pencegahan penyakit Kawasaki
Karena penyebab pasti penyakit Kawasaki tidak diketahui, jadi tidak ada cara yang terbukti mencegahnya. Para ahli menyepakati bahwa vaksinasi tertentu atau intervensi spesifik belum ditemukan untuk mencegah onset penyakit ini.
Langkah terbaik untuk mengurangi risiko komplikasi adalah deteksi dini dan penanganan cepat. Mengamati gejala demam yang tak kunjung turun setelah 5 hari dan segera mencari bantuan medis bisa menurunkan risiko kerusakan jantung.
Penyakit Kawasaki adalah kondisi inflamasi pembuluh darah yang serius meski relatif jarang. Fokus utama penanganannya adalah mencegah komplikasi jantung melalui diagnosis cepat dan pengobatan secepat mungkin dengan IVIG dan aspirin.
Sebagian besar anak yang dirawat tepat waktu bisa pulih sepenuhnya, tetapi pemantauan jangka panjang tetap penting terutama pada mereka yang pernah mengalami perubahan pada arteri koroner. Pengetahuan orang tua dan tenaga kesehatan tentang gejala khas bisa membantu menyelamatkan jantung si kecil dari kondisi yang tidak diinginkan.
Referensi
Mayo Clinic. “Kawasaki disease – Symptoms & causes.” Diakses Februari 2026.
American Heart Association. “Kawasaki Disease.” Diakses Februari 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. “About Kawasaki Disease.” Diakses Februari 2026.
Johns Hopkins Medicine. “Kawasaki Disease.” Accessed February 2026. Diakses Februari 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. “Clinical Overview of Kawasaki Disease.” Diakses Februari 2026.



















