Setelah cabut gigi, idealnya gusi akan menutup secara bertahap seiring proses penyembuhan. Namun, pada beberapa kasus, gusi bisa tampak tidak kunjung tertutup atau justru terasa terbuka lebih lama dari biasanya. Kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut.
Infeksi merupakan penyebab paling umum yang membuat gusi sulit menutup. Area bekas pencabutan sangat rentan terhadap bakteri, terutama awal masa penyembuhan.
Jika terjadi infeksi, jaringan gusi akan meradang sehingga proses penutupan jadi lebih lama. Gejalanya bisa berupa nyeri yang semakin parah, bengkak, demam, hingga muncul nanah. Pada kasus infeksi ringan, biasanya jaringan gusi terlihat merah dan mengganjal ketika menggigit sehingga mengganggu saat mengunyah makanan.
Dry socket terjadi ketika bekuan darah di lubang bekas cabut gigi tidak terbentuk dengan baik atau lepas terlalu cepat. Padahal, bekuan darah ini berfungsi melindungi tulang dan membantu proses penyembuhan. Jika hilang, area jadi terbuka dan menyebabkan nyeri hebat sehingga gusi tidak bisa menutup dengan optimal.
Biasanya, hal ini terjadi karena perawatan luka pasca pencabutan tidak dilakukan dengan hati-hati. Contohnya, membiarkan area pencabutan kotor, tidak dibersihkan atau disikat. Nah, perlu dipahami juga, kondisi ini pun sering terjadi pada pasien yang banyak merokok pada masa awal penyembuhan luka.
Adanya sisa akar, serpihan gigi, atau tulang yang tertinggal bisa menghambat penyembuhan. Selain itu, prosedur pencabutan yang cukup sulit juga bisa menyebabkan trauma pada jaringan gusi. Kondisi ini membuat area bekas cabut gigi sulit pulih sepenuhnya, sehingga gusi tampak tidak kunjung menutup.