- Intensitas fisik tinggi dalam waktu lama.
- Peningkatan beban latihan yang terlalu cepat.
- Latihan saat cuaca panas dan lembap.
- Pakaian atau perlengkapan yang menghambat penguapan keringat.
- Membawa ransel, rompi, senjata, atau perlengkapan berat.
- Kurang tidur.
- Kurang makan atau asupan energi tidak cukup.
- Dehidrasi.
- Overhidrasi atau minum air berlebihan tanpa elektrolit.
- Riwayat sakit, demam, diare, atau infeksi.
- Kebugaran awal yang belum memadai.
- Riwayat cedera sebelumnya.
- Tekanan budaya untuk tidak mengeluh.
- Kurangnya tenaga medis atau protokol darurat di lokasi latihan.
Latihan Militer Bisa Berisiko bagi Kesehatan, Kenapa?

- Latihan militer menuntut fisik dan mental ekstrem, memicu risiko kesehatan seperti heat stroke, rhabdomyolysis, hiponatremia, dehidrasi, cedera otot-sendi, fraktur stres, serta kelelahan akibat kurang tidur.
- Faktor pemicu utama meliputi intensitas tinggi tanpa adaptasi, cuaca panas-lembap, beban berat, hidrasi tidak seimbang, kurang tidur, dan tekanan budaya yang membuat peserta enggan melapor gejala bahaya.
- Pencegahan efektif mencakup skrining kesehatan awal, aklimatisasi panas bertahap, peningkatan beban progresif, strategi hidrasi-elektrolit tepat, pengawasan medis aktif, serta budaya pelaporan aman di lingkungan latihan.
Latihan militer sering dipahami sebagai ujian mental dan fisik. Peserta diminta gerak cepat, patuh komando, membawa beban, berlari, merangkak, melakukan latihan kekuatan, bertahan dalam cuaca yang tidak selalu ideal, dan tetap mengambil keputusan saat tubuh lelah. Tujuan umumnya adalah membangun disiplin, ketahanan, kerja sama, dan kesiapan menghadapi situasi ekstrem. Namun, dari sudut pandang kesehatan, tubuh manusia tetap punya batas.
Seseorang bisa sangat termotivasi, punya mental kuat, dan ingin menyelesaikan latihan sampai akhir, tetapi tubuhnya tetap bisa mengalami overheating, kekurangan cairan, gangguan elektrolit, kerusakan otot, cedera tulang, atau kolaps. Risiko ini adalah konsekuensi biologis ketika beban latihan, suhu lingkungan, status kesehatan, dan waktu pemulihan tidak dalam keseimbangan yang aman.
Table of Content
Mengapa latihan militer bisa berisiko bagi kesehatan?
Latihan militer berbeda dari olahraga biasa karena sering menggabungkan banyak stresor sekaligus.
Dalam olahraga rekreasional, seseorang bisa berhenti saat merasa tidak enak badan. Dalam latihan militer, peserta mungkin merasa harus terus mengikuti instruksi, tidak mau terlihat lemah, atau takut melapor karena khawatir dinilai tidak mampu. Kombinasi ini dapat membuat tanda bahaya terlambat dikenali.
Beberapa faktor yang membuat latihan militer lebih berisiko antara lain:
Dalam konteks militer, risiko jarang muncul dari satu faktor tunggal.
Sering kali, masalah terjadi karena beberapa faktor menumpuk, seperti peserta kurang tidur, belum terbiasa latihan di lingkungan yang panas, membawa beban berat, diminta berlari, lalu tetap melanjutkan latihan meski sudah pusing, mual, atau mulai bingung.
1. Heat exhaustion dan heat stroke
Risiko yang paling sering dibahas dalam latihan militer adalah penyakit akibat panas atau heat illness. Ini mencakup heat cramps, heat syncope, heat exhaustion, hingga heat stroke.
Heat exhaustion dapat menyebabkan keringat berlebih, lemah, pusing, sakit kepala, mual, muntah, kram otot, dan tubuh terasa sangat lelah. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat stroke.
Heat stroke adalah kondisi gawat darurat. Pada exertional heat stroke, suhu inti tubuh naik sangat tinggi akibat aktivitas fisik berat, dan sistem saraf pusat mulai terganggu. Tanda bahayanya bisa berupa kebingungan, bicara kacau, perilaku aneh, kejang, pingsan, atau penurunan kesadaran.
Penting untuk diketahui bahwa heat stroke akibat olahraga atau latihan fisik, kulit tidak harus selalu kering. Seseorang masih bisa berkeringat banyak, tetapi tetap mengalami heat stroke. Karena itu, menunggu kulit “kering” sebelum menganggap kondisi sebagai gawat darurat bisa berbahaya.
Laporan dari berbagai negara menunjukkan heat illness tetap menjadi masalah dalam lingkungan militer. Dalam data Air Force Basic Military Training di Lackland Air Force Base, Amerika Serikat (AS), misalnya, pernah dilaporkan 51 kasus heat illness pada tahun 1999, termasuk 5 kasus heat stroke. Studi itu juga mencatat tujuh kematian akibat heat stroke pada trainee di pangkalan tersebut selama periode 1956–1999.
Di Angkatan Darat Britania, analisis laporan heat illness tahun 2009–2013 menemukan 565 kasus unik. Risiko dilaporkan bersifat global, dapat terjadi sepanjang tahun, dan lebih tinggi pada personel yang belum terlatih penuh. Studi tersebut juga menekankan pentingnya pelaporan ganda dari jalur medis dan komando karena under-reporting dapat menghambat pencegahan.
Pelajaran besarnya, heat illness bukan sekadar “kepanasan biasa”. Dalam latihan intens, terutama di negara tropis atau wilayah panas-lembap, kondisi ini harus dianggap sebagai risiko operasional dan risiko kesehatan serius.
2. Exertional rhabdomyolysis

Rhabdomyolysis adalah kondisi ketika otot rangka mengalami kerusakan cepat, lalu melepaskan isi sel otot ke aliran darah. Salah satu zat yang dilepaskan adalah myoglobin, yang dapat membebani ginjal dan memicu gagal ginjal akut pada kasus berat.
Dalam latihan militer, exertional rhabdomyolysis dapat terjadi saat seseorang melakukan aktivitas fisik yang jauh lebih berat daripada yang biasa ia lakukan, apalagi jika disertai panas, dehidrasi, kurang tidur, atau latihan repetitif ekstrem.
Gejala yang perlu diwaspadai:
- Nyeri otot yang jauh lebih berat dari pegal biasa.
- Otot terasa bengkak, kaku, atau sangat lemah.
- Urine berwarna gelap seperti teh atau kola.
- Tubuh sangat lemas.
- Sulit melanjutkan aktivitas yang biasanya bisa dilakukan.
- Kadang tidak bergejala jelas pada awalnya.
Data Medical Surveillance Monthly Report di AS menunjukkan exertional rhabdomyolysis merupakan masalah yang terus dipantau di angkatan bersenjata. Dalam pembaruan 2019–2023, rekrutan dilaporkan memiliki angka exertional rhabdomyolysis paling tinggi, bahkan 6 sampai 10 kali lebih tinggi dibanding kelompok personel lain.
Hal ini masuk akal secara fisiologis. Rekrutan sering berada dalam fase adaptasi, di mana tubuh belum terbiasa dengan volume latihan, ritme harian, beban perlengkapan, dan tekanan fisik yang tiba-tiba meningkat.
3. Hiponatremia akibat olahraga
Dalam latihan berat, minum air secara berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh dan elektrolit dapat memicu exercise-associated hyponatremia atau hiponatremia terkait olahraga.
Hiponatremia terjadi ketika kadar natrium dalam darah terlalu rendah. Ini bisa terjadi jika seseorang minum air terlalu banyak dalam waktu relatif singkat, terutama saat tubuh juga sedang mengalami stres fisik. Akibatnya, natrium darah menjadi terlalu encer.
Gejalanya bisa mirip heat illness, sehingga mudah tertukar, seperti:
- Mual.
- Muntah.
- Sakit kepala.
- Lemas.
- Perut terasa kembung.
- Perubahan mental.
- Kebingungan.
- Kejang.
- Penurunan kesadaran.
Dalam konteks latihan militer, ini penting karena penanganan heat illness dan hiponatremia tidak sama.
Jika seseorang sebenarnya mengalami hiponatremia berat tetapi terus diberi banyak cairan, kondisinya bisa memburuk. Karena itu, tenaga medis dan pelatih perlu memahami bahwa pusing, mual, muntah, dan bingung setelah latihan panas tidak selalu berarti dehidrasi.
Ada laporan klasik tentang hiponatremia akibat overhidrasi pada trainee U.S. Army. Gejala yang sering muncul dalam laporan tersebut termasuk perubahan status mental, muntah, mual, dan kejang.
4. Cedera muskuloskeletal
Latihan militer sangat menuntut sistem otot, tulang, sendi, dan tendon. Lari, marching, lompat, push-up, sit-up, angkat beban, membawa ransel, dan latihan di permukaan keras dapat meningkatkan risiko cedera muskuloskeletal.
Cedera yang sering terjadi meliputi:
- Nyeri lutut.
- Shin splints.
- Ankle sprain.
- Nyeri punggung bawah.
- Cedera bahu.
- Tendinopati.
- Nyeri pinggul.
- Cedera kaki.
- Fraktur stres.
Sebuah tinjauan ilmiah dan metaanalisis pada rekrutan militer menemukan bahwa cedera muskuloskeletal selama basic training masih menjadi beban besar. Studi tersebut menganalisis 41 penelitian dengan lebih dari 451 ribu rekrut dan menemukan prevalensi cedera yang membutuhkan perhatian medis atau menyebabkan kehilangan waktu latihan cukup tinggi.
Yang menarik, program latihan yang lebih panjang dikaitkan dengan angka cedera yang lebih rendah. Ini mendukung prinsip dasar olahraga: tubuh perlu waktu untuk adaptasi. Program yang terlalu padat dan terlalu cepat dapat meningkatkan overload, terutama pada peserta yang kebugaran awalnya rendah.
5. Fraktur stres

Fraktur stres adalah retakan kecil pada tulang akibat beban berulang. Pada latihan militer, ini sering terjadi pada tulang kering, tulang kaki, metatarsal, atau tulang lain di ekstremitas bawah.
Risikonya meningkat ketika seseorang tiba-tiba meningkatkan volume lari atau marching, membawa beban berat, memakai sepatu yang tidak sesuai, kurang energi, kurang vitamin D atau kalsium, punya gangguan menstruasi, atau tidak punya cukup waktu pemulihan.
Fraktur stres sering tidak langsung terasa seperti patah tulang besar. Awalnya bisa berupa nyeri saat latihan yang membaik saat istirahat. Lama-kelamaan, nyeri makin sering muncul, bahkan saat berjalan biasa. Jika dipaksa, cedera bisa memburuk dan butuh waktu pemulihan lebih lama.
Tinjauan tahun 2025 tentang fraktur stres pada populasi militer melaporkan bahwa insidennya lebih tinggi pada rekrutan atau trainee dibanding personel militer yang sudah terlatih.
Temuan ini kembali menegaskan bahwa masa transisi dari sipil ke latihan fisik militer adalah periode berisiko tinggi.
6. Dehidrasi, tetapi juga salah strategi hidrasi
Dehidrasi terjadi saat tubuh kehilangan cairan lebih banyak daripada yang masuk. Dalam latihan panas, cairan hilang melalui keringat. Dehidrasi dapat membuat detak jantung meningkat, suhu tubuh lebih sulit dikontrol, performa turun, dan risiko heat illness naik.
Tanda yang bisa muncul:
- Haus berat.
- Mulut kering.
- Pusing.
- Lemas.
- Urine sedikit dan pekat.
- Kram.
- Sakit kepala.
- Sulit berkonsentrasi.
Namun, solusi dehidrasi bukan minum air sebanyak-banyaknya. Latihan militer butuh strategi hidrasi yang memperhatikan durasi, intensitas, suhu, kelembapan, keringat, asupan makanan, dan elektrolit. Pada latihan panjang, minuman elektrolit atau asupan garam dari makanan mungkin diperlukan, tetapi tetap harus dalam panduan medis atau protokol latihan.
Kunci hidrasi yang baik adalah yang cukup, terencana, dan tidak berlebihan.
7. Kurang tidur dan kelelahan ekstrem
Latihan militer tidak hanya menguras otot, tetapi juga menguji tidur, fokus, emosi, dan kemampuan mengambil keputusan.
Kurang tidur dapat memperlambat reaksi, menurunkan konsentrasi, memperburuk mood, meningkatkan risiko kesalahan, dan membuat tubuh lebih sulit pulih dari latihan.
Dalam konteks latihan fisik, kurang tidur juga dapat membuat peserta lebih rentan cedera karena koordinasi, kewaspadaan, dan toleransi terhadap beban menurun.
Studi pada rekrutan selama pelatihan militer dasar menunjukkan tidur, stres, pemulihan, dan kelelahan saling berkaitan. Rata-rata durasi tidur yang dilaporkan dalam studi tersebut sekitar 6,3 jam per malam dan dinilai dapat berdampak pada hasil latihan.
Kurang tidur mungkin dianggap bagian dari “membentuk mental”. Namun, jika tidak dikelola, bisa menjadi faktor risiko kesehatan dan keselamatan, terutama ketika peserta harus menjalani latihan fisik intens, membawa beban, atau latihan saat cuaca panas.
8. Sickle cell trait dan risiko saat latihan ekstrem

Sickle cell trait bukan penyakit sickle cell. Banyak orang dengan sickle cell trait hidup sehat dan dapat berolahraga. Namun, dalam kondisi tertentu—latihan intens, panas, dehidrasi, ketinggian, asma, atau kurang istirahat—orang dengan sickle cell trait dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami heat stroke dan kerusakan otot.
Sebagian orang dengan sickle cell trait lebih mungkin mengalami heat stroke dan kerusakan otot saat melakukan latihan intens seperti olahraga kompetitif atau latihan militer dalam kondisi suhu/kelembapan yang tidak menguntungkan.
Intinya, status kesehatan perlu diketahui agar protokol keselamatan bisa disesuaikan. Prinsipnya adalah pencegahan, aklimatisasi, hidrasi tepat, istirahat cukup, serta respons cepat jika muncul gejala tidak biasa.
9. Tekanan budaya bisa membuat peserta takut melapor
Dalam lingkungan yang sangat hierarkis, peserta bisa menahan keluhan karena takut dianggap lemah, dihukum, dipermalukan, atau gagal menyelesaikan program.
Padahal, beberapa kondisi gawat darurat diawali gejala yang tampak “sepele”, seperti pusing, mual, sakit kepala, kram, lemas, muntah, bingung, atau nyeri otot yang tidak wajar. Jika peserta merasa tidak aman untuk melapor, gejala tersebut bisa berkembang menjadi kondisi berat.
Latihan yang aman tetap bisa disiplin, menantang, dan membentuk ketahanan. Namun, harus ada budaya keselamatan yang jelas, bahwa peserta boleh melaporkan gejala tanpa takut dipermalukan, instruktur terlatih mengenali tanda bahaya, dan keputusan medis dihormati.
Kapan latihan militer menjadi lebih berbahaya?
Risiko meningkat ketika beberapa kondisi ini terjadi bersamaan:
- Latihan intens dilakukan mendadak
Tubuh butuh waktu untuk beradaptasi. Program yang langsung memaksa peserta melakukan lari jauh, drill berulang, push-up ekstrem, atau marching berat tanpa progresi dapat meningkatkan risiko cedera, heat illness, dan rhabdomyolisis.
- Cuaca panas dan lembap
Kelembapan tinggi membuat keringat sulit menguap. Padahal, penguapan keringat adalah cara utama tubuh membuang panas. Akibatnya, suhu tubuh bisa naik lebih cepat.
- Beban perlengkapan berat
Ransel, rompi, helm, sepatu, atau perlengkapan lain menambah beban kerja tubuh dan dapat menghambat pendinginan. Makin berat beban dan makin tertutup pakaian, makin besar stres akibat panas dan beban muskuloskeletal.
- Kurang tidur
Kurang tidur menurunkan kemampuan tubuh pulih, mengganggu fokus, dan meningkatkan risiko kesalahan serta cedera.
- Peserta sedang sakit
Demam, flu, diare, muntah, infeksi, atau kurang makan dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap heat illness dan kolaps.
- Tidak ada aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses tubuh membiasakan diri dengan panas dan beban latihan. Biasanya butuh beberapa hari hingga sekitar dua minggu. Tanpa aklimatisasi, risiko heat illness meningkat.
- Hidrasi tidak terencana
Kurang minum berisiko dehidrasi. Terlalu banyak minum air tanpa elektrolit juga berisiko hiponatremia. Keduanya bisa berbahaya.
- Pengawasan medis tidak memadai
Latihan intens sebaiknya memiliki protokol darurat, akses pendinginan cepat, tenaga yang tahu tanda bahaya, dan jalur evakuasi jelas. Pada heat stroke, keterlambatan pendinginan bisa menentukan hidup dan mati.
Tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan
Peserta latihan, instruktur, dan tenaga pendamping perlu mengenali tanda bahaya di bawah ini:
- Kebingungan.
- Bicara kacau.
- Perilaku tidak biasa.
- Kejang.
- Pingsan.
- Suhu tubuh sangat tinggi.
- Muntah berulang.
- Sakit kepala berat.
- Pusing berat.
- Lemas ekstrem.
- Tidak mampu melanjutkan aktivitas.
- Nyeri otot yang sangat berat.
- Otot bengkak atau sangat lemah.
- Urine gelap seperti teh atau cola.
- Sesak.
- Nyeri dada.
- Denyut jantung sangat cepat atau tidak teratur.
- Kram hebat yang tidak membaik.
- Tidak buang air kecil dalam waktu lama.
Jika tanda-tanda ini muncul, latihan harus dihentikan untuk mencegah berbagai skenario terburuk.
Bagaimana membuat latihan militer lebih aman?

Yang dibutuhkan adalah desain latihan yang berbasis risiko.
- Skrining kesehatan sebelum latihan
Skrining perlu mencakup riwayat penyakit jantung, asma, riwayat pingsan saat olahraga, heat illness sebelumnya, rhabdomyolysis, cedera muskuloskeletal, penggunaan obat tertentu, riwayat sickle cell trait jika relevan, gangguan ginjal, dan kondisi lain yang memengaruhi toleransi latihan.
Skrining membantu menentukan siapa yang perlu adaptasi khusus, pemantauan lebih ketat, atau pemeriksaan lanjutan.
- Aklimatisasi panas
Latihan di cuaca panas perlu dimulai bertahap. Durasi, intensitas, dan penggunaan perlengkapan berat sebaiknya dinaikkan perlahan. Tubuh yang belum terbiasa panas tidak bisa dipaksa langsung bekerja seperti tubuh yang sudah teraklimatisasi.
- Progresi beban latihan
Program latihan harus mengikuti prinsip progresif. Peserta dengan latar belakang kebugaran berbeda tidak akan merespons beban yang sama dengan cara yang sama. Peningkatan volume lari, beban, drill, dan durasi latihan perlu dilakukan bertahap.
- Work-rest ratio
Latihan intens perlu diselingi waktu istirahat yang memadai, terutama dalam panas. Rasio kerja-istirahat harus mempertimbangkan suhu, kelembapan, beban perlengkapan, intensitas latihan, dan kondisi peserta.
- Hidrasi dan elektrolit yang tepat
Peserta perlu minum cukup, tetapi tidak berlebihan. Pada latihan panjang atau sangat panas, strategi elektrolit perlu dipertimbangkan. Peserta juga perlu makan cukup karena natrium dan energi tidak hanya berasal dari minuman.
- Sistem buddy check
Peserta sering tidak sadar ketika dirinya mulai bingung atau perilakunya berubah. Buddy system membantu peserta saling memantau tanda bahaya, seperti bicara kacau, sempoyongan, tampak tidak fokus, muntah, atau terlihat sangat berbeda dari biasanya.
- Instruktur harus bisa mengenali tanda gawat darurat
Instruktur tidak harus menjadi dokter, tetapi harus tahu kapan gejala tidak boleh dianggap sebagai kelemahan. Kebingungan, pingsan, kejang, urine gelap, nyeri otot ekstrem, dan muntah berulang harus diperlakukan sebagai tanda medis serius.
- Protokol pendinginan di lokasi
Pada dugaan exertional heat stroke, pendinginan cepat sangat penting. Prinsip yang sering ditekankan dalam kedokteran olahraga adalah segera mendinginkan korban heat stroke di lokasi sebelum mengangkutnya ke rumah sakit jika fasilitas dan tenaga terlatih tersedia.
Durasi suhu tubuh tinggi sangat menentukan risiko kerusakan organ.
- Jalur pelaporan yang aman
Peserta harus bisa melapor tanpa takut dipermalukan. Sistem yang menghukum keluhan medis justru membuat risiko makin besar. Latihan aman membutuhkan budaya yang membedakan antara disiplin dan pengabaian tanda bahaya.
- Evaluasi setelah insiden
Setiap kasus heat illness, kolaps, rhabdomyolisis, cedera berat, atau rawat inap harus dievaluasi. Yang dievaluasi bukan hanya peserta, tetapi juga desain latihan, cuaca, jadwal, beban, hidrasi, instruksi, respons medis, dan sistem pelaporan.
Latihan militer dapat meningkatkan kebugaran, disiplin, ketahanan mental, dan kerja sama jika dilakukan dengan perencanaan yang baik. Namun, risikonya memang nyata karena menggabungkan intensitas tinggi, tekanan mental, beban fisik, cuaca, kurang tidur, dan tuntutan kepatuhan.
Risiko yang perlu diwaspadai meliputi heat exhaustion, heat stroke, rhabdomyolysis, hiponatremia, dehidrasi, cedera otot dan sendi, fraktur stres, kelelahan ekstrem, serta dampak kurang tidur. Dalam literatur internasional, kasus-kasus seperti ini bukan hal baru dan telah dilaporkan dalam berbagai konteks militer maupun pelatihan fisik intens.
Kabar baiknya, banyak risiko tersebut bisa dicegah. Kuncinya adalah skrining kesehatan, aklimatisasi, peningkatan beban bertahap, hidrasi yang tepat, istirahat cukup, pengawasan medis, respons darurat cepat, dan budaya latihan yang memungkinkan peserta melaporkan gejala tanpa takut dihukum.
Latihan yang profesional adalah latihan yang mampu membentuk ketangguhan tanpa mengabaikan keselamatan.
Referensi
Faith O. Alele et al., “Epidemiology of Exertional Heat Illness in the Military: A Systematic Review of Observational Studies,” International Journal of Environmental Research and Public Health 17, no. 19 (September 25, 2020): 7037, https://doi.org/10.3390/ijerph17197037.
Sean Bulmer et al., “Sleep of Recruits Throughout Basic Military Training and Its Relationships With Stress, Recovery, and Fatigue,” International Archives of Occupational and Environmental Health 95, no. 6 (February 28, 2022): 1331–42, https://doi.org/10.1007/s00420-022-01845-9.
Patrick G. Campbell et al., “Incidence and Risk Factors for the Development of Stress Fractures in Military Recruits and Qualified Personnel: A Systematic Review,” International Journal of Environmental Research and Public Health 22, no. 11 (November 20, 2025): 1760, https://doi.org/10.3390/ijerph22111760.
Douglas J. Casa et al., “National Athletic Trainers’ Association Position Statement: Exertional Heat Illnesses,” Journal of Athletic Training 50, no. 9 (September 1, 2015): 986–1000, https://doi.org/10.4085/1062-6050-50.9.07.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “What Is Sickle Cell Trait?” Diakses Juni 2026.
CDC, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). “Heat-Related Illnesses.” Diakses Juni 2026.
CDC, NIOSH. “Rhabdomyolysis and Work.” Diakses Juni 2026.
Tamara Hew-Butler et al., “Exercise-Associated Hyponatremia: 2017 Update,” Frontiers in Medicine 4 (March 3, 2017): 21, https://doi.org/10.3389/fmed.2017.00021.
Military Health System, “Update: Heat Exhaustion and Heat Stroke Among Active Component Members of the U.S. Armed Forces, 2020–2024,” June 1, 2025, https://health.mil/News/Articles/2025/06/01/MSMR-Heat-Illness-2025.
Medical Surveillance Monthly Report. “Update: Exertional Hyponatremia Among Active Component Members of the U.S. Armed Forces, 2009–2024.” Medical Surveillance Monthly Report 32, no. 6 (2025). Diakses Juni 2026.
Medical Surveillance Monthly Report. “Update: Exertional Rhabdomyolysis Among Active Component Members of the U.S. Armed Forces, 2019–2023.” Medical Surveillance Monthly Report 31, no. 4 (2024). Diakses Juni 2026.
R J Robbins and Robert J. Conlon, “Rapid Excavation and Tunneling Conference. Proceedings. [1976 RETC Proceedings],” OSTI OAI (U.S. Department of Energy Office of Scientific and Technical Information) 15, no. 1 (January 1, 1976): 144, https://doi.org/10.1186/s13102-023-00755-8.
O’Brien, Kathleen K., Mark R. Montain, and others. “Hyponatremia Associated with Overhydration in U.S. Army Trainees.” Military Medicine 166, no. 5 (2001): 405–410. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11370203/.
Julien D. Périard, David DeGroot, and Ollie Jay, “Exertional Heat Stroke in Sport and the Military: Epidemiology and Mitigation,” Experimental Physiology 107, no. 10 (August 30, 2022): 1111–21, https://doi.org/10.1113/ep090686.
Smalley, Brian, Robin M. Janke, and David Cole. “Exertional Heat Illness in Air Force Basic Military Trainees.” Military Medicine 168, no. 4 (2003): 298–303. https://doi.org/10.1093/milmed/168.4.298.
Stacey, Michael J., Elizabeth J. Parsons, and others. “Case Ascertainment of Heat Illness in the British Army: Evidence of Under-Reporting from Analysis of Medical and Command Notifications, 2009–2013.” BMJ Military Health 162, no. 6 (2016): 428–434. Diakses Juni 2026.
United Kingdom Ministry of Defence. “Commander’s Guide to Heat Illness Prevention.” 2025. Diakses Juni 2026.




![[QUIZ] Pilih Workout Station HYROX Tersulit, Kami Tebak Kondisi Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20251209/upload_3d6c2660299615dc7370ee9897f59de5_2bf142e8-ba76-4e2a-bd73-c5087d60da0d.jpg)













