Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Siapa Perlu Skrining Kanker Kolorektal sebelum 45 Tahun?

Siapa Perlu Skrining Kanker Kolorektal sebelum 45 Tahun?
ilustrasi kanker kolorektal (pixabay.com/julientromeur)
Intinya Sih
  • Skrining kanker kolorektal umumnya dimulai usia 45 tahun bagi orang berisiko rata-rata, namun bisa lebih awal jika ada faktor risiko tertentu.
  • Kelompok yang perlu skrining sebelum 45 tahun meliputi mereka dengan riwayat keluarga kanker kolorektal, polip lanjut, penyakit radang usus, sindrom genetik, atau riwayat radiasi perut dan panggul.
  • Gejala seperti tinja berdarah, perubahan pola buang air besar menetap, anemia tanpa sebab jelas, atau nyeri perut berkepanjangan harus segera diperiksa tanpa menunggu usia skrining.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kanker kolorektal, yaitu kanker yang muncul di usus besar atau rektum, sering berkembang perlahan dari polip. Polip adalah pertumbuhan jaringan di lapisan dalam usus. Tidak semua polip menjadi kanker, tetapi beberapa jenis polip dapat berubah menjadi kanker seiring waktu.

Karena itulah skrining bisa menentukan. Pemeriksaan skrining dapat menemukan kanker pada tahap awal, ketika peluang pengobatan biasanya lebih baik. Beberapa metode, terutama kolonoskopi, juga dapat menemukan dan mengangkat polip sebelum berkembang menjadi kanker.

Saat ini, banyak pedoman internasional merekomendasikan skrining kanker kolorektal dimulai pada usia 45 tahun untuk orang dengan risiko rata-rata.

Risiko rata-rata berarti tidak ada riwayat pribadi kanker kolorektal atau polip tertentu, tidak ada riwayat keluarga yang kuat, tidak memiliki penyakit radang usus, dan tidak diketahui memiliki sindrom genetik yang meningkatkan risiko kanker kolorektal.

Namun, usia 45 tahun bukan aturan yang berlaku untuk semua orang. Sebagian orang perlu memulai skrining lebih awal, bahkan sebelum usia 45 tahun, karena risiko mereka lebih tinggi dibanding populasi umum.

Siapa saja yang harus mempertimbangkan skrining sebelum usia 45 tahun?

Table of Content

1. Orang dengan keluarga inti yang pernah terkena kanker kolorektal

Riwayat keluarga adalah salah satu alasan paling penting untuk mempertimbangkan skrining lebih awal. Yang paling perlu diperhatikan adalah keluarga inti atau kerabat tingkat pertama, yaitu orang tua, saudara kandung, atau anak.

Risikonya lebih tinggi jika:

  • Satu keluarga inti didiagnosis kanker kolorektal sebelum usia 60 tahun.
  • Dua atau lebih keluarga inti pernah terkena kanker kolorektal pada usia berapa pun.
  • Ada anggota keluarga inti dengan advanced polyp atau polip lanjut.

Dalam pedoman American College of Gastroenterology, orang dengan kanker kolorektal atau advanced polyp pada satu keluarga inti yang didiagnosis sebelum usia 60 tahun, atau dua keluarga inti pada usia berapa pun, disarankan memulai skrining kolonoskopi pada usia 40 tahun atau 10 tahun lebih muda dari usia diagnosis termuda dalam keluarga, mana yang lebih awal.

Contohnya, jika ayah didiagnosis kanker kolorektal pada usia 42 tahun, maka anak mungkin perlu mulai skrining sekitar usia 32 tahun. Namun, jadwal pasti tetap harus dibahas dengan dokter karena bergantung pada detail riwayat keluarga dan kondisi pasien.

2. Orang dengan riwayat pribadi polip tertentu

Orang yang pernah menjalani kolonoskopi dan ditemukan polip tertentu mungkin perlu kontrol lebih sering dan lebih awal. Ini terutama berlaku untuk polip yang disebut advanced adenoma atau advanced polyp.

Advanced polyp dapat mencakup polip berukuran besar, memiliki gambaran sel tertentu, atau jumlahnya cukup banyak. Setelah polip diangkat, dokter akan menentukan kapan kolonoskopi perlu diulang. Intervalnya bisa berbeda-beda, tergantung jenis, ukuran, jumlah, dan hasil patologi polip.

Pada kelompok ini, pemeriksaan yang dilakukan sering disebut surveillance atau pemantauan lanjutan, bukan skrining awal biasa. Tujuannya untuk memastikan tidak ada polip baru yang berisiko berkembang menjadi kanker.

3. Orang yang pernah terkena kanker kolorektal

Kata 'colorectal cancer' tersusun dari ubin huruf kayu di atas latar belakang biru polos sebagai ilustrasi kanker kolorektal.
ilustrasi kanker kolorektal (pexels.com/Anna Tarazevich)

Jika seseorang pernah didiagnosis kanker kolorektal, ia tidak mengikuti jadwal skrining populasi umum. Setelah terapi, pasien biasanya perlu pemantauan dengan jadwal khusus, termasuk kolonoskopi sesuai rekomendasi dokter.

American Cancer Society mencatat bahwa banyak pasien yang pernah menjalani operasi kanker kolon atau rektum perlu mulai kolonoskopi berkala sekitar satu tahun setelah operasi, meski jadwal detail dapat berbeda sesuai jenis kanker, stadium, tindakan yang dilakukan, dan kondisi pasien.

Kelompok ini penting karena sebagian orang mengira setelah kanker diangkat, pemeriksaan usus tidak lagi diperlukan. Padahal, pemantauan tetap penting untuk mendeteksi kekambuhan, kanker baru, atau polip baru.

4. Orang dengan penyakit radang usus

Penyakit radang usus (inflammatory bowel disease/IBD), terutama kolitis ulseratif dan penyakit Crohn yang mengenai kolon, dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal. Risiko ini berkaitan dengan durasi penyakit, luasnya peradangan di usus, tingkat aktivitas peradangan, riwayat displasia, dan faktor lain seperti kolangitis sklerosis primer.

Pada orang dengan penyakit radang usus besar, American Gastroenterological Association menyarankan kolonoskopi skrining untuk displasia dilakukan sekitar 8–10 tahun setelah diagnosis penyakit. Jika seseorang didiagnosis IBD pada usia remaja atau awal 20-an, maka anjuran jadwal skrining bisa sebelum usia 45 tahun.

Ini berbeda dari kolonoskopi untuk mengevaluasi gejala IBD. Pada IBD, kolonoskopi bisa dilakukan untuk diagnosis, menilai peradangan, atau memantau terapi. Namun, kolonoskopi pemantauan kanker kolorektal memiliki tujuan khusus, yaitu mencari displasia atau perubahan prakanker.

5. Orang dengan kolangitis sklerosis primer dan IBD

Kolangitis sklerosis primer adalah penyakit kronis pada saluran empedu yang sering berkaitan dengan IBD, terutama kolitis ulseratif. Kombinasi IBD dan kolangitis sklerosis primer meningkatkan risiko kanker kolorektal dibanding IBD saja.

Pada kelompok ini, disarankan kolonoskopi awal untuk skrining displasia dilakukan segera setelah kolangitis sklerosis primer didiagnosis. Artinya, pasien tidak harus menunggu 8–10 tahun seperti sebagian pasien IBD lainnya.

Jika seseorang memiliki IBD dan diberi tahu dokter bahwa ia juga memiliki kolangitis sklerosis primer, jadwal pemeriksaan kolon perlu dibahas lebih serius dengan gastroenterolog.

6. Orang dengan sindrom Lynch

Dokter mengenakan jas putih dan stetoskop sedang menjelaskan hasil pemeriksaan medis kepada pasien di ruang konsultasi.
ilustrasi pasien melakukan konsultasi dengan dokter (pexels.com/cottonbro studio)

Sindrom Lynch, yang dulu sering disebut hereditary non-polyposis colorectal cancer (HNPCC), adalah sindrom genetik yang meningkatkan risiko kanker kolorektal dan beberapa kanker lain, termasuk kanker endometrium, ovarium, lambung, usus halus, saluran kemih, dan lainnya.

Pada orang yang memiliki atau berisiko sindrom Lynch, skrining kanker kolorektal dimulai jauh lebih awal dibanding populasi umum. Rekomendasinya kolonoskopi setidaknya setiap dua tahun mulai usia 20–25 tahun. Pada pembawa mutasi yang sudah terkonfirmasi, kolonoskopi tahunan dapat dipertimbangkan.

Tanda yang dapat mengarah pada sindrom Lynch antara lain:

  • Kanker kolorektal pada usia muda dalam keluarga.
  • Beberapa anggota keluarga terkena kanker kolorektal atau kanker terkait sindrom Lynch.
  • Seseorang pernah mengalami lebih dari satu jenis kanker terkait Lynch.
  • Hasil pemeriksaan tumor menunjukkan kemungkinan gangguan mismatch repair.

Jika ada pola seperti ini, bukan cuma kolonoskopi yang dibutuhkan, tetapi juga konseling genetik dan, jika sesuai, tes genetik.

7. Orang dengan familial adenomatous polyposis

Familial adenomatous polyposis (FAP) adalah sindrom genetik yang menyebabkan terbentuknya banyak polip di kolon dan rektum. Tanpa penanganan, risiko kanker kolorektal pada FAP sangat tinggi.

Karena polip dapat muncul sejak usia muda, skrining pada FAP juga dimulai sangat dini. Direkomendasikan pemeriksaan tahunan dengan kolonoskopi atau fleksibel sigmoidoskopi dimulai sejak masa pubertas pada orang yang berisiko atau terdampak sindrom poliposis klasik.

Bagi keluarga dengan FAP, pemeriksaan tidak bisa disamakan dengan skrining populasi umum. Anak atau remaja dalam keluarga tersebut memerlukan evaluasi oleh dokter spesialis, konseling genetik, dan rencana pemantauan jangka panjang.

8. Orang dengan sindrom poliposis atau sindrom genetik lain

Selain sindrom sindrom Lynche dan FAP, ada beberapa sindrom genetik lain yang dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, misalnya poliposis terkait MUTYH, sindrom Peutz-Jeghers, sindrom poliposis juvenil, dan serrated polyposis syndrome.

Usia mulai skrining dan jenis pemeriksaannya berbeda-beda, tergantung sindromnya. Pada beberapa kondisi, skrining bisa dimulai pada usia remaja atau dewasa muda. Karena itu, orang dengan banyak polip, polip muncul di usia muda, atau riwayat keluarga kuat perlu dirujuk untuk evaluasi genetik.

Petunjuk yang perlu diperhatikan:

  • Ditemukan banyak polip saat kolonoskopi.
  • Ada keluarga dengan banyak polip.
  • Kanker kolorektal muncul pada usia sangat muda.
  • Ada kombinasi kanker tertentu dalam keluarga.
  • Dokter menyebut kemungkinan sindrom kanker herediter.

9. Orang yang pernah mendapat radiasi ke perut atau panggul

Dua tenaga medis mengoperasikan mesin radioterapi saat pasien menjalani terapi radiasi di ruang perawatan rumah sakit modern.
ilustrasi terapi radiasi atau radioterapi (commons.wikimedia.org/Chris Sam)

Riwayat radiasi ke area perut atau panggul untuk pengobatan kanker sebelumnya dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal di kemudian hari. Ini bisa terjadi pada penyintas kanker tertentu yang menerima radioterapi saat masih anak-anak, remaja, atau dewasa muda.

American Cancer Society mencatat bahwa orang dengan riwayat radiasi perut atau panggul untuk terapi kanker sebelumnya mungkin perlu mulai skrining lebih awal. Skrining sering dimulai sekitar 10 tahun setelah radiasi diberikan atau pada usia 35 tahun, mana yang terjadi terakhir. Jadwalnya juga bisa lebih sering dibanding populasi risiko rata-rata.

Karena riwayat terapi kanker setiap orang berbeda, penyintas kanker sebaiknya menyimpan ringkasan terapi dan mendiskusikan kebutuhan skrining dengan dokter.

10. Orang dengan gejala mencurigakan, berapa pun usianya

Jika seseorang mengalami gejala yang mencurigakan, pemeriksaan yang dibutuhkan bukan lagi skrining, melainkan evaluasi diagnostik. Skrining dilakukan pada orang tanpa gejala. Ketika gejala sudah muncul, dokter perlu mencari penyebabnya.

Gejala yang perlu diperiksa antara lain:

  • Darah pada tinja atau tinja berdarah.
  • Perubahan pola buang air besar yang menetap, misalnya diare atau sembelit yang tidak biasa.
  • Bentuk tinja berubah terus-menerus.
  • Rasa buang air besar tidak tuntas.
  • Nyeri perut atau kram yang menetap.
  • Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas.
  • Anemia defisiensi besi tanpa penyebab yang jelas.
  • Lemas berkepanjangan.
  • Perdarahan dari rektum.

Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker kolorektal. Penyebabnya bisa wasir, fisura ani, infeksi, radang usus, sindrom iritasi usus, atau kondisi lain. Namun, gejala tidak boleh diabaikan hanya karena usia masih muda.

Pada kanker kolorektal usia muda, salah satu masalah yang sering terjadi adalah keterlambatan diagnosis karena dianggap wasir, salah makan, atau stres. Jika keluhan berulang, menetap, atau memburuk, pemeriksaan perlu dilakukan.

Apakah faktor gaya hidup membuat seseorang harus skrining sebelum 45 tahun?

Beberapa faktor gaya hidup dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, misalnya merokok, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi daging olahan, serta rendah konsumsi serat. Namun, faktor-faktor ini saja biasanya tidak otomatis membuat kamu masuk kategori skrining kolorektal sebelum usia 45 tahun.

Meski begitu, faktor gaya hidup tetap penting. Jika memiliki beberapa faktor risiko sekaligus, apalagi ditambah riwayat keluarga atau gejala, kamu sebaiknya berdiskusi dengan dokter lebih awal. Dokter dapat menilai apakah perlu pemeriksaan lebih cepat atau cukup memperbaiki faktor risiko sambil mengikuti jadwal skrining sesuai usia.

Tes skrining apa yang biasanya digunakan?

Jenis tes bergantung pada tingkat risiko seseorang.

Untuk orang dengan risiko rata-rata, pilihan skrining dapat mencakup tes tinja seperti FIT setiap tahun, stool DNA test dalam interval tertentu, sigmoidoskopi, CT colonography, atau kolonoskopi. Jika tes non kolonoskopi menunjukkan hasil abnormal, kolonoskopi tetap diperlukan sebagai tindak lanjut.

Namun, untuk orang dengan risiko tinggi, terutama yang memiliki riwayat keluarga kuat, IBD, atau sindrom genetik, kolonoskopi sering menjadi pilihan utama. Ini karena kolonoskopi memungkinkan dokter melihat langsung bagian dalam kolon dan rektum, mengambil sampel jaringan, serta mengangkat polip jika ditemukan.

Karena kebutuhan setiap orang berbeda, jadi tes akan disesuaikan dengan tingkat risiko individu.

Pertanyaan yang bisa kamu bawa ke dokter

Seorang pasien sedang berkonsultasi dengan dokter di meja kerja dengan laptop dan clipboard di ruang periksa.
ilustrasi seorang pasien berkonsultasi dengan dokter (magnific.com/ijeab)

Jika kamu belum berusia 45 tahun tetapi khawatir memiliki risiko kanker kolorektal, kamu bisa menanyakan beberapa hal ini saat berkonsultasi dengan dokter:

  • Apakah riwayat keluarga saya termasuk risiko tinggi?
  • Pada usia berapa anggota keluarga saya didiagnosis kanker kolorektal atau polip lanjut?
  • Apakah saya perlu mulai skrining sebelum usia 45 tahun?
  • Apakah saya perlu kolonoskopi atau cukup tes tinja?
  • Jika kolonoskopi normal, kapan harus diulang?
  • Apakah riwayat polip saya termasuk advanced polyp?
  • Apakah saya perlu konseling genetik?
  • Apakah gejala saya perlu evaluasi diagnostik, bukan sekadar skrining?
  • Apakah riwayat IBD saya meningkatkan risiko kanker kolorektal?
  • Apakah riwayat terapi radiasi saya memengaruhi jadwal skrining?

Membawa informasi detail sangat membantu, terutama usia diagnosis anggota keluarga, jenis kanker, hasil patologi polip, dan riwayat penyakit usus.

Cara mengetahui apakah riwayat keluarga kamu penting

Banyak orang tahu ada keluarga yang pernah kanker usus, tetapi tidak tahu detailnya. Detail ini menentukan apakah skrining perlu dimulai lebih awal.

Coba cari informasi berikut:

  • Siapa anggota keluarga yang terkena?
  • Apakah ia orang tua, saudara kandung, anak, kakek-nenek, paman, bibi, atau sepupu?
  • Usia berapa saat didiagnosis?
  • Apakah kankernya di kolon atau rektum?
  • Apakah ada polip lanjut?
  • Apakah ada lebih dari satu anggota keluarga yang terkena?
  • Apakah ada kanker lain dalam keluarga, seperti kanker rahim, ovarium, lambung, pankreas, atau saluran kemih?

Jika ada kanker kolorektal pada usia muda atau banyak anggota keluarga terkena kanker terkait, jangan menunggu sampai usia 45 tahun untuk bertanya ke dokter.

Tidak semua orang perlu menjalani skrining kanker kolorektal sebelum usia 45 tahun. Untuk orang dengan risiko rata-rata dan tanpa gejala, skrining umumnya dimulai pada usia 45 tahun. Namun, skrining lebih awal dapat diperlukan pada orang dengan risiko meningkat atau tinggi.

Kelompok yang perlu berdiskusi dengan dokter tentang skrining sebelum 45 tahun meliputi orang dengan riwayat keluarga kanker kolorektal atau polip lanjut, riwayat pribadi polip atau kanker kolorektal, penyakit radang usus, primary sclerosing cholangitis, sindrom genetik seperti Lynch syndrome atau FAP, serta riwayat radiasi perut atau panggul.

Perlu diingat, gejala tidak boleh menunggu usia skrining. Jika ada tinja berdarah, perubahan pola buang air besar yang menetap, anemia tanpa sebab jelas, nyeri perut terus-menerus, atau berat badan turun tanpa alasan, pemeriksaan perlu dilakukan berapa pun usia seseorang.

Referensi

American Cancer Society. “American Cancer Society Guideline for Colorectal Cancer Screening.” Diakses Juni 2026.

American Gastroenterological Association. “Endoscopic Surveillance and Management of Colorectal Dysplasia in Inflammatory Bowel Diseases.” Diakses Juni 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Screening for Colorectal Cancer.” Diakses Juni 2026.

Dharwadkar, Parth, Caitlin R. Zaki, and Swati G. Patel. “Colorectal Cancer in Younger Adults.” Hematology/Oncology Clinics of North America 36, no. 3 (2022): 449–470. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9177054/.

National Cancer Institute. “As Rates of Some Cancers Increase in Younger People, Researchers Search for Answers.” Diakses Juni 2026.

Aasma Shaukat et al., “ACG Clinical Guidelines: Colorectal Cancer Screening 2021,” The American Journal of Gastroenterology 116, no. 3 (March 1, 2021): 458–79, https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000001122.

Sapna Syngal et al., “ACG Clinical Guideline: Genetic Testing and Management of Hereditary Gastrointestinal Cancer Syndromes,” The American Journal of Gastroenterology 110, no. 2 (February 1, 2015): 223–62, https://doi.org/10.1038/ajg.2014.435.

U.S. Preventive Services Task Force. “Colorectal Cancer: Screening.” Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More