Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Korban Sulit Lepas dari Pelaku Kekerasan? Ini Kata Psikolog

Mengapa Korban Sulit Lepas dari Pelaku Kekerasan? Ini Kata Psikolog
ilustrasi korban kekerasan seksual (IDN times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Psikolog menjelaskan korban kekerasan sering sulit lepas karena adanya trauma bonding, yaitu ikatan emosional yang terbentuk akibat siklus kekerasan berulang.
  • Trauma bonding membuat korban tetap terikat secara emosional pada pelaku meski mengalami kekerasan fisik maupun psikologis dalam jangka waktu lama.
  • Psikolog menekankan pentingnya mengenali tanda hubungan tidak sehat seperti perilaku agresif, verbal abuse, dan kemarahan berlebihan sebagai red flag sejak awal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kasus kekerasan dalam hubungan sering memunculkan pertanyaan yang sama, mengapa korban tidak pergi lebih cepat? Bagi sebagian orang, keputusan untuk meninggalkan pelaku mungkin terlihat mudah. Namun, kenyataannya, banyak korban justru mengalami kesulitan untuk melepaskan diri meski sudah berulang kali mengalami kekerasan fisik maupun psikologis.

Menurut psikolog, salah satu faktor yang dapat menjelaskan kondisi tersebut adalah trauma bonding, yaitu ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku melalui siklus kekerasan yang terjadi berulang kali.

Table of Content

Mengembangkan trauma bonding

Mengembangkan trauma bonding

Meiri Dias Tuti, M.Psi, Psikolog Klinis, menjelaskan bahwa terdapat hubungan timbal balik antara pelaku dan pasangan yang mengalami kekerasan fisik, yang mana korban mengalami trauma.

"Dia merasa sulit lepas dari pelaku kekerasan yang memiliki hubungan romantis dengan dia, sehingga kekerasan fisik itu berulang dan terjadi dalam kurun waktu tertentu yang lama," ujarnya kepada IDN Times.

Alhasil terdapat trauma bonding yang dikembangkan oleh korban yang mengalami trauma psikologis sehingga membuat kekerasan fisik terjadi berkali-kali atau berulang dalam kurun waktu lama.

Kenali tanda-tanda red flag

Tangan seseorang mengepal dengan luka di buku jari, mengenakan celana jeans gelap dan berdiri di dalam ruangan.
ilustrasi pelaku kekerasan terhadap perempuan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Selain memahami trauma bonding, penting juga mengenali tanda-tanda awal hubungan yang berpotensi menjadi tidak sehat.

"Orang yang punya rasa kasih sayang dan rasa cinta, pastinya tidak akan mudah untuk melakukan perilaku kekerasan secara fisik terutama kepada orang yang dicintainya," Meiri mengatakan.

Menurut psikolog, seseorang yang benar-benar menyayangi pasangannya tidak akan dengan mudah melakukan kekerasan fisik terhadap orang yang dicintainya. Rasa cemburu atau keinginan melindungi pasangan pun seharusnya ditunjukkan melalui cara-cara yang sehat.

"Kalau dia memang sayang atau cinta sama kita, komunikasinya baik, tidak sampai ada perilaku agresif atau perilaku kekerasan fisik," lanjutnya..

Meiri menambahkan bahwa perilaku seperti membentak, mengeluarkan kata-kata merendahkan (verbal abuse), mudah marah, hingga melakukan tindakan fisik seperti menampar sebaiknya tidak dianggap sebagai hal yang wajar dalam hubungan—red flag.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More