Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Suporter Bisa Menangis saat Timnya Menang?

Kenapa Suporter Bisa Menangis saat Timnya Menang?
ilustrasi menonton pertandingan bola di stadion (pexels.com/Eslam Mohammed Abdelmaksoud)
Intinya Sih
  • Tangisan suporter saat tim menang muncul karena keterikatan identitas yang kuat, empati mendalam, dan aktivasi sistem reward otak yang memunculkan respons emosional intens.
  • Konsep BIRGing menjelaskan bagaimana fans merasa kemenangan tim sebagai kemenangan pribadi, memperkuat rasa kebanggaan dan kedekatan psikologis dengan tim kesayangan.
  • Emosi kolektif di stadion menular antarpenonton, sementara pelepasan dopamin di otak menciptakan euforia yang membuat air mata bahagia menjadi reaksi alami atas kemenangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Seorang suporter bisa menangis justru saat tim kesayangannya menang? Adegan ini sering muncul di stadion, terutama setelah laga dramatis atau kemenangan yang ditunggu bertahun-tahun. Bagi sebagian orang, tangisan ini tampak berlebihan, tetapi sebetulnya ada penjelasannya, lho.

Menangis saat tim menang merupakan ekspresi intens dari keterikatan identitas yang kuat, empati terhadap tim, dan aktivasi sistem reward otak yang luar biasa.

Table of Content

Adanya konsep BIRGing

Adanya konsep BIRGing

Ada fans yang tidak cuma mendukung, tetapi mereka menganggap tim sebagai perpanjangan diri mereka sendiri. Ini disebut team identification—ketika seseorang sangat teridentifikasi, hasil tim secara psikologis dirasakan sebagai hasil diri. Kemenangan tim sama dengan kemenangan pribadi dan kekalahan tim sama dengan kegagalannya sendiri.

Konsep BIRGing (Basking in Reflected Glory) berperan, merujuk pada kecenderungan orang untuk mengurangi jarak psikologis antara diri mereka dan entitas yang didukung. Ketika tim menang, fans turut andil dari pencapaian tim tersebut seolah mereka ikut menjadi bagian dari kemenangan.

Emosi yang menular

Pria duduk di sofa sambil mengibarkan bendera Spanyol dan bersorak gembira menonton pertandingan sepak bola di ruang tamu.
ilustrasi menangis saat menonton pertandingan bola (magnific.com/freepik)

Selain faktor internal (identitas), faktor eksternal di stadion juga memainkan peranan besar. Penelitian menunjukkan bahwa supporter memiliki kecenderungan untuk menyerap emosi orang-orang di sekitar mereka. Mekanisme ini disebut emotional contagion.

Saat tim mencetak gol atau memenangkan laga, stadion tidak hanya dipenuhi suara sorak-sorai. Terjadi alur emosi kolektif yang cepat seperti orang berpelukan, bersorak, mengangkat tangan, dan menunjukkan ekspresi gembira yang intens.

Individu di dalam kerumunan tersebut secara otomatis ikut merasakan emosi yang sama—dan emosi itu dapat menular.

Selain itu, fans juga memiliki empati terhadap pemain dan pelatih. Mereka bisa membayangkan apa yang dialami pemain setelah mencetak gol penentu atau mengangkat trofi. Dalam beberapa kasus, fans bahkan merasa lebih emosional daripada pemain itu sendiri.

Otak yang melepaskan dopamin

Saat tim favorit mencetak gol atau menang, sistem reward otak aktif secara signifikan.

Pada kondisi ini, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang, motivasi dan penghargaan. Dopamin memberi sensasi euforia yang sama seperti saat seseorang mencapai tujuan pribadi, misalnya, lulus ujian atau mendapat promosi pekerjaan.

Menariknya, respons otak fans terhadap kemenangan tim sangat mirip respons otak saat seseorang mengalami kemenangan atau penghargaan secara langsung. Artinya, otak fans seolah-olah mengalami kemenangan itu sendiri.

Sebaliknya, saat tim kalah, otak fans menunjukkan aktivasi di area yang terkait dengan refleksi, pemrosesan negatif bahkan rasa sakit emosional. Kontras antara menang atau kalah, fans bisa mengalami fluktuasi emosi yang ekstrem.

Secara biologis, air mata saat menang adalah respons fisiologis dari sistem reward yang sangat aktif. Sehingga hal ini bukan dramatisasi semata, melainkan manifestasi dari pelepasan neurokimia intens yang memicu ekspresi emosi terbuka.

Referensi

"Why We Cry When Sports Teams Win." LSA Umich. Diakses Juni 2026.

Mastromartino, Brandon, and James J. Zhang. “Affective Outcomes of Membership in a Sport Fan Community.” Frontiers in Psychology 11 (May 8, 2020): 881.

Bernache‐Assollant, Iouri, Yves Chantal, Patrick Bouchet, and Marie‐Françoise Lacassagne. “Understanding the Consequences of Victory amongst Sport Spectators: The Mediating Role of BIRGing.” European Journal of Sport Science 16, no. 6 (January 19, 2016): 719–25.

“How Does a Fan’s Brain React to Their Team’s Win or Loss?”. Tesaac World. Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More