Sejumlah penelitian menemukan bahwa PM2.5 dari asap kebakaran dapat berdampak lebih besar terhadap saluran pernapasan dibandingkan PM2.5 dari sumber lain.
Dalam studi di San Diego, California, Amerika Serikat (AS), setiap kenaikan 10 mikrogram per meter kubik PM2.5 yang dikaitkan dengan kebakaran berhubungan dengan kenaikan 30 persen kunjungan anak ke layanan gawat darurat dan perawatan mendesak karena gangguan pernapasan. Untuk PM2.5 dari sumber nonkebakaran, kenaikannya 3,7 persen. Peneliti memperkirakan dampak PM2.5 kebakaran terhadap kesehatan pernapasan anak sekitar 10 kali lebih besar dalam studi tersebut.
Penelitian lintas negara yang terbit pada 2025 juga menemukan bahwa paparan partikel dari kebakaran lahan terkait dengan lebih banyak rawat inap anak dan remaja akibat gangguan pernapasan. Dalam analisis terhadap 1.012 komunitas di tujuh negara dan wilayah, kenaikan 10 mikrogram per meter kubik partikel tersebut berhubungan dengan peningkatan risiko rawat inap pernapasan sebesar 1,9 persen. Anak usia 5–9 tahun termasuk kelompok yang lebih terdampak.
Kerentanan anak juga berkaitan dengan tubuhnya yang masih tumbuh. “Anak-anak itu tubuhnya kecil, tapi dia bukan miniatur orang dewasa,” kata dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A, Subsp.Respi(K), dari Satgas Penanggulangan Bencana IDAI. Paparan polutan dapat memperburuk asma atau infeksi saluran napas yang sudah ada. Dokter Dimas juga mengingatkan bahwa paparan berkepanjangan berpotensi mengubah struktur saluran napas anak.