Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Orang yang Kena Rabies Takut Air?

3 min read
Kenapa Orang yang Kena Rabies Takut Air?
ilustrasi segelas air (pixabay.com/Baudolino)
  • Hidrofobia pada rabies bukan cuma takut terhadap air. Menelan dapat memicu kejang otot tenggorokan yang tidak disengaja.

  • Melihat atau mendengar air pun bisa memicu spasme pada sebagian pasien. Rasa haus bisa tetap ada, tetapi minum menjadi sulit.

  • Tidak semua pasien rabies mengalami hidrofobia. Setelah gigitan atau cakaran hewan yang dicurigai rabies, jangan menunggu gejala: cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, lalu segera cari pertolongan medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Rasa haus bisa tetap kuat pada orang yang terjangkit rabies, tetapi menelan air dapat memicu kontraksi mendadak di tenggorokan. Bahkan, melihat atau mendengar air bisa memicu reaksi serupa. Gejala ini disebut hidrofobia, yang secara harfiah berarti ketakutan terhadap air.

Akan tetapi, istilah tersebut dianggap kurang menggambarkan apa yang dialami pasien, yaitu gangguan saraf yang membuat proses menelan memicu spasme tak terkendali.

Berikut ini penjelasannya.

  1. 1. Virus rabies mengganggu sistem saraf

    Virus rabies masuk ke tubuh melalui air liur hewan yang terinfeksi, biasanya lewat gigitan atau cakaran yang merusak kulit. Virus kemudian bergerak melalui saraf menuju otak dan sistem saraf pusat.

    Ketika infeksi menyebabkan radang otak atau ensefalitis, seseorang dapat mengalami perubahan perilaku, sulit menelan, air liur berlebih, hingga hidrofobia.

    Rabies mengganggu fungsi sel saraf dan sistem kekebalan. Namun, rangkaian proses yang menghubungkan infeksi dengan gejala saraf tertentu masih belum sepenuhnya dipahami.

    Singkatnya, gejala hidrofobia dapat dijelaskan dari respons tubuh yang terlihat, sementara jalur biologis terperincinya masih terus diteliti.

  2. 2. Menelan dapat memicu spasme

    Pada rabies bentuk ensefalitik, upaya menelan dapat memicu kontraksi tiba-tiba pada otot tenggorokan. Spasme otot menelan ini kadang juga terpicu oleh melihat, mendengar, atau sekadar menyadari adanya air. Karena respons itu terasa menyakitkan dan dapat mengganggu napas, pasien bisa panik atau berusaha menjauh dari air.

    Dalam kasus ini, yang terganggu adalah respons saraf dan otot saat menelan. Sebuah laporan kasus dalam Clinical Case Reports menggambarkan seorang pasien yang masih merasa sangat haus, tetapi setiap upaya minum memicu spasme tenggorokan, sensasi seperti tersumbat, dan sesak.

  3. 3. Tidak semua pasien rabies menunjukkan hidrofobia

    Hidrofobia lebih dikenal pada rabies ensefalitik, yang juga dapat disertai gelisah, kebingungan, atau perubahan perilaku.

    Ada pula rabies paralitik, yang lebih banyak ditandai kelemahan otot yang berkembang menjadi kelumpuhan.

    Karena bentuk dan gejalanya bisa berbeda, tidak adanya hidrofobia tidak cukup untuk menyingkirkan kemungkinan rabies setelah seseorang terpapar hewan yang berisiko.

  4. 4. Setelah digigit atau dicakar hewan yang berisiko, segera ke fasilitas kesehatan

    Jika seseorang digigit atau dicakar hewan yang dicurigai rabies, segera cuci dan bilas luka dengan sabun serta air mengalir selama sedikitnya 15 menit.

    Setelah itu, segera datang ke fasilitas kesehatan untuk dinilai apakah perlu mendapat vaksin rabies dan, pada paparan tertentu, imunoglobulin.

    Rabies hampir selalu fatal setelah gejala klinis muncul, sedangkan pencegahan pascapaparan yang diberikan sebelum gejala dapat mencegah penyakit. Karena itu, jangan menunggu sampai sulit menelan atau takut air.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention, “Rabies,” dalam CDC Yellow Book 2026: Health Information for International Travel, diakses September 2026.

    World Health Organization, “Rabies,” diakses September 2026.

    Victor Bastos et al., “Neuroimmunology of Rabies: New Insights into an Ancient Disease,” Journal of Medical Virology 95, no. 10 (2023): e29042, https://doi.org/10.1002/jmv.29042.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Rabies,” diakses September 2026.

    Juliana R. Tongavelona, Rivo Andry Rakotoarivelo, and Fy S. Andriamandimby, “Hydrophobia of Human Rabies,” Clinical Case Reports 6, no. 12 (2018): 2519–20, https://doi.org/10.1002/ccr3.1846.

    World Health Organization, “Rabies,” diakses September 2026.

    World Health Organization, “Rabies Vaccinations and Immunization,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More