- Lepaskan tutup dengan meremas dan menariknya.
- Pegang inhaler, posisikan corong lurus menghadap mulut dan pastikan tombol hijau (tergantung merek) ada di atas.
- Jika posisi sudah pas, tekan tombol hijau sepenuhnya dan lepaskan.
- Periksa kembali untuk memastikan dosis siap untuk dihirup. Cek warna indikator.
- Apabila hijau, berarti obat sudah siap untuk diisap. Namun, jika masih merah, ulangi tiga langkah sebelumnya untuk menyiapkan dosis isap.
Aclidinium: Manfaat, Peringatan, Dosis, dan Cara Penggunaan

Aclidinium adalah obat inhalasi yang diresepkan untuk mengurangi efek penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Meski demikian, obat ini tidak dapat menghilangkan penyakit dan hanya meredakan gejala seperti mengi.
Penggunaan obat ini harus dengan resep dokter dan tidak bisa digunakan secara bergantian. Berikut ulasan lengkap mengenai obat aclidinium.
1. Manfaat
PPOK adalah penyakit radang paru-paru kronis yang menyebabkan aliran udara terhambat dari paru-paru. Gejalanya meliputi kesulitan bernapas, batuk, produksi lendir (sputum), dan mengi.
Penyakit kronis ini biasanya disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap gas atau partikel yang mengiritasi, paling sering dari asap rokok. Pasien PPOK berada pada peningkatan risiko mengembangkan penyakit jantung, kanker paru-paru, dan berbagai kondisi lainnya.
Aclidinium digunakan sebagai pengobatan jangka panjang untuk mencegah mengi, sesak napas, batuk, dan sesak dada pada pasien PPOK, seperti bronkitis kronis (pembengkakan saluran udara yang menuju ke paru-paru) dan emfisema (kerusakan kantung udara di paru-paru).
Aclidinium termasuk dalam kelas obat yang disebut bronkodilator. Obat ini bekerja dengan cara merelaksasi dan membuka saluran udara ke paru-paru untuk membuat pernapasan lebih mudah, mengutip MedlinePlus.
Berbeda dengan inhaler, aclidinium tidak digunakan untuk penanganan pertama gejala PPOK atau gangguan pernapasan. Obat ini harus digunakan rutin dan teratur agar memberikan dampak efektif.
2. Peringatan

Aclidinium memiliki kandungan bahan tidak aktif seperti susu sapi yang dapat menyebabkan timbulnya reaksi alergi. Untuk mengurangi kemungkinan efek samping, beri tahu dokter apabila memiliki alergi terhadap obat ini, atropin, atau obat jenis belladonna lainnya.
Meski belum ada penelitian terkontrol lebih lanjut, National Center of Biotechnology Information menyebutkan bahwa aclidinium termasuk obat kelompok C untuk ibu hamil. Artinya, obat ini bisa diresepkan apabila manfaat yang didapat lebih besar daripada risikonya. Penggunaannya pun harus dipantau dengan hati-hati bagi ibu menyusui. Terdapat penelitian terkait adanya kandungan aclidinium pada ekskresi ASI hewan. Besar kemungkinan penggunaan aclidinium juga memengaruhi kandungan ASI pada manusia.
Obat ini dapat menimbulkan perburukan gejala pada pasien dengan riwayat glaukoma sudut tertutup, serta dapat meningkatkan kemungkinan memburuknya retensi urine. Penggunaan aclidinium pada penderita hiperplasia prostat atau obstruksi leher kandung kemih juga harus dalam pemantauan ketat dokter.
Pengobatan aclidinium dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas, termasuk munculnya angioedema (bengkak) dan bronkospasme atau anafilaksis (penyempitan saluran udara). Hentikan penggunaan dan konsultasikan dengan dokter untuk alternatif pengobatan lain apabila kamu memiliki gejala tersebut.
3. Interaksi dengan obat lain
Meski tidak banyak, aclidinium masih bisa berinteraksi dengan obat lain, terutama apabila digunakan bersamaan dengan jenis pereda gejala penyempitan saluran pernapasan lain. Termasuk di antaranya bronkodilator jenis antikolinergik (tiotropium atau ipratropium).
Ada pula peningkatan efek racun atau toksik jika aclidinium dikombinasikan dengan glukagon, yang disebut-sebut dapat menurunkan efektivitas revefenacin apabila keduanya digunakan dalam waktu bersamaan.
Efek aclidinium juga dapat berlipat ganda jika digunakan bersama pramlintide.
4. Dosis dan aturan pakai

Pemberian dosis aclidinium dapat berbeda sesuai kondisi pasien. Ikuti dosis atau cara penggunaan yang tertera di kemasan atau sesuai arahan dokter. Adapun informasi di bawah ini yang bersumber dari Mayo Clinic merupakan dosis rata-rata sesuai usia pasien dengan ketentuan konsultasi dokter terlebih dulu.
Untuk pengobatan pemeliharaan PPOK:
Dewasa: Satu isapan sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Berikan jarak sekitar 12 jam setelah penggunaan pertama. Setiap isapan mengandung 400 mikrogram (mcg) aclidinium bromide.
Anak-anak: Sesuai resep dan instruksi dokter.
Pastikan untuk menggunakan obat pada jam yang sama setiap harinya. Penggunaan secara rutin dapat meningkatkan efektivitas aclidinium. Jangan menggandakan dosis tanpa sepengetahuan dokter. Apabila melewatkan jadwal penggunaan obat, tunggu hingga waktu berikutnya.
Inhaler aclidinium memiliki indikator yang menunjukkan jumlah dosis yang tersisa. Indikator akan memunculkan pita warna merah sebagai pengingat dosis menipis dan harus segera mengisi ulang resep.
5. Penggunaan

Aclidinium merupakan obat bubuk kering dalam perangkat inhalasi dan dihirup melalui mulut. Sebelum menggunakannya, pastikan obat selalu tertutup rapat.
Buka kantong obat dan tekan tombol hijau saat kamu siap menggunakannya. Jika masih belum siap, jangan biarkan corong obat dalam kondisi terbuka. Apabila sudah siap mengisap obat, lakukan persiapan penggunaan aclidinium berikut ini:
Selanjutnya, ikuti tahapan mengisap aclidinium ini:
- Sebelum mengisap obat ini, embuskan napas dan coba mengeluarkan udara sebanyak mungkin dari paru-paru.
- Letakkan bibir secara rapat di sekitar corong.
- Tarik napas secara cepat dan dalam sampai kamu mendengar suara "klik".
- Jika sudah, tetap ambil napas bahkan setelah kamu mendengar suara "klik" untuk memastikan Kamu sudah mendapatkan dosis penuh.
- Lepaskan inhaler dari mulut dan tahan napas sampai kamu merasa nyaman, lalu embuskan perlahan melalui hidung.
Meski tidak selalu, kamu mungkin akan merasakan sedikit manis atau pahit di mulut. Namun, apabila kamu tidak merasakan apa pun bukan berarti obat tidak terhirup. Kamu cukup memastikan keberhasilan konsumsi obat dengan melihat indikator warna. Apabila sudah berganti merah, maka kamu telah menghirup dosis penuh. Jika masih berwarna hijau, kamu bisa mengulangi langkah di atas. Setelah berubah menjadi merah, pasang kembali tutup inhaler hingga rapat dengan menekannya kembali ke corong.
Sebagai catatan, hindari menahan tombol hijau saat proses menarik napas. Apabila ingin membersihkan inhaler, cukup lap corong dengan tisu atau handuk kering. Hindari penggunaan air dan simpan di tempat kering agar kualitas obat aclidinium tetap terjaga, ya!







![[QUIZ] Dari Kebiasaanmu Menggunakan Gadget, Ini Kondisi Kesehatan Matamu](https://image.idntimes.com/post/20260423/pexels-darlene-alderson-7971590_5a2bc143-4072-4af1-8eda-fe406c5490ad.jpg)


![[QUIZ] Dari Upin sampai Jarjit, Siapa yang Paling Mirip Mood Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20250524/img-20250524-171040-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-28feab17b5fb8a908bef39b95c48ca47.jpg)

![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Member BABYMONSTER?](https://image.idntimes.com/post/20260507/clipdown_7263db7b-4f6f-44bb-a539-75e184e3fed3.jpg)



![[QUIZ] Dari Subgenre Horor Favoritmu, Kami Bisa Ungkap Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20251106/freepik-1186_13e80742-9618-4bd3-a5bd-eaefea417bef.jpg)
![[QUIZ] Pilih Genre Musik Ini, Kami Tahu Seberapa Stres Kamu Sekarang](https://image.idntimes.com/post/20240203/photo-1487180144351-b8472da7d491-a0a51f7a58669ba98ac0be589946151c-f0c59367cceff26b5baee28bb42de4ca.jpeg)

