ilustrasi kurma (magnific.com/rawpixel.com)
Kurma rasanya manis karena memang tinggi gula alami. Namun, kurma utuh tidak sama dengan sesendok gula pasir atau madu.
Kurma juga mengandung serat, sejumlah mineral, dan polifenol. Berbeda dengan madu atau sirop, gula dari buah utuh tidak termasuk gula bebas dalam definisi WHO.
Ini membuat kurma utuh lebih masuk akal bila tujuannya bukan sekadar mengganti jenis gula, melainkan mendapatkan rasa manis dari makanan utuh yang sekaligus memberikan zat gizi lainnya.
Akan tetapi, kurma tetap tinggi karbohidrat sehingga porsinya tetap penting, terutama bagi orang yang perlu mengontrol gula darah.
Dalam uji klinis acak terhadap pasien diabetes tipe 2, konsumsi 60 gram kurma per hari selama 12 minggu tidak memperburuk HbA1c atau glukosa puasa dibandingkan jumlah kismis dengan beban glikemik setara. Di sisi lain, penelitian tersebut juga tidak menemukan bahwa kurma memperbaiki kontrol gula darah.
Jadi, kurma bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang yang dikonsumsi secukupnya.
Namun, akan berbeda jika yang dikonsumsi adalah sirop kurma. Ketika buah diolah menjadi pemanis pekat seperti sirop, keunggulan mengonsumsi buah dalam bentuk utuh berkurang.
Prinsip serupa berlaku pada sirop maple, agave, dan pemanis berbentuk sirop lainnya. Sumber tanamannya mungkin berbeda, tetapi semuanya tetap menyumbang gula bebas jika digunakan sebagai pemanis.