- IMT <18,5 (gizi kurang/kurus): 12,5–18 kg
- IMT 18,5–24,9 (normal): 11,5–16 kg
- IMT 25,0–29,9 (kelebihan berat badan): 7–11,5 kg
- IMT ≥30 (obesitas): 5–9 kg
Berat Badan Ibu Hamil Kurang, Apa Risikonya bagi Bayi?

Target kenaikan berat badan ibu hamil bergantung pada IMT sebelum hamil.
Kenaikan berat badan di bawah rekomendasi dikaitkan dengan risiko lebih tinggi bayi lahir kecil, berat lahir rendah, panjang badan kecil untuk usia kehamilan, dan kelahiran prematur.
Berat badan kurang tidak cukup dinilai dari satu angka; dokter atau bidan perlu memantau tren, asupan gizi, kondisi ibu, serta pertumbuhan janin melalui pemeriksaan antenatal.
Mual dan muntah pada trimester pertama, perubahan nafsu makan, atau berbagai kondisi kesehatan dapat membuat berat badan bertambah lebih lambat dari yang diharapkan oleh ibu hamil.
Kenaikan berat badan selama hamil bukan cuma pertambahan lemak. Berat janin, plasenta, cairan ketuban, peningkatan volume darah dan cairan tubuh, pembesaran rahim serta payudara, hingga cadangan energi ibu ikut membentuk kenaikan tersebut.
Karena itu, berat badan yang terus bertambah terlalu sedikit dapat menjadi salah satu tanda yang perlu dievaluasi.
Table of Content
Berapa kenaikan berat badan yang dianggap cukup?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua ibu hamil. Targetnya bergantung pada indeks massa tubuh (IMT) sebelum kehamilan.
Berdasarkan Buku KIA 2024, kenaikan total selama kehamilan disesuaikan dengan IMT prahamil. Untuk kehamilan tunggal, acuannya:
Penilaian status gizi menggunakan IMT sebelum hamil atau IMT trimester pertama, sebelum usia kehamilan 12 minggu, terutama untuk mendeteksi ibu dengan kurang energi kronis (KEK). IMT <18,5 kg/m² termasuk kategori gizi kurang/KEK.
Artinya, kenaikan 7 kg dapat terlalu sedikit bagi seseorang yang sebelum hamil memiliki IMT normal, tetapi masih berada dalam rentang rekomendasi bagi sebagian ibu dengan berat badan berlebih. Target untuk kehamilan kembar juga berbeda.
Berikut ini risiko kenaikan berat badan ibu hamil yang kurang bagi bayi.
1. Bayi lebih berisiko lahir kecil

ilustrasi ibu hamil mengonsumsi raw milk (pexels.com/cottonbro studio) Ada risiko small for gestational age (SGA), yaitu bayi yang berat lahirnya lebih kecil dibandingkan yang diharapkan untuk usia kehamilannya.
Sebuah metaanalisis terhadap lebih dari 1,3 juta kehamilan menemukan bahwa kenaikan berat badan di bawah rekomendasi berkaitan dengan peluang SGA sekitar 53 persen lebih tinggi dibanding kenaikan berat badan sesuai rekomendasi. Perbedaannya sekitar lima poin persentase dalam populasi yang dianalisis.
Ada pula temuan lainnya di negara berpendapatan rendah dan menengah. Metaanalisis data individual yang mencakup lebih dari 90 ribu kehamilan menemukan kenaikan berat badan yang tidak mencukupi berkaitan dengan risiko SGA 44 persen lebih tinggi dan berat lahir rendah 62 persen lebih tinggi.
Namun, hubungan ini merupakan asosiasi. Berat badan ibu yang kurang naik tidak berarti bayi pasti akan lahir kecil karena pertumbuhan janin dipengaruhi banyak faktor lain.
2. Risiko lahir prematur juga meningkat
Kenaikan berat badan yang kurang juga dikaitkan dengan kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu.
Sebuah metaanalisis menemukan peluang kelahiran prematur sekitar 70 persen lebih tinggi pada kelompok dengan kenaikan berat badan di bawah pedoman.
Analisis yang lebih baru terhadap 17 studi kohort dan 866.593 kehamilan juga menemukan hubungan serupa, meskipun besarnya lebih kecil: kenaikan berat badan yang tidak mencukupi berkaitan dengan peningkatan peluang kelahiran prematur sekitar 45 persen.
Perbedaan besarnya risiko antarpenelitian menunjukkan bahwa kondisi ibu, IMT sebelum hamil, populasi yang diteliti, serta penyebab kenaikan berat badan yang rendah ikut berperan.
3. Kenaikan sangat rendah dapat berkaitan dengan panjang badan bayi
Studi di 24 negara berpendapatan rendah dan menengah menemukan bahwa kenaikan berat badan yang sangat rendah tidak hanya berkaitan dengan berat lahir rendah dan SGA, tetapi juga dengan peningkatan risiko bayi memiliki panjang badan yang kecil untuk usia kehamilan.
Walaupun status gizi ibu merupakan salah satu faktor yang ikut mendukung pertumbuhan janin, tetapi kenaikan berat badan ibu tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan apakah pertumbuhan bayi terganggu.
Dokter atau bidan juga menilai pertumbuhan janin melalui pemeriksaan antenatal, termasuk ukuran rahim dan ultrasonografi jika diperlukan.
Berat badan kurang naik bukan berarti harus terus makan dalam jumlah banyak

ilustrasi ibu hamil makan kurma (pexels.com/Anna Tarazevich) Berat badan yang kurang solusinya bukan cuma makan sebanyak-banyaknya. Tujuannya adalah memastikan kebutuhan energi dan zat gizi terpenuhi serta mencari penyebab jika kenaikan berat badan jauh dari yang diharapkan.
Tren berat badan juga lebih berguna daripada satu angka pada satu kunjungan. Target merupakan rentang, karena kehamilan yang sehat dapat terjadi pada variasi kenaikan berat badan tertentu dan kondisi individual tetap perlu dipertimbangkan.
Kenaikan berat badan yang berhenti, justru menurun, atau konsisten jauh di bawah target—terutama jika disertai muntah berat, sulit makan, atau kekhawatiran mengenai pertumbuhan janin—perlu dievaluasi oleh dokter atau bidan.
Kesimpulannya, kenaikan berat badan ibu hamil yang kurang dari rekomendasi dikaitkan terutama dengan risiko bayi lahir kecil dan kelahiran prematur. Namun, berat badan ibu bukan diagnosis. Target kenaikan perlu disesuaikan dengan IMT sebelum hamil dan dinilai bersama pertumbuhan janin, asupan nutrisi, serta kondisi kesehatan ibu.
Referensi
Xiaohong Ye, Peishan Li, and Chuan Shi, “Association between Gestational Weight Gain and Adverse Pregnancy Outcomes: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Frontiers in Global Women’s Health 7 (2026): 1777069, https://doi.org/10.3389/fgwh.2026.1777069.
Centers for Disease Control and Prevention, “Weight Gain During Pregnancy,” diakses Agustus 2026.
Institute of Medicine and National Research Council, Weight Gain during Pregnancy: Reexamining the Guidelines, ed. Kathleen M. Rasmussen and Ann L. Yaktine (Washington, DC: National Academies Press, 2009), https://doi.org/10.17226/12584.
Rebecca F. Goldstein et al., “Association of Gestational Weight Gain with Maternal and Infant Outcomes: A Systematic Review and Meta-analysis,” JAMA 317, no. 21 (2017): 2207–25, https://doi.org/10.1001/jama.2017.3635.
Nandita Perumal et al., “Suboptimal Gestational Weight Gain and Neonatal Outcomes in Low and Middle Income Countries: Individual Participant Data Meta-analysis,” BMJ 382 (2023): e072249, https://doi.org/10.1136/bmj-2022-072249.
Ye X, Li P and Shi C (2026). "Association between gestational weight gain and adverse pregnancy outcomes: a systematic review and meta-analysis." Front. Glob. Women’s Health 7:1777069. doi: 10.3389/fgwh.2026.1777069.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 2024," diakses Agustus 2026.





![[QUIZ] Dari Kondisi Fisikmu, Kamu Lebih Mungkin Ikut Fun Walk, Lari 5K, atau Lari 10K?](https://image.idntimes.com/post/20260803/diana-rafira-vfojnmghefs-unsplash_932aeaeb-ed67-4019-a246-e864c46025bf.jpg)






![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kamu Lari karena FOMO atau Beneran Suka](https://image.idntimes.com/post/20260508/1000023808_ede40a8d-fa4b-4901-ba71-809fd59ebf2e.jpg)



![[QUIZ] Apakah Easy Run Kamu Benar-Benar Easy? Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)




