Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penyebab Keputihan Meninggalkan Noda di Celana Dalam

Penyebab Keputihan Meninggalkan Noda di Celana Dalam
ilustrasi keputihan (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Keputihan normal berwarna bening hingga putih dan dapat meninggalkan residu setelah cairannya mengering di kain.

  • Lingkungan vagina normal bersifat asam, umumnya sekitar pH 4–4,5, terutama karena asam laktat yang dihasilkan bakteri Lactobacillus.

  • Noda pada celana dalam saja tidak cukup untuk menentukan adanya infeksi. Perubahan pada cairan keputihan, bau, tekstur, gatal, nyeri, atau perdarahan lebih penting diperhatikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Celana dalam berwarna gelap kadang memiliki bagian yang tampak lebih pucat setelah dipakai. Atau, pada kain berwarna terang, bekas keputihan mungkin terlihat putih atau kekuningan setelah mengering.

Kondisi tersebut tidak berarti vagina bermasalah. Keputihan merupakan bagian normal dari fungsi vagina. Keputihan fisiologis biasanya bening hingga putih dan tidak memiliki bau menyengat. Jumlah serta karakter cairan juga dapat berubah sepanjang siklus menstruasi.

Berikut penjelasan mengenai noda keputihan di celana dalam.

  1. Kenapa keputihan bisa meninggalkan bekas?

    Selain air, cairan yang keluar dari vagina merupakan campuran sekret dari vagina dan serviks serta material biologis dari permukaan saluran reproduksi. Ketika bagian cairannya menguap di celana dalam, komponen yang tertinggal dapat terlihat sebagai residu atau noda pada kain.

    Vagina yang sehat memang bersifat asam. Pada banyak perempuan usia reproduktif, bakteri Lactobacillus mendominasi mikrobioma vagina. Bakteri ini menghasilkan asam laktat dan membantu mempertahankan pH rendah, biasanya sekitar 4–4,5. Lingkungan asam tersebut merupakan salah satu mekanisme alami yang membantu menghambat mikroorganisme penyebab penyakit.

    Karena sifatnya asam, sekret vagina secara biologis dapat berinteraksi dengan zat pewarna pada beberapa jenis kain setelah kontak berulang. Inilah salah satu penjelasan noda di celana dalam. Namun, penelitian klinis yang secara khusus mengukur efek cairan vagina terhadap berbagai pewarna tekstil masih terbatas. Jadi, perubahan warna kain tidak dapat digunakan sebagai tes untuk mengetahui pH atau kesehatan vagina.

  2. Noda kekuningan belum tentu tanda infeksi

    Seseorang memegang ilustrasi anatomi organ reproduksi perempuan berwarna merah muda di depan area perut.
    ilustrasi organ reproduksi perempuan (magnific.com/magnific)

    Warna yang terlihat pada celana dalam juga tidak selalu sama dengan warna cairan ketika baru keluar.

    Keputihan fisiologis umumnya bening, putih, atau krem. Yang perlu diperhatikan adalah seperti apa cairannya ketika masih segar, bukan cuma warna noda setelah berjam-jam berada dan mengering di kain. Perubahan warna, bau, jumlah, atau konsistensi dari kondisi yang biasanya dialami lebih perlu kamu perhatikan.

  3. Kapan noda keputihan perlu diwaspadai?

    Perhatikan gejala yang menyertai. Vaginosis bakterialis, misalnya, dapat menyebabkan keputihan tipis berwarna putih atau abu-abu dengan bau amis yang kuat. Pada kondisi ini, keseimbangan bakteri vagina berubah dan pH biasanya meningkat di atas 4,5.

    Sementara itu, trikomoniasis dapat menyebabkan cairan yang lebih banyak, tipis, berwarna putih, kekuningan hingga kehijauan dan berbau amis, terkadang disertai rasa gatal, terbakar, kemerahan, atau sakit ketika buang air kecil.

    Infeksi jamur atau kandidiasis vulvovaginal dapat menyebabkan cairan putih kental seperti dadih disertai gatal, kemerahan, pembengkakan, atau nyeri pada vulva. Kadar pH pada kandidiasis biasanya tetap normal, yakni kurang dari 4,5.

    Keputihan yang bercampur darah juga perlu diperhatikan apabila terjadi di luar siklus menstruasi. Servisitis atau peradangan leher rahim, misalnya, dapat menimbulkan keputihan abnormal serta perdarahan di antara menstruasi atau setelah berhubungan seksual.

  4. Jangan menebak-nebak sendiri

    Melihat noda berwarna kuning, putih, atau abu-abu di celana dalam saja tidak cukup untuk mendiagnosis penyebabnya. Bahkan, riwayat gejala saja sering tidak cukup untuk menentukan penyebab vaginitis. Pemeriksaan dan, jika diperlukan, tes laboratorium membantu membedakan vaginosis bakterialis, kandidiasis, trikomoniasis, servisitis, dan penyebab lainnya.

    Sebaiknya temui dokter jika keputihan berubah dari biasanya, berbau menyengat, berwarna hijau atau abu-abu, disertai gatal atau rasa terbakar, nyeri ketika berkemih atau berhubungan seksual, maupun mengalai perdarahan yang tidak semestinya.

    Kesimpulannya, keputihan yang meninggalkan noda di celana dalam tidak otomatis menandakan penyakit. Sekret vagina normal memang dapat meninggalkan residu ketika mengering, dan lingkungan vagina yang sehat secara alami bersifat asam. Yang lebih penting, perhatikan apakah keputihan ketika cairan keputihan mengalami perubahan warna, bau, tekstur, jumlah, atau disertai gejala lain.

    Referensi

    American College of Obstetricians and Gynecologists, “Is It Normal to Have Vaginal Discharge?,” diakses Agustus 2026.

    Deirdre E. O’Hanlon, Thomas R. Moench, and Richard A. Cone, “Vaginal pH and Microbicidal Lactic Acid When Lactobacilli Dominate the Microbiota,” PLOS ONE 8, no. 11 (2013): e80074, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0080074.

    Elizabeth A. Miller, DeAnna E. Beasley, Robert R. Dunn, and Elizabeth A. Archie, “Lactobacilli Dominance and Vaginal pH: Why Is the Human Vaginal Microbiome Unique?,” Frontiers in Microbiology 7 (2016): 1936, https://doi.org/10.3389/fmicb.2016.01936.

    Centers for Disease Control and Prevention (CDC), “About Bacterial Vaginosis (BV),” diakses Agustus 2026.

    CDC, “About Trichomoniasis,” diakses Agustus 2026.

    CDC, “Vulvovaginal Candidiasis,” STI Treatment Guidelines, diakses Agustus 2026.

    CDC, “Urethritis and Cervicitis,” STI Treatment Guidelines, diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More