Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Makan Makanan yang Sama, Kenapa Hanya Satu Orang Keracunan?

5 min read
Makan Makanan yang Sama, Kenapa Hanya Satu Orang Keracunan?
ilustrasi makanan katering bersama teman di kantor (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Kontaminasi tidak selalu merata; bagian makanan, jumlah yang dimakan, dan waktu konsumsi dapat membuat satu orang menerima paparan mikroorganisme atau racun lebih tinggi.
  • Respons tubuh berbeda-beda karena sistem imun, usia, kondisi kesehatan, obat penekan asam lambung, serta mikrobioma usus memengaruhi kemampuan melawan patogen.
  • Makanan terakhir belum tentu penyebab gejala; periksa medis bila diare berdarah, nyeri berat, demam tinggi, muntah terus-menerus, dehidrasi, atau keluhan tak membaik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah makan bersama beberapa orang, tetapi hanya satu yang kemudian mengalami mual, muntah, diare, atau sakit perut? Ini bisa bikin bingung, apalagi semua orang merasa menyantap makanan yang sama, pada waktu yang hampir bersamaan.

Namun, makanan yang sama tidak selalu berarti jumlah kontaminan yang masuk ke tubuh juga sama.

Selain itu, setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda sehingga respons terhadap bakteri, virus, parasit, maupun racun dalam makanan bisa tidak sama.

Lantas, dalam konteks di atas, mengapa satu orang bisa keracunan makanan sementara orang lain baik-baik saja?

  1. 1. Kontaminasi makanan tidak selalu tersebar merata

    Satu porsi makanan belum tentu mengandung jumlah mikroorganisme atau racun yang sama dengan porsi lainnya. Kontaminasi bisa terkonsentrasi di bagian tertentu.

    Misalnya, bakteri mungkin lebih banyak terkumpul pada bagian ayam yang kurang matang, salad yang terlalu lama berada dalam suhu ruang, atau saus yang terkontaminasi. Orang yang mendapatkan bagian tersebut bisa menerima paparan lebih banyak.

    Jumlah makanan yang dikonsumsi juga dapat berpengaruh. Makin banyak makanan yang terkontaminasi dikonsumsi, makin besar pula kemungkinan seseorang mendapatkan jumlah mikroorganisme yang cukup untuk menyebabkan penyakit.

    Waktu makan juga bisa menjadi faktor. Jika makanan dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama, beberapa jenis bakteri dapat berkembang biak. Akibatnya, orang yang makan belakangan mungkin menerima paparan yang lebih tinggi dibanding orang yang menyantapnya lebih awal.

  2. 2. Kondisi sistem imun setiap orang berbeda

    Ketika seseorang mengonsumsi sejumlah kecil patogen, sistem imun mungkin mampu mengatasinya sebelum muncul gejala.

    Namun, kemampuan tersebut tidak sama pada setiap orang. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah umumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit yang ditularkan melalui makanan.

    Kondisi kesehatan tertentu dan penggunaan obat yang menekan sistem imun juga dapat memengaruhi respons tubuh. Meski begitu, orang yang terlihat sehat pun tetap bisa mengalami keracunan jika jumlah patogen yang masuk cukup banyak atau jenis mikroorganismenya mampu menyebabkan penyakit dengan mudah.

    Riwayat paparan sebelumnya juga mungkin berperan. Sistem imun seseorang yang pernah berhadapan dengan mikroorganisme tertentu dapat memberikan respons yang berbeda dibandingkan dengan orang yang belum pernah terpapar.

    Faktor genetik juga dapat memengaruhi cara tubuh mengenali dan merespons mikroorganisme.

  3. 3. Asam lambung ikut menjadi pertahanan tubuh

    Ilustrasi perempuan memegangi perut sambil merasa mual dan tidak nyaman akibat keracunan makanan.
    ilustrasi perempuan mengalami keracunan makanan (magnific.com/benzoix)

    Asam lambung merupakan salah satu mekanisme pertahanan alami tubuh terhadap mikroorganisme yang ikut tertelan bersama makanan.

    Keasaman lambung dapat membunuh atau menghambat sebagian mikroorganisme sebelum mencapai saluran pencernaan berikutnya. Namun, tingkat keasaman lambung dapat berbeda antarindividu.

    Penggunaan obat tertentu juga dapat mengurangi produksi asam lambung. Obat penekan asam yang digunakan untuk mengatasi gangguan seperti heartburn atau refluks, misalnya, dapat membuat sebagian mikroorganisme lebih mudah bertahan melewati lambung. Karena itu, dua orang yang mengonsumsi makanan dengan kontaminasi serupa belum tentu mengalami efek yang sama.

  4. 4. Ada peran bakteri baik di usus

    Selain sistem imun dan asam lambung, kondisi mikrobioma usus dapat memengaruhi respons tubuh terhadap mikroorganisme penyebab penyakit.

    Mikrobioma merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan. Bakteri yang ada di dalamnya dapat membantu mengisi ruang dan bersaing mendapatkan nutrisi sehingga mikroorganisme berbahaya lebih sulit berkembang.

    Komposisi mikrobioma setiap orang tidak sepenuhnya sama. Pola makan, penggunaan obat, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor lain dapat memengaruhinya. Perbedaan ini mungkin ikut menjelaskan mengapa respons seseorang terhadap patogen tertentu bisa berbeda dari orang lain yang mengonsumsi makanan yang sama.

  5. 5. Belum tentu makanan yang terakhir dimakan adalah penyebabnya

    Ketika hanya satu orang sakit setelah makan bersama, makanan yang disantap sebenarnya belum tentu menjadi penyebabnya. Gejala seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut juga dapat disebabkan oleh infeksi yang didapat dari tempat lain, efek samping obat, intoleransi makanan, kondisi pencernaan tertentu, hingga faktor lain yang tidak berhubungan dengan makanan tersebut.

    Waktu munculnya gejala juga dapat memberikan petunjuk. Beberapa jenis keracunan yang disebabkan oleh racun mikroorganisme dapat menimbulkan gejala dalam hitungan jam. Sementara itu, infeksi akibat mikroorganisme tertentu membutuhkan waktu lebih lama sebelum menimbulkan gejala.

  6. 6. Kapan perlu menemui dokter?

    ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita)
    ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita)

    Sebagian besar kasus keracunan makanan dapat membaik dengan istirahat dan mencukupi kebutuhan cairan. Namun, diare dan muntah yang terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan perlu mendapat perhatian, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

    Segera cari pertolongan medis jika muncul diare berdarah, nyeri perut yang berat, demam tinggi, muntah terus-menerus, tanda-tanda dehidrasi, atau gejala yang tidak kunjung membaik.

    Jadi, satu orang bisa keracunan makanan sementara orang lain yang menyantap menu sama tetap sehat karena respons tubuh terhadap paparan tidak selalu sama.

    Jumlah kontaminan dalam porsi makanan, banyaknya makanan yang dikonsumsi, asam lambung, mikrobioma usus, sistem imun, usia, kondisi kesehatan, hingga obat yang digunakan dapat memengaruhi hasil akhirnya.

    Referensi

    BBC. Diakses pada September 2026. "Why do Some People Get Food Poisoning More Easily than Others?"

    Huffpost. Diakses pada September 2026. "So That's Why Some People Get Food Poisoning And Others Don't."

    Liv Hospital. Diakses pada September 2026. "Why Does Only One Person Get Food Poisoning From the Same Meal?"

    Michigan State University. Diakses pada September 2026. "Why did My Friend Get Sick When I didn’t and We Ate the Same Food?"

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More